Tsawabit dan Mutaghayirat, Klasifikasi Ranah Syar’i yang Harus Dipahami (bag. 2:2)

share on:
Tsawabit dan Mutaghayirat, Klasifikasi Ranah Syar’i yang Harus Dipahami 2-istidlal-org

Istilah tsawabit dan Mutaghayirat dipopulerkan oleh sejumlah ulama fikih kontemporer. Di antara yang mempopulerkan kedua istilah ini adalah Syaikh Dr. Shalah As-Shawi, pada sektiar 1980-an. Karyanya yang mendunia pada waktu itu adalah Ats-Tsawabit wa Al-Mutaghayyirat fi Masiratil ‘Amal Al-Islami Al-Mu’ashir. Karya tersebut telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, oleh setidaknya dua penerbit Islam tanah air.

Kedua istilah tersebut memang baru populer pada dua dekade terakhir dari abad 20 M. Meskipun demikian, bukan berarti kandungan istilah tersebut belum dikenal luas oleh para ulama Islam pada masa-masa sebelumnya. Sejak lebih dari seribu tahun yang lalu, para ulama Islam telah mempergunakan istilah-istilah lain yang menunjuk pada pengertian dan kandungan makna yang sama dengan istilah Tsawabit dan Mutaghayirat.

Para ulama pada masa-masa lampau mempergunakan istilah qath’i, qath’iyat, ijma’ atau mujma’ ‘alaih untuk padanan istilah tsawabit. Sedangkan untuk padanan istilah Mutaghayirat, para ulama pada masa-masa lampau biasa mempergunakan istilah zhanni, zhanniyat, ikhtilaf, mukhtalaf fiih, atau ijtihadi.

Dari sini bisa disimpulkan bahwasanya istilah tsawabit dan Mutaghayirat sebenarnya bukanlah barang baru. Secara lafal, ia memang lahir pada akhir abad 20 M. Namun secara kandungan makna, ia telah lahir dan populer sejak lebih dari seribu tahun lalu.

Baca juga: Apa itu Tsawabit?

PENGERTIAN MUTAGHAYIRAT

Mutaghayirat adalah kata jamak (plural). Kata tunggalnya adalah mutaghayyir. Secara Bahasa, mutaghayyir bermakna sesuatu yang berubah. Adapun definisi Mutaghayirat menurut para ulama kontemporer adalah perkara-perkara ijtihad dan perkara-perkara yang hukumnya tidak ditetapkan oleh dalil yang qath’i (tegas dan pasti), yaitu tidak ada nash shahih yang sharih tentangnya dan tidak pula tercapai ijmak sharih atasnya. (Shalah As-Shawi, At-Tsawabit wa Al-Mutaghayirat, hlm. 53)

Perkara-perkara Mutaghayirat biasanya berada dalam perkara-perkara muamalah, dan sebagian rincian (cabang-cabang) ibadah dan akhlak. Mayoritasnya adalah perkara-perkara muamalah. Al-Quran dan As-Sunnah memberikan ketentuan-ketentuan hukum secara global dalam mayoritas perkara muamalah seperti politik, ekonomi, sosial-budaya, dan militer. Ketentuan-ketentuan hukum global tersebut harus menjadi pedoman umum muamalah kaum muslimin.

Baca juga: Prinsip Politik Islam : Pertama, Kedaulatan di Tangan Allah

Adapun rincian-rincian dari praktek muamalah mereka diserahkan pengaturannya kepada para ulama mujtahid, dengan mengacu kepada ketentuan-ketentuan umum syariat Islam. Hal itu karena muamalah manusia akan senantiasa berkembang, seiring perkembangan zaman, perubahan tempat, dan perubahan manusia. Ketentuan-ketentuan pokok dan aturan-aturan umum terhadap perkara-perkara muamalah tersebut telah diatur oleh Al-Quran dan As-Sunnah. Namun rincian teori dan prakteknya menjadi lahan ijtihad para ulama mujtahid di setiap zaman.

Sudah menjadi hal yang wajar apabila terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama mujtahid, atas rincian-rincian perkara muamalah. Maka dalam perkara-perkara ijtihad seperti itu, umat Islam harus saling berlapang dada, menghormati, dan menghargai pendapat yang berbeda dengan pendapat yang ia pegangi. Selama pendapat tersebut digali oleh para ulama yang berkompeten dari ketentuan-ketentuan umum syariat Islam, dan merealisasikan maslahat yang luas bagi kaum muslimin, maka pendapat tersebut boleh diambil dan tidak boleh dihujat.

 

APA PENTINGNYA MEMAHAMI MUTAGHAYIRAT?

Memahami Mutaghayirat, atau perbedaan pendapat para ulama dalam masalah-masalah ijtihadiyah sangatlah penting. Dengannya kita akan memiliki sikap lapang dada kepada ulama, pribadi, dan kelompok Islam lainnya yang berbeda pendapat dengan kita. Ia adalah kunci untuk tetap terjaganya ukhuwah islamiyah. Ia juga merupakan jembatan untuk tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.

Imam Ibnu Abdil Barr dalam Jaami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, juz 2 hlm. 814-821, mengutip pernyataan para ulama tabi’in dan tabi’it tabi’in tentang pentingnya memahami ikhtilaf ulama.

Baca juga: Prinsip Politik Islam : Kedua, Kekuasan di Tangan Umat Islam

Qatadah bin Di’amah As-Sadusi berkata,

مَنْ لَمْ يَعْرِفِ اْلاِخْتِلاَفَ لَمْ يَشُمَّ رَائِحَةَ الْفِقْهِ بِأَنْفِهِ

Barangsiapa tidak mengetahui perbedaan pendapat para ulama, maka hidungnya belum mencium bau fikih.”

Sa’id bin Abi Arubah berkata,

مَنْ لَمْ يَسْمَعِ اْلاِخْتِلاَفَ فَلاَ تَعُدُّوهُ عَالِمًا

Barangsiapa tidak mengetahui perbedaan pendapat para ulama, maka janganlah kalian menganggapnya seorang ulama.”

Qabishah bin Uqbah berkata,

لاَ يُفْلِحُ مَنْ لاَ يَعْرِفُ اِخْتِلاَفَ النَّاسِ

Tidak akan beruntung orang yang tidak memahami perbedaan pendapat para ulama.”

Hisyam bin Ubaidullah Ar-Razi berkata,

مَنْ لَمْ يَعْرِفْ اِخْتِلاَفَ اْلقُرَّاءِ فَلَيْسَ بِقَارِئٍ ، وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْ اِخْتِلاَفَ اْلفُقَهَاءِ فَلَيْسَ بِفَقِيهٍ

Barangsiapa tidak mengetahui perbedaan pendapat para ulama qira’ah, maka ia bukan seorang ulama qira’at. Barangsiapa belum mengetahui perbedaan pendapat para ulama fikih, maka ia bukanlah ahli fikih.”

Atha’ bin Abi Rabah berkata,

لاَ يَنْبَغِي لأَحَدٍ أَنْ يُفْتِيَ النَّاسَ، حَتَّى يَكُونَ عَالِمًا بِاخْتِلاَفِ النَّاسِ ؛ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ رَدَّ مِنَ الْعِلْمِ مَا هُوَ أَوْثَقُ مِنَ الَّذِي فِي يَدِهِ

Tidak selayaknya seseorang memberi fatwa kepada masyarakat, sampai ia ahli dalam masalah perbedaan pendapat para ulama. Jika tidak demikian, niscaya ia akan menolak ilmu orang lain yang sebenarnya lebih kokoh daripada ilmu yang ia miliki.”

Baca juga: Posisi Syariat dalam Koridor Negara Bangsa

Ayyub As-Sukhtiyani berkata,

أَجْسَرُ النَّاسِ عَلَى اْلفُتْيَا أَقَلُّهُمْ عِلْمًا بِاخْتِلاَفِ الْعُلَمَاءِ ، وَأَمْسَكُ النَّاسِ عَنِ اْلفُتْيَا أَعْلَمُهُمْ بِاخْتِلاَفِ اْلعُلَمَاءِ

Orang yang paling berani memberi fatwa adalah orang yang paling sedikit ilmunya tentang perbedaan pendapat para ulama. Adapun orang yang bisa menahan dirinya dari memberi fatwa adalah orang yang paling mengetahui perbedaan pendapat para ulama.”

Sufyan bin Uyainah berkata,

أَجْسَرُ النَّاسِ عَلَى اْلفُتْيَا أَقَلُّهُمْ عِلْمًا بِاخْتِلاَفِ اْلعُلَمَاءِ

Orang yang paling berani memberi fatwa adalah orang yang paling sedikit ilmunya tentang perbedaan pendapat para ulama.”

Yahya bin Salam berkata,

لاَ يَنْبَغِي لِمَنْ لاَ يَعْرِفُ اْلاِخْتِلاَفَ أَنْ يُفْتِيَ ، وَلاَ يَجُوزُ لِمَنْ لاَ يَعْلَمُ اْلأَقَاوِيلَ أَنْ يَقُولَ : هَذَا أَحَبُّ إِلَيَّ

“Tidak selayaknya orang yang tidak mengetahui perbedaan pendapat para ulama untuk memberi fatwa. Demikian pula, orang yang tidak mengetahui pendapat-pendapat ulama tidak boleh mengatakan ‘pendapat ini lebih aku sukai’.”

Sahnun bin Sa’id berkata,

أَجْرَأُ النَّاسِ عَلَى اْلفُتْيَا أَقَلُّهُمْ عِلْمًا، يَكُونُ عِنْدَ الرَّجُلِ اْلبَابُ اْلوَاحِدُ مِنَ اْلعِلْمِ يَظُنُّ أَنَّ اْلحَقَّ كُلَّهُ فِيهِ

Orang yang paling berani memberi fatwa adalah orang yang paling sedikit ilmunya. Seseorang mengetahui satu bab ilmu, lalu ia menyangka seluruh kebenaran sudah terkandung dalam pendapatnya tersebut.”

Ia juga berkata,

إِنيِّ لَأَحْفَظُ مَسَائِلَ، مِنْهَا مَا فِيهِ ثَمَانِيَّةُ أَقْوَالٍ مِنْ ثَمَانِيَّةِ أَئِمَّةٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ فَكَيْفَ يَنْبَغِي أَنْ أُعَجِّلَ بِالْجَوَابِ حَتَّى أَتَخَيَّرَ فَلِمَ أُلاَمُ عَلَى حَبْسِ الْجَوَابِ

Saya sungguh mengetahui berbagai masalah agama. Di antaranya ada masalah yang padanya terdapat delapan pendapat para ulama besar. Lantas bagaimana saya harus tergesa-gesa menjawab masalah tersebut, sebelum saya tuntas mengkajinya dan memilih pendapat yang paling kuat? Kenapa saya dicela jika saya menahan diri dari memberi jawaban?” Wallahu a’lam bish-shawab [Fadhlullah/istidlal.org]

 

Artikel Bagian 1: Tsawabit dan Mutaghayyirat, Klasifikasi Ranah Syar’i yang Harus Dipahami (bag. 1:2)

 

REFERENSI

Shalah As-Shawi, Ats-Tsawabit wa Al-Mutaghayyiraat fi Masirati Al-‘Amal Al-Islami Al-Mu’ashir, Amerika: Sharia Academy of America, cet.1, 1430 H.
Ibnu Abdil Barr, Jami’ Bayaan Al-Ilmi wa Fadhlihi, tahqiq: Abu Asybal Az-Zuhairi, Dammam: Dar Ibnil Jauzi, cet. 1, 1414 H.
Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Ar-Risalah, tahqiq: Ahmad Syakir, Kairo: Mathba’ah Musthafa Al-Babi Al-Halabi, cet. 1, 1357 H.

================================

Download Buku Ats-Tsawabit wa Al-Mutaghayyiraat fi Masirati Al-‘Amal Al-Islami Al-Mu’ashir DI SINI
share on: