Menyelaraskan antara Amal yang Tampak dan Tersembunyi

share on:
Lampu

Istidlal.org – Amal seseorang itu tidak akan bermanfaat sedikit pun, kecuali jika dilaksanakan dengan shiddiq (benar). Sebab, Allah tidak menerima satu perbuatan melainkan jika perbuatan itu shiddiq.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)

Berkata Fudlail bin ‘Iyadl: ”Ahsanu ‘amalan,” maknanya adalah “ashwabuhu wa akhlashuhu.” Akhlashuhu artinya bersih dari riya’ dan ashwabuhu artinya benar, ash-shawab maksudnya sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW yang telah dibawa oleh Jibril dari sisi Rabbul ‘Alamin (Al-Qur’an).

Tanpa ash-shidqu, maka urusan kita tidak akan bisa tegak dan kita tidak akan mampu mempertahankan keteguhan tekad. Dan pada gilirannya akan berakhir dengan kesia-siaan dan kegagalan belaka. Berapa banyak terjadi, manusia yang biasa berkhutbah di mimbar-mimbar, yang dikaruniai Allah “Jawami’ul kalam.” Perkataan mereka membuat kamu terkagum-kagum, mereka pandai bersilat lidah terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan hati mereka. Sementara orang-orang banyak berkumpul di sekelilingnya karena terpesona. Namun saya menenangkan hati saya bahwa perkara itu tidak akan bertahan lama, karena buih selamanya tidak akan mapan di muka bumi.

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ

Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap (mapan) di bumi.” (Ar-Ra’ad: 17)

Tidak akan hidup di bumi dan tidak akan bertahan terus-menerus kecuali kebenaran. Keburukan itu tidak mempunyai akar yang kokoh di bumi dan ia tidak mempunyai kekekalan dalam kehidupan.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ () تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ()وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (Ibrahim: 24-26)

Sesungguhnya keburukan itu tidak akan dapat berjalan beriringan dengan fitrah manusia. Ia tidak dapat menancapkan akar-akarnya ke dalam hati. Sesungguhnya ia hanyalah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba dan hanya tinggal sementara serta cepat hilangnya. Seperti hilangnya bisul dari kulit ketika pecah. Sesungguhnya, ia ibarat nanah, begitu tubuh dapat mengatasinya, ia akan hilang dengan segera.

Adapun al-haq (kebenaran), ia akan senantiasa teguh, menancap kuat dan dalam serta terus berlanjut sampai bertemu Allahk. Karena Allah, Dialah Yang Maha Haq, tidak akan menolong kecuali al-haq dan Dia tidak mengekalkan kecuali al-haq. Dan Din-Nya itulah al-haq (kebenaran).

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil.” (Al-Hajj: 62)

Allah SWT berfirman:

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.” (Al-Maidah: 100)

Adapun yang buruk itu akan ditumpuk oleh Rabbul ‘Izzati kemudian dilemparkan ke neraka jahanam dan para pengikut keburukan akan menjadi orang-orang yang merugi.

Maka hari-hari pun berlalu. Peristiwa demi peristiwa terjadi. Pasti akan terbukti apa yang pernah dibisikkan kata hatiku, bahwa buih itu tidak akan hidup. Buih itu tidak akan terus ada. Keburukan pada gilirannya akan lenyap dengan cepat oleh tiupan angin dari selatan ke utara.

Karena itu, orang-orang salaf, semoga Allah meridai mereka semua,sangat senantiasa berpegang kepada al-haq meskipun pahit. Mereka ingin menjunjung kebenaran itu meskipun berat, mereka sangat berambisi menyelaraskan dan menyesuaikan antara lahir dengan batin mereka, meskipun hal tersebut merupakan perkara yang sangat berat dan sangat sulit. Masing-masing beramal dan berusaha dengan sangat agar amal-amalnya itu hanyalah antara dirinya dan Allah, tak seorang pun manusia yang ia biarkan melihat. Jika orang-orang melihat ibadahnya, maka cepat-cepat ia meninggalkan tempatnya dan bersembunyi di antara orang-orang awam.

Adapun Imam Ahmad –rahimahullah– , apabila berjalan di jalan raya, maka beliau berjalan di antara dua orang kuli angkut barang sehingga dirinya tidak dapat ditunjuk dengan jari tangan. Orang-orang pun menyangkanya bahwa ia kuli angkut barang dan mereka tidak menunjukinya dengan jari tangan. Adalah seseorang di antara mereka jika masuk ke medan pertempuran atau ketika membawa ghanimah yang banyak, mereka menutup mukanya dengan kain cadar dan kemudian meletakkan ghanimah tersebut sehingga orang-orang tidak mengetahui namanya.

Dikisahkan tentang seorang yang menggunakan penutup wajah pada waktu Panglima Maslamah bin ‘Abdul Malik mengepung sebuah benteng musuh dalam waktu yang cukup lama. Pada suatu malam seorang mujahidin berangkat dengan sembunyi-sembunyi dan kemudian memanjat benteng tersebut.

Ia meloncat turun ke arah penjaga-penjaga benteng dan membunuhnya. Kemudian dia membuka pintu gerbang tersebut, segera pasukan Islam masuk dan menguasai benteng tersebut. Maslamah memanggil-manggil lama sekali, “Siapakah di antara kalian yang berpenutup wajah tadi?” Tak seorang pun maju menghadapnya.

Di malam yang lain, seorang berpenutup muka masuk ke kemah Maslamah dan berkata, “Inginkah kamu mengetahui orang yang berpenutup muka itu?” “Ya benar,” jawabnya.

Orang tersebut berkata, “Dengan syarat, jangan engkau beritahukan namanya kepada seorang pun, dan jangan memberi hadiah maupun ganjaran.” “Ya, saya bersedia,” jawabnya.

Maka orang tersebut berkata, “Sayalah orang yang memakai penutup muka itu.” Dia tidak menyebutkan namanya dan kemudian lari menghilang. Lalu sesudah itu, setiap kali Maslamah menghadap ke arah kiblat, maka dia memanjatkan doa, “Ya Allah, kumpulkanlah aku bersama orang yang menggunakan penutup muka!”[Ibnu Rodja]

share on: