Mengutamakan Kejelasan Identitas Tauhid dalam Dakwah

share on:
Dakwah Tauhid

Istidlal.org – Dakwah Tauhid, haruslah mengedepankan kejelasan identitas dakwah, ketika kaum Quraisy menawarkan beliau untuk bergantian menyembah tuhan-tuhan mereka setahun, lalu mereka akan menyembah Allah setahun. Nabi SAW berkata:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2)

Katakanlah, “Hai orang-orang kafir!” Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” (Al-Kafirun: 1-2)

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (Ghafir: 14)

Kita wajib mendeklarasikan visi dan misi kita sejak langkah pertama. Tidak boleh berkamuflase di bawah bendera nasionalisme untuk menyampaikan agama kita kepada manusia. Tidak pula bersembunyi di dalam slogan-slogan Sekuler untuk memberikan manfaat bagi din kita, masuk organisasi sosialis supaya kita dapat menyampaikan dakwah kita, atau masuk yayasan-yayasan buatan manusia dengan asumsi cara semacam itu dapat membuat kita berkhidmat dalam iqomatuddin.

Visi dan misi yang terkontaminasi sejak awal akan menyesatkan jalan kita dan menyesatkan jalan manusia yang mengiktuinya. Padahal mereka tidak tahu apa yang mereka ikuti. Karena itu Rasulullah n sejak awal telah menyatakan misinya kepada kaum Quraisy, “Hendaknya kalian menyembah Allah, dan tidak ilah bagi kalian selain Allah.” Nabi SAW terus menerus mengingatkan kepada pengikutnya untuk memegang teguh prinsip tersebut, sejak dakwah dimulai sampai Beliau bertemu Rabbnya.

Beliau juga senantiasa mengingatkan supaya pengikutnya tidak meniru orang-orang kafir. Beliau bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa menyerupakan diri dengan suatu kaum, maka ia termasuk di antara mereka

Tatkala para sahabat mengajukan permintaan kepada beliau, “Buatkanlah kami anwath (yakni pohon yang dipakai oleh orang-orang jahiliyah untuk menggantungkan senjata) sebagaimana mereka,” Rasulullah SAW marah, lalu bersabda:

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ

Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (jejak) orang-orang sebelum kalian jengkal demi jengkal, hasta demi hasta, depa sehingga andai pun salah seorang di antara mereka masuk kedalam lubang biawak, kalian pun akan memasukinya.

Karena itu, Rasulullah SAW melarang kaum Muslimin meniru-niru orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang kafir dalam hal ibadah, pakaian, dan tunggangan. Jika Anda mau, maka bacalah kitab “Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim fi Mukhalafati Ashhabu Al-Jahim”, karangan Imam Ibnu Taimiyah. (Kitab ini memberi penjelasan gamblang mengenai tasyabbuh atau sikap meniru gaya orang kafir yang haram hukumnya—edt).

Allah telah memberi batasan kepada umat Islam mengenai apa yang bisa menjadi penopang agama ini. Dan hanya aqidahlah penopangnya. Aqidah adalah kebangsaan umat Islam, Darul islam adalah tanah airnya, Allah sebagai penguasa tunggal dan Al-Qur’an sebagai undang-undangnya. Penggambaran tentang tanah air, kebangsaan, dan kekeluargaan yang amat tinggi inilah yang mesti tertanam dalam jiwa para da’i ilallah, para pendakwah menuju agama Allah. Dengan begini, segalanya menjadi jelas.

Dakwah tidak tersusupi syirik khofiyah (syirik yang tersembunyi). Syirik dengan bumi, syirik dengan kebangsaan, syirik dengan kerakyatan, syirik dengan nasab/keturunan, syirik dengan manfaat-manfaat sepele yang telah berhasil diraih.

Rasulullah SAW telah menyatakan dengan tegas perihal qaumiyah atau nasionalisme: “Tinggalkanlah ashobiyah (baca:nasionalisme), karena sesungguhnya ia adalah sesuatu yang busuk baunya.” Sesuatu yang menebarkan bau yang memuakkan. Maka beliau berkata kepada mereka yang mengucapkan katakata busuk lagi sia-sia itu:

Hendaklah kaum yang membanggakan nenek moyang mereka itu menghentikan (perbuatannya) atau mereka itu menjadi kaum yang lebih hina di hadapan Allah daripada seekor gambreng.”

Gambreng adalah serangga kecil yang kebiasaannya menggelindingkan kotoran (manusia/binatang lain) dengan ujung tanduknya. Ini perumpamaan untuk orang-orang Sekuler dan orang-orang atheis. Mereka itu serupa dengan gambreng-gambreng yang teronggok di tong-tong kotoran kebangsaan. Wallahu a’lam bissowab [Ibnu Rodja].

share on: