Menyebut Bencana Alam dengan Adzab, Pantaskah?

share on:
Menyebut Bencana Alam dengan Adzab Pantaskah-istidlal.org

Setiap kali terjadi bencana alam, tulisan-tulisan bernada muhasabah yang mengingatkan bahwa bencana adalah “adzab” berseliweran. Kemaksiatan penduduk yang tertimpa bencana pun terulik. Mulai dari merebaknya LGBT, zina, khamr dan maksiat-maksiat lain. Lalu, narasi-narasi ini dikonter oleh narasi-narasi yang menyatakan, tidak perlu mengaitkan bencana alam dengan adzab.

Selain tidak logis, hal tersebut juga dipandang tidak beretika. Bukannya berempati pada para korban, narasi-narasi seperti itu malah terkesan menuduh para korban bencana sebagai pelaku maksiat hingga layak mendapat adzab.

Jika memang itu adzab, kenapa pantai-pantai Hawai dan pantai lain yang lebih parah maksiatnya justru aman-aman saja? Bencana alam tak lain hanyalah fenomena alam dan siklus semesta yang memang sudah menjadi keniscayaan, tidak ada hubungannya dengan perilaku keberagamaan manusia.

Polemik semacam ini menarik untuk direnungkan, bagaimana sebenarnya sikap yang pas dalam menyikapi bencana alam? Pantaskah mengait-kaitkan bencana alam dengan adzab? Dan apakah benar bahwa bencana alam tidak ada hubungannya dengan perilaku beragama manusia, atau lebih spesifik, dosa-dosa relijius manusia?

Baca juga: Khutbah Jumat: Teladan Rasulullah dalam Memahami Bencana Alam

Hal pertama yang seharusnya kita sepakati adalah bahwa sebagai muslim, kita harus memandang segala sesuatu dengan kacamata Islam. Bagaimana Islam memandang dan mengarahkan sudut perspepsi serta penyikapan yang baik terhadap fenomena alam berupa bencana?

Soal ini, al-Quran dengan jelas memberikan konsepnya berupa “innalillahi wa inna ilaihi rajiun“. Allah berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّـهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali).” (QS. Al-Baqarah: 156)

Arahannya jelas. Jika ada musibah, seorang mukmin harus mengembalikan semuanya kepada Allah.  Apa yang perlu dikembalikan kepada Allah?

Pertama, sudut pandang terhadap bencana alam

Setelah mengucapkan kalimat istirja’ yang mengungkapkan kepasrahan ini, kita harus mengembalikan pikiran, hati serta persepsi atas bencana yang terjadi kepada Allah. Yaitu bahwa kita, para manusia yang jadi korban bencana dan juga yang tidak menjadi korban adalah milik Allah. Allah pemilik mutlak, berhak mengambil kapan saja, siapa saja, di mana saja. Pada akhirnya, manusia akan kembali pada-Nya, baik dengan bencana maupun mati biasa.

Selain kita, alam yang memunculkan bencana juga milik Allah. Bumi yang bergetar dan merobohkan bangunan, gunung yang menghujani manusia dengan batu dan merusak tanaman, juga laut yang mengirim Tsunami yang meluluh-lantakkan, segalanya juga milik Allah.

Baca juga: Nasionalisme Buta, Ketika Negara Dipertuhankan

Benda-benda itu bergerak maupun diam, semua atas kehendak-Nya. Mereka bukan makhluk tanpa kendali yang bisa seenaknya kirim bencana dan menimbulkan kematian. Tak seperti manusia yang diberi pilihan taat atau menentang perintah-Nya, makhluk-makhluk itu tak punya kehendak selain menjalankan kehendak-Nya.

Jadi, musibah berupa bencana alam terjadi atas kehendak Allah. Jika seorang muslim bertanya, mengapa terjadi bencana dan menimpa manusia? dia akan bertanya mengapa Allah mengirim musibah bencana ini? lalu, iman dalam dirinya yang mengakui bahwa alam semesta ini milik Allah, akan menolak cara pandang dangkal bahwa bencana hanyalah fenomena alam belaka yang tidak ada hubungannya dengan Allah, penerapan syariat-Nya dan umat manusia sebagai pelaksananya (mukallaf).

Alam tidak bergerak sendiri. Allah tidak mengirim bencana alam sekadar sebagai pemenuhan siklus alam. Sekadar karena sedang ingin membunuh manusia. Di dalam al-Quran disebutkan, segala musibah yang menimpa manusia adalah karena kesalahan manusia. Sebaliknya, jika manusia taat, Allah menegaskan akan menurunkan barakah dan kesejahteraan dari langit.

Baca juga: Kalimat Tegas Hasan Al-Bashri kepada Penguasa

Sementara itu, kesalahan manusia yang dianggap serius oleh Allah bukanlah sekadar membuang sampah sembarangan atau menggunduli hutan tanpa reboisasi. Bencana alam terjadi tidak selalu karena dosa-dosa logis yang diperbuat manusia berupa perusakan alam. Banyak bencana yang memang murni karena kehendak-Nya meski tanpa sebab kauni yang kasat mata. Contohnya, gunung tidak meletus karena pohonnya digunduli, tsunami juga tidak terjadi karena manusia sering buang sampah di laut.

Kesalahan manusia yang dianggap serius hingga bisa membuat Allah murka lalu mengirim bencana adalah dosa-dosa yang telah tertera pada ayat-ayat-Nya. Dosa-dosa tersebut secara empiris telah terbukti nyata membuat Sang Pencipta menghukum manusia dengan menimpakan bencana alam mematikan. Seluruh pelaku maksiat dan pembangkang dakwah Nabi jaman dahulu, selain Nabi Muhammad, hampir semuanya tewas dibunuh bencana alam.

Dengan ini, sudah tepat  kiranya jika seorang muslim mengintrospeksi dan mewaspadai setiap bencana alam sebagai murka dan adzab-Nya. Dan karena murka-Nya tidak turun tanpa sebab, wajar pula jika seorang muslim kemudian mencoba mawas diri, kesalahan apa yang membuat Sang Pencipta sedemikian murka? lebih tepatnya, dosa apa yang telah dilakukan manusia yang menyebabkan semua ini?

Baca juga: Khutbah Jumat: Muslim Uighur Menjerit, Kita Bisa Apa?

Kemudian dengan jujur, hati mencoba mengevaluasi dosa-dosa yang dilakukan diri maupun masyarakat yang tertimpa bencana. Jika menemukan beberapa fakta pelanggaran syariat yang dapat diasumsikan sebagai penyebab bencana, hal itu dijadikan pelajaran berharga agar jangan sampai terulang lagi. Jika tidak ditemukan, maka hati menyimpulkan bahwa sesuatu yang tidak bisa ditemukan belum tentu tidak ada. Boleh jadi Allah menutupinya, atau waktu yang akan membuktikannya.

Apakah evaluasi semacam itu pantas, padahal para korban sedang bersedih karena terluka dan kehilangan? Nah, ini masuk pada poin kedua dari konsep inna lillahi wa inna ilaihi rajiun yaitu penyikapan.

Kedua, penyikapan terhadap bencana alam

Selain persepsi dalam melihat bencana dan musibah, Allah juga telah mengajarkan cara menyikapi musibah dan bencana. Bagi korban bencana, sabar adalah kunci dan cara yang paling benar dalam menghadapi bencana yang menimpa. Kehilangan orang yang dicinta, rumah dan isinya, juga penghidupan dan kehidupan semula haruslah disikapi dengan sabar, yaitu dikembalikan kepada Allah. Semua milik-Nya, kita hanya dititipi sementara. Dititipi anak yang tercinta, dititipi orang tua yang mencinta, dititipi harta dan kehidupan sekitarnya, semua hanya untuk sementara.  Protes dan murka akan takdir-Nya tidak akan mengembalikan semua dan hanya membuat hati semakin terluka.

Sabar akan menumbuhkan optimisme bahwa semua ada hikmahnya dan kehilangan segalanya bukanlah akhir segalanya.  Allah masih mengaruniakan kehidupan di mana itu berarti Allah masih memberi kesempatan bagi kita untuk mengambil pelajaran dan berharap mendapat kebaikan yang lebih banyak dari yang telah hilang.

Di sisi lain, bencana yang menimpa orang beriman yang shalih tak lain adalah ujian bagi imannya. Bukankah iman memang akan diuji?

Baca juga: Dalil-Dalil Syar’i Tentang Wajibnya Mendirikan Khilafah

Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Dan bukankah bentuk sabar adalah mengembalikan semua kepada Allah saat terjadi musibah (QS. Al-Baqarah: 156)?

Adapun sebagai orang lain yang bukan korban bencana, sikapnya juga sama yaitu mengembalikan kepada Allah. Pertama, bersyukur karena tidak termasuk jajaran korban bencana. Padahal jika Allah berkehendak, bisa jadi yang sedang diangkat menjadi mayat oleh relawan orang yang kini sedang menyaksikan. Kedua, mendoakan agar korban mendapat kesabaran dan ketabahan juga ganti yang lebih baik dari Allah.

Bagaimana dengan evaluasi yang mengaitkan musibah dengan adzab seperti disebut di atas? Evaluasi semacam itu penting bahkan bisa dibilang harus diekspos untuk menyadarkan umat akan substansi dari sebuah musibah. Yaitu mengembalikan mereka pada “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun“.

Pantas dan tidak pantas itu seringnya hanya soal waktu, tempat dan cara. Waktunya, usahakan jangan langsung menyebar konten dan nasihat semacam itu di saat para korban masih menjerit sedih dan bingung.

Mengingatkan mereka bahwa bencana tersebut adalah adzab tidak akan membuat mereka sadar diri malah bisa jadi antipati. Pasalnya, bisa jadi tidak semua dari mereka adalah pelaku dosa pemicunya.

Konten-konten yang disebarkan seharusnya adalah konten-konten simpatik berupa doa dan motivatif. Baru jika kondisi sudah mulai tenang, evaluasi dan dakwah serta evaluasi bahwa bencana ini karena kesalahan manusia dapat dilakukan.

Baca juga: Imam Al-Auza’i, Sebuah Pelajaran Ketegasan di Hadapan Penguasa

Atau soal tempat, konten-konten semacam itu bisa langsung disampaikan saat terjadi bencana, tapi tidak di tempat terjadinya bencana. Di tempat lain, dengan tetap menjaga pilihan kata agar jangan sampai terkesan merendahkan para korban meskipun mereka memang pelaku maksiat, misalnya. Cukuplah dengan kalimat-kalimat evaluatif, dari sudut pandang diri dan untuk diri sendiri, sebagai pelajaran dari sesuatu yang  menimpa orang lain.

Atau soal cara. Tidak masalah mengingatkan bencana dengan adzab asal caranya juga baik, benar dan tepat. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sendiri ketika terjadi gempa langsung marah dan menyatakan bahwa ada dosa yang dilakukan penduduk Madinah yang membuat Allah menggetarkan bumi.

Bagi penduduk Madinah di zaman Umar, kata-kata Umar itu tepat dan bisa dipahami dengan baik. Level keislaman mereka rata-rata sudah sangat bisa memahami konten itu dengan baik. Adapun bagi kita saat ini, haruslah mempertimbangkan banyak sisi. Pilihan diksi harus dijaga agar tidak terkesan menghakimi, memakai sudut pandang diri sendiri dan tidak terkesan memvonis.

Jadi, apakah pantas “Menyebut Bencana Alam dengan Adzab“? Pantas dengan syarat dan ketentuan berlaku. Dan bagaimana soal pantai Hawai dan pantai yang lebih buruk tapi tidak terkena bencana?

Allah berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)

Adzab yang turun erat kaitannya dengan sikap ngeyel dan membangkang umat manusia, bukan semata karena pelanggaran syariat-Nya. Umat terdahulu diadzab karena tetap ngeyel setelah diberi peringatan berkali-kali oleh para Nabi.

Baca juga: Salah Kaprah Memahami Qoulan Layyina Musa kepada Fir’aun

Nah, kita bisa lihat, seberapa intens dakwah dan peringatan bergema di Hawai dan didengar para pengunjung Hawai atau pantai-pantai lain tempat berjemur telanjang para wisatawan? Jika belum ada, boleh jadi Allah menunda dan memberi kesempatan bagi umat Islam untuk memperingati dan menyampaikan dakwah kepada mereka.

Adapun di negeri kita yang mayoritas muslim, kajian Islam menjamur di mana-mana, peringatan para dai bahwa musibah bisa menimpa jika tak menaati perintah-Nya tersebar ke mana-mana. Kok masih ada yang ngeyel dan malah gigih menyebarkan virus LGBT, misalnya, sangat logis jika bencana melanda.

Hal lain, tidak adanya adzab di suatu tempat bukan berarti bahwa perilaku penduduknya pasti benar dan suatu saat tidak adzab. Semua hanya soal waktu.

Adzab sendiri juga bukan cuma bencana alam. Berpalingnya Allah dari manusia dengan tidak memberi peringatan berupa bencana juga tidak memberi petunjuk menuju cahaya-Nya adalah adzab yang jauh lebih mengerikan daripada gempa dan tsunami.

Apalagi yang bisa diharapkan oleh manusia yang ditinggalkan Rabb-Nya dan tidak lagi dipedulikan-Nya?

Wallahua’lam. Semoga Allah menjauhkan kita dari murka-Nya, menjadikan kita orang-orang yang mudah bertobat dan diterima tobatnya, serta memberi kesabaran bagi saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Semoga Allah mengganti kesabaran mereka degan pahala dan ganti dunia. Aamiin. (Mohamad Saitama/istidlal.org)

share on: