Mungkinkah Terjadi Jahiliyah Pada Era Milenial?

share on:
Kota New York

Istidlal.org – Era jahiliyah total telah berakhir dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW membawa syariat Islam. Islam menerangi kegelapan zaman jahiliyah dengan wahyu. Era keterbelakangan manusia dari petunjuk ilahi berakhir, berganti dengan era Islam yang terang benderang. Namun begitu, masih ada sudut-sudut yang senantiasa gelap karena ada sesatu yang menghalangi pelita wahyu menerangi. Kegelapan ini ada hingga kini bahkan sampai masa yang akan datang.

Ibnu Taimiyah berkata :

فالناس قبل مبعث الرسول صلى الله عليه وسلم كانوا في حال جاهلية منسوبة إلى الجهل ، فإن ما كانوا عليه من الأقوال والأعمال إنما أحدثه لهم جاهل ، وإنما يفعله جاهل. وكذلك كل ما يخالف ما جاءت به المرسلون من يهودية ، ونصرانية : فهي جاهلية ، وتلك كانت الجاهلية العامة ، فأما بعد مبعث الرسول صلى الله عليه وسلم قد تكون في مصر دون مصر – كما هي في دار الكفار – ، وقد تكون في شخص دون شخص ، كالرجل قبل أن يسلم فإنه في جاهلية وإن كان في دار الإسلام .

Artinya, “Manusia sebelum diutusnya Rasul SAW mereka dalam kondisi Jahiliyah. Sebuah kata yang disandarkan kepada kata “jahl” (bodoh). Karena segala sesuatu, baik perkataan maupun perbuatan yang mereka lakukan dibuat oleh orang bodoh dan dikerjakan oleh orang bodoh. Begitu juga dengan segala sesuatu yang menyelisihi ajaran para Rasul, baik itu ajaran Yahudi, maupun Nasrani maka itu adalah Jahiliyah. Itulah yang dimaksud dengan Jahiliyah Ammah. Adapun setelah diutusnya Rasul SAW maka Jahiliyyah itu mungkin terjadi di satu daerah sedangkan di daerah lainnya tidak (sebagaimana terjadi di negeri kafir), bisa juga terjadi pada individu, seperti pada seseorang sebelum dia masuk Islam. Sebelum masuk Islam dia berada pada Jahiliyah meskipun dia tinggal di negeri Islam.

Dari pemaparan Ibnu Taimiyah di atas, dapat disimpulkan bahwa Jahiliyah total sudah tidak ada. Karena Jahiliyah total sudah hilang dengan diutusnya Rasulullah SAW. Namun, Ibnu Taimiyah tidak menafikan akan adanya Jahiliyah-jahiliyah yang terjadi pasca diutusnya Rasul.

Senada dengan ini, Ustadz Muhammad Qutb mendefinisikan bahwa kondisi tata kelola masyarakat  yang keluar dari tuntunan wahyu bisa disebut sebagai perkara Jahiliyah. Kondisi itu bisa terjadi di masa lalu, sekarang atau di masa depan.

Baca Juga : https://www.istidlal.org/2018/05/13/masyarakat-jahiliyah-sistem-kehidupan/masyarakat-jahiliyah-ketika-wahyu-tidak-menata-sistem-kehidupan-istidlalorg/

Oleh karenanya sangat memungkinkan sekali terjadinya Jahiliyyah yang bersifat parsial di manapun dan kapanpun. Hal ini dikuatkan oleh beberapa argumentasi berikut ini :

Pertama : Hadits Tentang Keterasingan Islam

Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( بَدَأَ الإِسْلامُ غَرِيبًا ، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ)

Artinya, “Dari Abu Hurairoh ra, berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Islam mulai dalam kondisi asing dan akan kembali asing seperti permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR Muslim)

Imam An-Nawawi berkata :

أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ

Artinya, “Sesungguhnya Islam dimulai dari beberapa gelintir orang dan jumlahnya sedikit. Kemudian Islam menyebar dan menang. Setelah itu muncullah beberapa kekurangan hingga Islam hanya dipegang lagi oleh beberapa gelintir orang dan sedikit.

As-Sindi dalam Hasyiyah Ibnu Majah berkata :

(غَرِيبًا) أَيْ لِقِلَّةِ أَهْله وَأَصْل الْغَرِيب الْبَعِيد مِنْ الْوَطَن ( وَسَيَعُودُ غَرِيبًا ) بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرًا

Artinya, “Asing (saat muncul pertama kali) karena sedikit yang memeluknya. Asal kata dari gharib (asing) adalah jauh dari tanah kelahiran. (Akan kembali asing seperti awal munculnya) karena sedikitnya orang yang menegakkan dan menolong Islam, meskipun orang Islam jumlahnya banyak.”

Melihat dua kutipan di atas, jika bukan Islam yang mengisi hidup manusia, tentunya lawan dari Islam. Kalau bukan wahyu yang mengatur hidup manusia maka hawa nafsu manusialah yang mengatur, dan ini adalah kondisi Jahiliyah.

Kedua : Mengikuti Orang-orang Terdahulu

Rasulullah SAW bersabda :

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ» . قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ:َمَنْ؟ (متفق عليه)

Artinya, “Kalian akan mengikuti sunnah (ajaran, kebiasaan dan adat istiadat) orang-orang sebelum kalian. Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan jika mereka masuk ke dalam lubang biawak niscaya kalian akan mengikutinya. Kami bertanya, Wahai Rasulullah SAW, “Apakah Yahudi dan Nashroni yang engkau maksud? Beliau menjawab, “Kalau bukan mereka siapa lagi? (HR Muttafaqun alaih)

Hadits di atas adalah keniscayaan dan secara fakta kita juga menemukan adanya umat Islam yang mengikuti sunnah Jahiliyah Yahudi, Nasrani bahkan kaum musyrik secara umum. Hal ini mengindikasikan adanya Jahiliyah yang bersifat parsial terjadi pada umat Islam.

Ketiga : Hadits-hadits Tentang Perkara Jahliyah.

Rasulullah SAW pernah menegur Abu Dzar ra dengan berkata, “Sesungguhnya pada dirimu ada kejahiliyahan.” Rasul berkata seperti itu lantaran Abu Dzar memanggil seorang sahabat dengan nada merendahkan.

Dalam kasus lain ketika Yahudi dan kaum munafiq mencoba memprovokasi dan mengingatkan suku Aus dan Khazraj tentang perang Buwats (yaitu perang yang terjadi antara Aus dan Khazraj 3 tahun sebelum hijrah Nabi). Provokasi itu berhasi menyulut fanatisme kesukuan (baca : kebangsaan) antara Aus dan Khazraj, sampai mereka ingin berperang satu sama lain.

Hal ini sampai kepada Rasulullah SAW dan beliau berkata, “Apakah dengan seruan-seruan Jahiliyah (kalian berperang)? Padahal ada aku di tengah-tengah kalian?.

Di hadits lain, Rasulullah SAW bersabda, “Ada 4 hal dari perkara Jahiliyah yang mereka sulit meninggalkannya. Berbangga-bangga dengan kedudukan, mencela karena nasab, meminta hujan melalui perantara bintang dan meratapi mayit.” (HR Muslim)

Ketiga hadits di atas menjelaskan adanya kemungkinan munculnya Jahiliyah-jahiliyah yang bersifat parsial pada umat Nabi Muhammad. Dengan tingkat-tingkat Jahiliyah yang berbeda, ada Jahiliyah yang menyebabkan kefasikan dan ada pula yang menyebabkan kekufuran.

Keempat : Hadits Thoifah Manshuroh

Rasulullah SAW bersabda :

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Artinya, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran. Tidak membahayakan mereka orang-orang yang mencelanya, hingga datang perkara Allah (Kiamat) dan mereka dalam kondisi seperti itu.” (HR Muslim Bab Imaraoh)

Di dalam hadits ini, disebutkan sekelompok dari umat Nabi Muhammad SAW. Lantas bagaimana dengan bagian-bagian yang lain. Mafhum mukholafah dari hadits ini adalah sebagian lain dari kelompok umat Nabi Muhammad tidak menegakkan kebenaran.

Sejalan dengan hadits ini adalah hadits perpecahan umat Nabi Muhammad SAW. Ini secara tidak langsung mengindasikan adanya bagian dari umat Nabi Muhammad yang terkena virus-virus Jahiliyah dengan berbagai tingkatannya.

Berbagai hadits dan argumentasi di atas, memperkuat teori Ustadz Muhammad Qutb tentang jahiliyah modern. Bahwa pada suatu masa umat Islam akan didominasi oleh sistem dan tata kelola jahiliyah, hal ini ditandai dengan hegemoni sistem-sistem non wahyu terhadap ruang lingkup kehidupan kaum muslimin hampir di setiap sektor. Namun berbeda dengan kondisi sebelum diutusnya Nabi yang tidak ada pemegang kebenaran, di akhir zaman, akan senantiasa ada sekelompok umat nabi Muhammad yang bepegang terhadap kebenaran, meskipun dalam kondisi terasing. Wallahu a’lam bissowab [Ibnu Rodja, editor: Musa/istidlal.org]

 

share on: