Nasionalisme Buta, Ketika Negara Dipertuhankan

share on:
Nasionalisme buta

Istidlal.org – Anas bin Nadhr, mungkin tidak banyak yang kenal namanya namun kejujuran iman   dan pengorbanannya bagi agama, tertulis dalam sejarah Islam. Keponakannya yang bernama Anas bin Malik menceritakan pengorbanan Anas bin Nadhr demi tegaknya dinul Islam.

Anas bin Nadhr berkata, “Aku memang absen dalam perang Badar, tapi jika Allah mengizinkanku untuk berperang bersama Nabi lagi, maka Allah akan melihat apa yang saya lakukan.” Tidak lama berselang Allah menjawab sumpahnya dan menjadikan dirinya salah satu dari pasukan Uhud.

Saat itu, barisan kaum muslimin kocar-kacir dihantam dari belakang oleh pasukan kavaleri Quraisy, dan sebagian mereka kabur. Anas bin Nadhr berkata, “Ya Allah aku meminta ampun kepada-Mu atas apa yang mereka lakukan. Dan saya berlepas diri dari apa yang dilakukan orang-orang musyrik.”

Kemudian Anas bin Nadhr melesat memecah barisan kaum musyrikin mengayunkan pedangnya dengan lincah. Setelah perang usai, Anas bin Nadhr tidak bisa ditemukan, baik di barisan mereka yang selamat, maupun di barisan para syuhada Uhud.  Akhirnya, jasadnya ditemukan terbunuh dengan 80-an luka tusukan pedang, panah dan tombak. Jasadnya sampai tidak bisa dikenali. Setelah saudara perempuannya melihat tanda yang ada di ujung-ujung jarinya, barulah dipastikan itu adalah jasad Anas. Sebuah kejujuran iman yang dicontohkan oleh sahabat Anas bin Nadhr kepada kita.

Shuhaib ar Rumi

Beberapa tahun sebelum perang Uhud, ada sahabat yang bernama Shuhaib Ar-Rumi. Ketika ada seruan hijrah kepada orang-orang yang beriman di kota Mekkah, Shuhaib Ar-Rumi salah satu dari mereka. Shuhaib adalah pendatang di kota Mekkah, namun lewat usaha yang keras dia berhasil menjadi salah satu orang yang kaya di kota Mekkah.

Ketika Shuhaib melakukan perjalan hijrah ke Madinah, dia diikuti oleh beberapa orang Quraisy. Mengetahui diikuti, Shubaib turun dari tunggangannya dan mengeluarkan seluruh anak panah yang dia miliki dan berkata, “Wahai Quraisy, kalian tahu bahwa saya adalah pemanah ulung di antara kalian, demi Allah tidaklah kalian sampai mengejar saya hingga saya lepaskan satu per satu anak panah ini kepada kalian, jika masih tersisa maka saya akan gunakan pedang untuk melawan yang tersisa. Berbuatlah sesuka kalian, bagaimana jika saya beri tahu kalian tempat penyimpanan harta dan pakaian saya di Mekkah, dengan catatan kalian membiarkanku pergi?”

Orang-orang Quraisy setuju dengan penawaran Shuhaib. Ketika Shuhaib sampai ke kota Madinah, kisah hijrahnya sampai kepada Rasulullah SAW. beliau bersabda, “Sungguh jual beli yang menguntungkan wahai Abu Yahya, sungguh jual beli yang menguntungkan wahai Abu Yahya.” Lantas turunlah fiman Allah SWT :

 [البقرة: 207]{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللهِ}

Artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Thobaqot Al Kubro Ibnu Sa’ad 3/171)

Begitulah Islam merubah para sahabat. Mereka yang dahulu terikat dalam fanatisme kesukuan dan terjebak ke kubangan jahiliyah, menjadi pribadi-pribadi yang mempersembahkan hal yang paling berharga yang mereka miliki untuk Allah dan Rasul-Nya.

Ketika seseorang sudah mengikrarkan kalimat syahadat, maka ketika itu dia telah menyerahkan seluruhnya, keinginan, harta, jiwa dan semua yang dia miliki kepada Allah dan rasul-Nya. Ketaatannya mutlak kepada Allah dan rasul-Nya dan sejalan dengan keinginan Allah dan rasul-Nya.

Meskipun dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, ada banyak rintangan dan cobaan. Karena setan dan bala tentaranya tidak akan pernah beristirahat menyesatkan manusia.

Itulah Islam, Islam berarti ketundukan total kepada kehendak Allah dan rasul-Nya. Islam adalah ketaatan paripurna kepada syariat yang Allah turunkan melalui nabi-Nya. Islam adalah mewujudkan aturan-aturan Allah dalam setiap sendi kehidupan.

Dalam rangka mewujudkan ketaatan itu, ada darah yang mengalir, ada harta yang terkorbankan, ada tenaga yang terkerahkan, ada pikiran yang diperas, , ada raga yang terpenjara dan ada jiwa yang sepi dan berbagai macam ujian dengan berbagai warna dan coraknya.

Di antara bentuk perintah Allah dan rasul-Nya adalah bagaimana Allah memerintahkan kepada kita untuk menyisihkan sebagian harta. Ada banyak ayat dan banyak tempat di dalam agama ini seorang muslim diminta untuk mengeluarkan sebagian hartanya untuk Islam dan kaum muslimin. Di antaranya firman Allah SWT:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqoroh: 261)

Ada anjuran di dalam ayat di atas kepada orang-orang beriman untuk menyisihkan hartanya di jalan Allah. Di atas kita telah ceritakan salah satu contoh pengorbanan Shuhaib Ar-Rumi yang melakukan jual beli dengan Allah. Jual beli yang tidak pernah rugi, jual beli yang selalu untung, yaitu berjual beli dengan Allah.

Allah juga memerintahkan kita untuk mengorbankan nyawa di jalan Allah. Dan Allah menjanjikan surga bagi mereka yang mengorbankan jiwanya di jalan Allah. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah: 111)

Bahkan, di dalam hadits lain Rasulullah SAW menjanjikan balasan yang amat besar dan banyak bagi mereka yang terbunuh mati syahid dalam rangka jihad fi sabilillah. Diampuni dosanya sejak darahnya mengalir, Allah selamatkan dari azab kubur, Allah nikahkan dengan 72 bidadari, Allah persilahkan memberi syafat bagi 70 kerabatnya dan keutamaan-keutamaan lainnya.

Bentuk lain dari ketundukan kepada Allah SWT adalah ridho dan rela di atur oleh aturan-aturan Allah SWT. Menegakkan syariat Allah bagi manusia, mengatur urusan manusia dengan tata kelola yang Allah tetapkan. Karena ini adalah perintah Allah kepada rasul-Nya Allah SWT berfirman:

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Artinya, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Maidah: 49)

Dan konsekuensi dari berislam adalah menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai petunjuk hidup. Wahyu yang langsung digaransi oleh Rasulullah SAW di penghujug hayatnya. Beliau SAW bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Artinya, “Telah aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, Kitabullah dan Sunnah nabi-Nya.” (HR Malik di Muwatto)

Ketika Nasionalisme Datang

Merah putih mana, merah putih.” Demikian ucapan salah satu anggota Banser ketika bendera bertuliskan La ilaha illallah sudah di makan api. Merah putih dikibarkan dan para anggota Banser menyanyikan mars ya lal watho, dengan semangat sembari mengepalkan tinjunya ke langit. Pemandangan di atas dilakukan atas nama membela NKRI.

Dalam kondisi di atas seolah ada pertarungan antara dua kekuatan, kekuatan merah putih dan bendera lailaaha illallah, kekuatan nasionalisme yang dilambangkan dengan sayup-sayup ya lal wathon, dengan kekuatan kalimat tauhid. Terlepas dari dalih sebagian pihak yang menyatakan bahwa yang dibakar itu bendera HTI, meskipun pada kenyataannya bukan. Pertarungan antara dua identitas di atas tergambar jelas dalam potongan video tersebut.

Perlakuan Banser terhadap bendera tauhid itu sebenarnya sudah bisa di prediksi lewat ceramah dan doktrin-doktrin yang disampaikan oleh ketuanya, doktrin tentang kesetiaan membela negara dan mengorbankan nyawa untuk negara yang sering menjadi tema pidato sang ketua. Sebut saja di Garut, dalam salah satu pidatonya, Gus Yaqut mengatakan di hadapan 1.300 banser yang hadir, “Kita harus berada di garda terdepan untuk menyerahkan nyawa kita untuk negara ini.” dan doktrin-doktrin serupa.

Potongan adegan di atas memberikan kepada kita satu potret tentang Nasionalisme yang mencoba mengantikan posisi agama. Menggantikan agama dalam pengorbanan tertinggi. Hal ini bermasalah jika terjadi pada seorang muslim yang seharusnya pengorbanan tertingginya diberikan kepada Allah dan rasul-Nya, seperti Anas bin Nadhr di atas.

Namun, jika kita melihat sejarah berdirinya negara bangsa dengan nasionalisme sebagai identitasnya, potret di atas bukanlah suatu hal yang aneh. Karena pemahaman ini tumbuh memang ditujukan untuk menggantikan peran agama di masyarakat Eropa kala itu. Ketika masyarakat sudah kehilangan kepercayaan terhadap agama, maka mereka mencoba mencari satu identitas lain yang bisa menggantikan peran agama sebagai pengikat antara rakyat dan pemerintahnya. Akhirnya lahirlah konsep negara bangsa yang kita kenal seperti hari ini. Kemudian konsep negara bangsa ini diekspor ke negeri-negeri Islam melalui kolonialisme.

Sebagian pihak mengklaim bahwa Nasionalisme modern dan Islam tidaklah bertentangan. Buktinya Nabi Muhammad SAW juga mencintai kota Mekkah. Dan beliau bersedih ketika meninggalkan kota Mekkah. Sebenarnya klaim ini perlu diuji. Karena Nasionalisme modern dalam bahasa yang sederhana adalah mensubstitusi/menggantikan peran agama di tengah masyarakat.

Mensubtitusi Agama Dengan Negara

Dalam hal mendasar kita mendapati bahwa prinsip-prinsip Nasionalisme bertentangan dengan Islam. Sebut saja prinsip wala dan bara di dalam Islam, loyalitas dan anti loyalitas. Dalam Islam prinsip wala dan bara di bangun atas landasan keimanan. Di dalam Islam manusia dikelompokkan ke dalam dua golongan besar, muslim dan kafir.

Banyak sekali aturan di dalam Islam yang bersandar pada pembagian manusia ke dalam mukmin dan kafir. Aturan pernikahan, perwalian, waris, pembunuhan, kepemimpinan, pemakaman dan aturan-aturan lain.

Kita tentu masih ingat Pilkada DKI 2017, isu sentral dari Pilkada tersebut adalah dicalonkannya Basuki Cahya Purnama (Ahok) sebagai gubernur DKI. Secara undang-undang hal itu tidak masalah, namun menjadi masalah bagi umat Islam. Karena di dalam Islam ada larangan untuk mengangkat pemimpin umat Islam dari orang kafir.

Islam juga mengatur secara detail bagaimana umat Islam berinteraksi dengan orang kafir. ada kalanya orang kafir mendapat perlindungan harta dan jiwa, ada kalanya orang kafir diperbolehkan untuk tinggal di negeri kaum muslimin dalam jangka waktu tertentu, namun ada kalanya pula orang kafir boleh diperangi. Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah menulis satu buku tersendiri tentang aturan-aturan dalam bermuamalah dengan orang-orang kafir. bukunya diberi judul “Ahkam Ahlu Dzimmah.”

Tidak hanya manusia yang dikelompokkan menjadi dua golongan, bahkan negeri-pun di dalam Islam dikelompokkan menjadi dua. Darul Kufri (negeri kafir) dan Darul Islam (negeri Islam). Pembagian ini erat kaitannya dengan konsep hijrah, jihad dan aturan-aturan Islam lainnya. Namun pembagian ini hari ini menjadi kabur karena konsep negara bangsa yang memecah negeri-negeri kaum muslimin hingga puluhan bahkan ratusan negara.

Sedangkan pada konsep nasionalisme, manusia tidak dibedakan berdasarkan agama. Namun dibedakan berdasarkan batas geografis. Pembedaan manusia berdasarkan apakah dia warga negara atau warga asing. Seluruh warga negara sama di mata negara. Tidak memandang agamanya, ras dan suku bangsa.

Dalam konsep negara bangsa, siapa saja yang memiliki kesamaan identitas kebangsaan, maka diangap saudara meskipun dia orang kafir. Sedangkan di dalam Islam, barangsiapa yang memiliki kesamaan iman, maka dia saudara meskipun dia tinggal di lain negara.

Hal lain yang berbeda antara konsep Islam dan konsep nasionalisme adalah konsep murtad. Di dalam Islam murtad adalah sebutan terhadap seorang muslim yang keluar dari agama Islam. Khatib Asy-Syirbini di dalam Mughnil Muhtaj berkata :

الردة هي قطع الإسلام بينة، أو فعل سواءً قاله استهزاء، أو عناداً، أو اعتقاد

Artinya, “Murtad adalah memutus status keislaman dengan niat atau perbuatan, baik dikatakan dengan maksud mencela agama, menentang atau meyakini (ajaran lain selain Islam).” (Mughnil Muhtaj 4/133)

Orang yang murtad hukumannya adalah hukuman mati. Hal ini didasarkan kepada hadits dari Rasulullah SAW :

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Artinya, “Siapa yang mengganti agamanya, bunuhlah dia.” (HR. Bukhari 3017, Nasai 4059, dan yang lainnya)

Praktek hukuman ini bisa disaksikan dalam sejarah Islam. Yang terkenal adalah bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirimkan pasukan kepada kabilah-kabilah yang murtad sepeninggal Rasulullah SAW. Ada yang tidak mau membayar zakat ada pula yang mengikuti Nabi palsu.

Adapun menurut konsep Nasionalisme modern, menurut Syaikh Ahmad Salim, murtad adalah pembelotan dan pengkhianatan terhadap negara.

Secara konstitusi antara Islam dan negara bangsa juga memiliki perbedaan yang fundamental. Di dalam Islam yang menjadi landasan dalam setiap perkara adalah wahyu, Al-Quran dan As-Sunnah. Setiap aktifitas pemerintahan harus diatur berdasarkan wahyu. Al-Quran dan Sunnah adalah konstitusi tertinggi dan satu-satunya. Keduanya menjadi pedoman bagi penyelenggara pemerintahan dalam semua aspek. Hukum, politik, ekonomi, budaya, keamanan dan lain-lain.

Sedangkan pada konsep negara bangsa rakyat diminta untuk patuh dan taat terhadap konstitusi. Seorang dikatakan penjahat jika melanggar konstitusi negara, entah itu berupa peraturan maupun undang-undang yang ada. Untuk menjadi warga negara yang baik seorang harus mematuhi undang-undang yang ditetapkan oleh negara tersebut. Lantas bagaimana ketika ayat konstitusi bertentangan dengan ayat suci?

Kita tentunya masih ingat ketika dalam forum ILC, mantan ketua GP Anshor Nusron Wahid dengan lantang mengatakan bahwa ayat konstitusi berada di atas ayat suci. Statemen ini menegaskan bahwa ada perbedaan yang cukup mendasar antara ayat suci dan ayat konstitusi.

Sebagai seorang muslim, apa yang kita lakukan apabila ayat suci bertentangan dengan konstitusi? Ketika kita mentaati ayat suci, secara otomatis kita tidak menjadi warga negara yang baik. Sebaliknya jika kita mentaati konstitusi kita tidak menjadi hamba Allah yang baik.

Seorang warga negara baik adalah mereka yang mematuhi serangkaian aturan yang dibuat oleh negara. seperti taat bayar pajak dan tidak melanggar hukum. Atau seseorang akan dianggap berprestasi ketika dia memberikan sumbangsih kepada negara. meskipun dia seorang muslim yang tidak taat menjalankan ibadah. Untuk menjadi warga negara yang baik, seseorang tidak harus menjadi muslim yang baik.

Sedangkan dalam Islam seseorang itu dinilai berdasarkan ketakwaannya. Setaat apapun dia pada aturan negara, serajin apapun dia bayar pajak, seberapapun sumbangsihnya kepada negara, jika dia tidak sholat, tidak membayar zakat, tidak berpuasa, menerjang larangan-larangan agama seperti bertransaksi riba, durhaka kepada orang tua, berlaku syirik, maka dia tidak bisa dianggap sebagai muslim yang baik.

Jika kita masih memaksakan bahwa konsep Nasionalisme modern tidak bertentangan dengan agama, maka akibatnya semakin hari akan semakin banyak hal-hal pokok dalam agama yang harus mengalah demi kepentingan negara. Setelah semuanya, apakah nasionalisme dan Islam bertentangan? Wallahu a’lamu bissowab. (Ibnu Rodja)

 

share on: