Mizan Takwa Sebagai Parameter Menilai Manusia

share on:
takwa

Istidlal.org – Di zaman modern ini, ada berbagai cara untuk menilai manusia. Ada yang dinilai karena ijazahnya, ada yang dihargai karena hartanya, ada yang dihargai karena prestasi dunianya. Sedangkan Islam memiliki pola penilian yang lain, yaitu menjadikan takwa sebagai mizan seseorang. Hal ini dapat kita lihat dari potret sejarah Rasul dan para salaf.

Ketika datang beberapa pembesar Quraisy kepada Rasulullah, mereka mengajukan usul untuk membatasi majelis bersama mereka saja. Mereka meminta Rasul tidak bermajelis bersama para budak—maksudnya Bilal, ‘Ammar, Shuhaib dan Salman— Allah berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Artinya, “Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Bilal dan Shuhaib pernah bertemu Abu Sufyan, dedengkot Quraisy. Bilal pun berujar, “Demi Allah, pedang-pedang Allah belum sedikit pun menghantam musuh-musuh Allah.” (Mereka mengucapkan ini ketika Abu Sufyan masih belum masuk Islam). Mendengar hal tersebut, maka Abu Bakar berkata kepada mereka (Bilal dan Shuhaib), “Apakah kalian mengatakan ini kepada pembesar Quraisy dan pemimpin mereka?”

Para ulama menjelaskan bahwa ucapan Abu Bakar ini agar Abu Sufyan mendengar hal yang baik sehingga dia masuk Islam. Abu Bakar pun menemui Rasulullah –Shollallahu alaihi wa sallam–  serta menyampaikan aduan Abu Sufyan itu kepada Rasulullah –Shollallahu alaihi wa sallam-. Lantas beliau bersabda:

يا أبا بكر، لعلك أغضبتَهم، لئن كنتَ أغضبتهم لقد أغضبت ربهم

Artinya, “Wahai Abu Bakar, boleh jadi kamu sudah membuat mereka marah. Sungguh jika kamu membuat mereka marah berarti kamu sudah membuat marah Rabbmu.

Demi Allah, Bilal yang dahulunya dijual dengan harga lebih rendah dari harga sebuah meja, lantas naik ke suatu posisi, di mana jika ia marah, Rabbul ‘Izzati pun marah. Mizan (parameter) yang dipakai Rasulullah –Shollallahu alaihi wa sallam- ini dipergunakan pula oleh para sahabatnya.

Pada masa kekhalifahannya, Umar memberikan tunjangan dari Baitul Mal kepada Usamah bin Zaid jauh lebih banyak daripada anaknya sendiri Abdullah bin Umar. Lantas Abdullah memprotes kebijaksanaan ayahnya, “Wahai ayah mengapa engkau memberikan Usamah lebih banyak daripada aku?” Umar berkata, “Dahulu ayahnya lebih dicintai Rasulullah –Shollallahu alaihi wa sallam- daripada ayahmu. Dan dia sendiri lebih dicintai Rasulullah –Shollallahu alaihi wa sallam- daripada engkau. Karena itu aku tidak menyamakanmu dengannya dalam pemberian.”

Karena itu ketika Suhail bin ‘Amru dan Abu Sufyan berdiri di muka pintu rumah Umar bersamaan Bilal. Bilal dipersilakan masuk sedangkan mereka berdua tidak. Lalu Abu Sufyan marah dan mengomel, “Aku tidak pernah merasakan hari seperti hari ini sekali pun! Kita mengetuk pintu rumah Umar, malah yang diizinkan masuk budak-budak jelata itu!”

Suhail berkata dengan tenang, “Janganlah engkau marah, mereka dulu didakwahi kita pun didakwahi, tetapi mereka menerima dengan segera sedangkan kita berlambat-lambat menerimanya.”

Ketika Umar duduk dalam suatu majelis, sementara Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam dan Suhail bin ‘Amru berada di sampingnya, datanglah sejumlah orang dari golongan muhajirin. Umar lalu menjauhkan tempat duduk Suhail dan Abdurrahman dari posisi duduknya. Kemudian datang lagi sejumlah orang dari golongan Anshar, lalu Umar menjauhkan tempat duduk kedua orang tersebut dari posisi duduknya. Maka demikianlah mereka terus dijauhkan sehingga menempati posisi akhir dalam majelis tersebut. Abu Sufyan dan Abdurrahman benar-benar sakit hati dibuatnya, lalu mereka berdua berkata, “Wahai Amirul Mu’minim, kami telah melihat apa yang engkau perbuat kepada kami. Lalu apakah ada jalan bagi kami untuk mengejar ketertinggalan kami dari mereka ?” Umar menjawab, “Aku tidak melihat jalan lain bagi kalian kecuali kalian pergi ke sana—Umar menunjuk ke arah Syam-. Maka keduanya pun berangkat menuju peperangan Yarmuk. [Ibnu Rodja]

share on: