Kronologi Penciptaan ‘tuhan’ dan Pewarisan Kekufuran

share on:
Kronologi Penciptaan tuhan dan Pewarisan Kekufuran-istidlal.org

Kronologi Penciptaan ‘tuhan’ dan Pewarisan Kekufuran — Diurut dari Nabi Adam, Idris dan Nuh, berhala baru muncul pada masa Nabi Nuh. Pada masa Adam dan anak-anaknya, tidak didapati kasus penyembahan kepada selain Allah. Pada masa Nabi Idris pun demikian. Kisah-kisah Nabi Idris hanya menekankan keteladanan beliau dalam ibadah. Kemunculan tuhan tandingan baru ada pada masa Nabi Nuh. Ada lima berhala yang dituhankan kaum Nuh: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

Beberapa riwayat sejarah menyatakan bahwa asal usul tuhan-tuhan ini sebenarnya adalah para ulama dan orang shalih di masa Adam. Adam memiliki 20 anak lelaki dan 20 anak perempuan. Beberapa nama yang diriwayatkan adalah Qobil, Habil, Shalih, Abdurrahman, Abdul Harits dan Wadd atau yang disebut Syits. Adapun Suwa’, Yaghuts, Yauq, dan Nasr, ada yang menyebutkan mereka adalah anak Wadd, ada pula yang menyatakan mereka adalah saudara Wadd.

Wadd merupakan salah satu anak Adam yang sangat shalih. Dia ditokohkan di tengah saudara-saudaranya dan paling berbakti kepada Nabi Adam. Keturunan Adam mulai banyak, pengikut Wadd pun kian bertambah. Di lain waktu, keshalihan Suwa’, Yaghuts dan Nasr juga mendapat banyak simpati dari saudara-saudara dan keturunannya.

Baca juga: Tatanan Kehidupan Jahiliyyah

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, “Suatu ketika ada obrolan tentang Yazid bin al-Muhallab di dekat Abu Jakfar (al-Baqir) saat beliau sedang shalat. Setelah selesai shalat, Abu Jakfar mendekat dan berkata, “Kalian membicarakan Yazid bin al-Muhallab. Dia itu dibunuh di tempat pertama disembahnya tuhan selain Allah. Ada “Wadd”, dia dahulunya adalah muslim yang shalih yang sangat dicintai kaumnya. Pasca kematiannya, orang-orang berkumpul di kuburnya dan bersedih. Melihat hal itu, Iblis menjelma menjadi manusia. Iblis berkata kepada mereka, “Aku melihat kesedihan kalian akan orang ini. Maukah kalian aku lukiskan wajah yang serupa dengannya di tempat ibadah kalian agar kalian dapat mengingatnya?” Orang-orang menjawab, “Ya, silakan.” Iblis pun memahat patung yang serupa dengan Wadd dan meletakkannya di tempat ibadah mereka. Melihat betapa seringnya mereka mengingat Waad, Iblis kembali menawarkan, “Maukah aku buatkan patung yang serupa dengan itu untuk ditempatkan di rumah-rumah kalian agar kalian bisa lebih sering mengingatnya?” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Iblis pun membuat patung-patung yang serupa dengan Wadd untuk setiap rumah. Tradisi mengenang Wadd ini berlanjut dari generasi ke generasi. Dan pada generasi jauh, akhirnya patung Wadd disembah.”

Penyembahan berhala pun semakin merajalela. Tidak hanya patung Wadd saja yang dipertuhankan tapi juga patung-patung lain; Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Pada saat inilah Allah mengutus Nabi Nuh. Disebutkan bahwa Nabi Nuh diutus menjadi Rasul pada saat berumur 50 tahun. Beliau berdakwah mengajak kaumnya untuk meningalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah Allah, tanpa perantara berhala. Menjalankan syariat-Nya dan hanya beribadah sesuai tuntunan Nabi-Nya. Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun. Dan dakwah selama itu, beliau hanya diikuti oleh belasan orang saja.

Baca juga: Membangun Kelompok Inti Perjuangan Islam

Kisah Nabi Nuh memang unik. Kisah Nabi Nuh mencatatkan kronologi dan asal muasal lahirnya berhala yang dipertuhankan. Otomatis, Beliau adalah pendakwah pertama yang menentang kemusyrikan. Dan yang lebih unik lagi, Nabi Nuh mencatat rekor dakwah terlama dan terintens, 950 tahun, siang dan malam, dengan beragam cara dan metode dakwah. Plus, kendati sudah selama dan seintens itu, yang mau mengikuti dakwah beliau tak lebih dari belasan orang.

Strategi Setan Menyemai Benih Syirik Hingga Kekufuran yang Diwariskan

Ada dua poin menarik, di samping selaksa hikmah lain dari kisah ini:

Pertama, mengenai tipu daya Iblis. Untuk merancang sebuah dosa dengan level tertinggi dan tak terampuni berupa syirik, Iblis tidak langsung menghasut manusia menyembah kepada selain Allah. Langkah awal Iblis justru sangat persuasif dan terkesan pro dengan kaum muslimin, membantu mereka membuatkan lukisan orang shalih agar ibadah kaum muslimin saat itu semakin khusyu’. Sebuah tawaran yang sama sekali tak berbau dosa. Salahnya di mana membuatkan patung orang shalih demi mengenang keteladanannya dalam beribadah?

Dan benar, lukisan itu sama sekali tidak disembah dan bahkan mampu meningkatkan semangat ibadah umat Islam saat itu. Iblis sangat sabar menanti benih yang dia tanam membuahkan hasil. Buat apa terburu? Toh dia hidup abadi?

Waktu berlalu, generasi berganti. Persepi dan tujuan awal dari dibuatnya patung mulai sirna karena tak terwariskan. Tak terkisahkan, atau mungkin terkisahkan namun banyak distorsi dan penambahan di sana-sini. Dan pada akhirnya, tujuan awal itu benar-benar musnah, berubah, dan berganti menjadi “Patung itu adalah sesembahan kita, Manifestasi tuhan kita karena berada di tempat sembahyang.”

Baca juga: Mungkinkah Terjadi Jahiliyah Pada Era Milenial?

Buah yang ditanam Iblis pun berbunga dan siap dipanen. Kian hari, pohon paganisme semakin kokoh, menancap di hati dan mengakar menjadi tradisi. Mencabutnya serasa mustahil karena masyarakat penyembah berhala akan pasang badan menahannya. Nabi Nuh yang mencoba mendongkelnya pun merasa kesulitan. 950 tahun usahanya mencabut pohon syirik dari jiwa-jiwa manusia, harus diakhiri dengan doa kebinasaan untuk kaumnya.

Mengetahui efektivitas pola ini, Iblis dan setan pun terus menggunakan metode ini dan mengembangkannya. Penyembahan Uzair dan Isa oleh kaum Yahudi dan Nashrani pun tidak jauh-jauh dari metode ini. Awalnya, kaum nashrani mengimani Isa sebagai Rasul, yang kemudian di angkat ke langit. Namun lambat laun, persepsi ini dirusak sembari direkontruksi dengan menyusupkan keyakinan bahwa Isa adalah anak tuhan atau penjelmaan lain dari tuhan.

Perbuatan bid’ah pun sama. Awalnya dilakukan para moyang sebagai bagian dari budaya, tapi kemudian setan memasukkannya ke dalam ritual ibadah dan keyakinan. Latta yang disembah kaum musyrik, dahulunya adalah orang baik yang senantiasa menggiling gandum untuk disedekahkan kepada orang-orang yang berhaji. Dikenang, dan akhirnya disembah. Dakwah nabi-nabi pun fokus untuk membasmi pohon yang ditanam Iblis dan telah terlanjur mengakar menjulang ini.

Hingga hari ini, metode ini masih efektif untuk menjerumuskan hamba Allah ke dalam kemusyrikan. Beberapa kuburan orang shalih banyak yang akhirnya jadi tempat peribadatan dan berdoa. Ya, hari ini bisa saja hal itu dibantah bahwa kuburan itu tidak disembah, tapi siapa yang menjamin untuk beberapa waktu yang akan datang?

Baca juga: Khutbah Jumat: Laa ilaaha illallah, Kalimat Pegangan Hidup

Lebih luas dari itu, Iblis dan setan memang akan menyusupkan kesyirikan dengan ragam bentuknya melalui berbagai cara. Beberapa dengan metode kasar dan memaksa. Siapa kini yang berani secara lantang menyatakan siap menegakkan syariat Allah secara utuh di dunia? Bakal habis dirinya digempur Israel dan sekutunya. Jangankan sampai level penerapan, baru pernyataan saja sudah bisa membuat seorang presiden digulingkan.

Sebagian lain, metode penyebaran kesyirikan sangat halus dan tak terasa. Tak bisa dibuktikan di mana syiriknya. Mungkin sekadar simbol kecil atau berbentuk teori atau sebuah pemahaman sederhana. Namun karena bagian dari kesyirikan, dampaknya akan tetap kentara. Kesyirikan, meski berbentuk syubhat, tetap akan mengubah pola pikir seseorang, cepat atau lambat.

Kedua, soal betapa susahnya kaum Nabi Nuh didakwahi. Pernahkah kita bertanya, mengapa dakwah selama 950 tahun hanya menghasilkan belasan pengikut? Tentu salah jika yang kita evaluasi adalah dakwahnya Nabi Nuh. Beliau sudah berdakwah sesuai wahyu-Nya, siang malam, dengan beragam metode. Dengan ini, tidak ada penghalang lain selain faktor kaum Nuh yang memang luar biasa keras kepala. Tapi sekeras apapun manusia, bukankah ada kemungkinan generasi selanjutnya bisa lebih lunak dan moderat? Dan bukankah Nabi Nuh berdakwah dari generasi ke generasi?

Ternyata, Ibnu Katsir menyebutkan, faktor utama mengapa kaum Nuh begitu susah didakwahi adalah karena mereka secara konsisten mewariskan kekufuran kepada generasi setelahnya. Dikisahkan bahwa setiap kali seorang anak mulai berakal, orangtuanya pasti mendoktrin anaknya agar jangan mempercayai Nuh dan pengikutnya. Doktrin ini terus dicecar sampai dewasa hingga menyatu dengan pikiran dan perasaan si anak. Inilah yang menjadi dinding penghalang masuknya iman di hati kaum Nuh, yaitu sebuah kekufuran yang diwariskan secara turun temurun.

Baca juga: Tamkin, Mimpi yang Menjadi Kenyataan

Ini luar biasa. Bagaimana sebuah kekufuran diwariskan dan berhasil membentengi diri dari cahaya dan hidayah ilahi. Peran orangtua dalam membentuk sebuah generasi memang tak diragukan lagi. Seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa keyakinan anak akan sangat dipengaruhi orangtuanya. Jika mereka menanamkan keimanan, anak akan tumbuh menjadi manusia beriman. Sebaliknya jika yang mereka tanamkan kekufuran, maka kekufuran akan turun-temurun menjadi akidah dalam silsilah nasabnya.

Iman dan kufur memang tak bisa diwariskan dalam arti bisa diberikan dan dipindah tangankan dalam sekejap sebagaimana harta warisan. Namun, iman dan kufur bisa diwariskan secara doktrin, pengajaran dan pembiasaan. Sekarang, siapa yang paling getol mewariskan akidah dan keyakinannya kepada generasi setelahnya, merekalah yang bakal mendominasi dunia. Wallahua’lam bi shawab. (Mohamad Saitama/istidlal.org)

share on: