Perjanjian Hudaibiyah, Mengorbankan Prinsip Demi Maslahat?

share on:
Perjanjian Hudaibiyah Mengorbankan Prinsip Demi Maslahat-istidlal-org

Perjanjian Hudaibiyah merupakan perjanjian damai yang dibuat dan disepakati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan musyrikin Makkah pada Maret, 628 M (Dzulqa’dah, 6 H). Perjanjian ini dibuat untuk menghindari peperangan karena tujuan utama adalah umrah. Pada butir-butir perjanjian, kaum muslimin melihat bahwa sebenarnya mereka dirugikan karena selain maksud dari safar kali ini tidak tercapai yaitu umrah, butir-butir lain seperti kewajiban mengembalikan orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah juga sangat tidak adil. Pun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap menandatangani perjanjian tersebut.

Peristiwa ini menjadi salah satu dasar argumentasi aktivis partai untuk melegitimasi langkah mereka memperjuangkan Islam melalui partai. Perjanjian Hudaibiyah dianggap pas mengambarkan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperjuangkan mashlahat bagi kaum muslimin bahkan meskipun harus mengorbankan beberapa prinsip demi memenuhi tuntutan formalitas, sebagaimana yang kerap harus dihadapi para aktifis Islam yang berjuang dalam demokrasi.

Apakah perjanjian Hudaibiyah memang tepat dijadikan dalil untuk memperjuangkan Islam melalui jalur demokrasi?

 

PERJANJIAN HUDAIBIYAH

Perundingan Hudaibiyah disebutkan dalam lebih dari dua puluh hadits shahih dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ia juga dikisahkan oleh belasan hadits lainnya dalam kitab As-Sunan, Al-Musnad, Al-Mushannaf, dan Al-Mu’jam. Selain itu, semua kitab sirah nabawiyah juga memaparkan prosesnya dari awal sampai akhir. Mengkaji keseluruhan hadits shahih dan paparan sejarah tentang perjanjian Hudaibiyah sangatlah urgen agar kesimpulan-kesimpulan hukum yang diambil darinya tidak salah.

To the point pada syarat-syarat perjanjian damai antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Suhail bin Amru yang menjadi juru runding kaum kafir Quraisy, disebutkan dalam riwayat al-Bukhari sebagai berikut:

فَجَاءَ سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو، فَقَالَ: هَاتِ اكْتُبْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابًا. فَدَعَا الْكَاتِبَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اكْتُبْ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ” فَقَالَ سُهَيْلٌ: أَمَّا الرَّحْمَنُ، فَوَاللهِ مَا أَدْرِي مَا هُوَ، وَلَكِنْ اكْتُبْ بِاسْمِكَ اللهُمَّ كَمَا كُنْتَ تَكْتُبُ. فَقَالَ الْمُسْلِمُونَ: وَاللهِ مَا نَكْتُبُهَا إِلَّا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اكْتُبْ بِاسْمِكَ اللهُمَّ”، ثُمَّ قَالَ: “هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ” فَقَالَ سُهَيْلٌ: وَاللهِ لَوْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللهِ، مَا صَدَدْنَاكَ عَنِ الْبَيْتِ وَلَا قَاتَلْنَاكَ، وَلَكِنْ اكْتُبْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “وَاللهِ إِنِّي لَرَسُولُ اللهِ وَإِنْ كَذَّبْتُمُونِي، اكْتُبْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ”

Suhail bin Amru berkata, “Marilah engkau menulis surat perjanjian antara kami dengan kalian.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil seorang sekretaris (dalam berbagai riwayat disebutkan ia adalah Ali bin Abi Thalib). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tulislah bismillahir rahmaanir rahiim!

Suhail bin Amru menyahut, “Adapun Ar-rahmaan, demi Allah, aku tidak tahu siapa Dia. Tapi tulislah bismika Allahumma, sebagaimana dahulu engkau menulis.”

Kaum muslimin menyahut, “Demi Allah, kami hanya mau menuliskan bismillahir rahmaanir rahiim.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tulislah bismika Allahumma.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendiktekan teks perjanjian kembali, “Inilah keputusan yang diambil oleh Muhammad Rasul Allah.”

Suhail memotong, “Demi Allah, andaikata kami mengetahui engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami tidak akan menghalangimu dari Baitullah dan kami tidak akan memerangimu. Tapi tulislah Muhammad bin Abdullah.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, aku adalah Rasul Allah, meskipun kalian mendustakanku. Tulislah wahai sekretaris ‘Muhammad bin Abdullah’.”

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عَلَى أَنْ تُخَلُّوا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْبَيْتِ فَنَطُوفَ بِهِ ” فَقَالَ سُهَيْلٌ: وَاللهِ لَا تَتَحَدَّثُ الْعَرَبُ أَنَّا أُخِذْنَا ضُغْطَةً، وَلَكِنْ لَكَ مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ. فَكَتَبَ، فَقَالَ سُهَيْلٌ: عَلَى أَنَّهُ لَا يَأْتِيكَ مِنَّا رَجُلٌ، وَإِنْ كَانَ عَلَى دِينِكَ، إِلَّا رَدَدْتَهُ إِلَيْنَا. فَقَالَ الْمُسْلِمُونَ: سُبْحَانَ اللهِ، كَيْفَ يُرَدُّ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَقَدْ جَاءَ مُسْلِمًا؟ فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ، إِذْ جَاءَ أَبُو جَنْدَلِ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو يَرْسُفُ فِي قُيُودِهِ، وَقَدْ خَرَجَ مِنْ أَسْفَلِ مَكَّةَ حَتَّى رَمَى بِنَفْسِهِ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُسْلِمِينَ.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendiktekan teks perjanjian kembali, “Yaitu kalian membiarkan kami melakukan thawaf pada Baitullah.

Suhail membantah, “Demi Allah, hal itu tIdak akan kami biarkan. Jangan sampai orang-orang Arab mengatakan bahwa kami (kaum Quraisy) telah tersudutkan (oleh Muhammad). Namun kalian boleh melakukan umrah pada tahun mendatang.”

Suhail lalu mendiktekan syaratnya, “Tidak ada seorang pun dari kami (kaum Quraisy di Makkah) yang mendatangimu, meskipun ia telah menganut agamamu, melainkan engkau harus mengembalikannya kepada kami.

Kaum muslimin pun bereaksi keras, “Maha suci Allah! Bagaimana mungkin orang yang datang kepada kami dalam keadaan telah masuk Islam, harus dikembalikan kepada orang-orang musyrik?

Saat mereka tengah berdebat tersebut, tiba-tiba muncul Abu Jandal bin Suhail bin Amru dengan terseok-seok karena kedua kakinya masih dibelenggu. Ia telah melarikan diri dari bagian bawah kota Makkah hingga berhasil tiba di tengah rombongan kaum muslimin.

فَقَالَ سُهَيْلٌ: هَذَا يَا مُحَمَّدُ، أَوَّلُ مَا أُقَاضِيكَ عَلَيْهِ أَنْ تَرُدَّهُ إِلَيَّ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّا لَمْ نَقْضِ الْكِتَابَ بَعْدُ” قَالَ: فَوَاللهِ إِذًا لَا نُصَالِحُكَ عَلَى شَيْءٍ أَبَدًا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فَأَجِزْهُ لِي” قَالَ: مَا أَنَا بِمُجِيزُهُ لَكَ. قَالَ: ” بَلَى، فَافْعَلْ” قَالَ: مَا أَنَا بِفَاعِلٍ. قَالَ مِكْرَزٌ: بَلَى قَدْ أَجَزْنَاهُ لَكَ.

Suhail berkata, “Wahai Muhammad, orang ini adalah orang pertama yang aku tuntut agar engkau mengembalikannya kepadaku.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kita belum selesai membuat perjanjian damai ini.”

Suhail membantah, “Demi Allah, kalau begitu aku selamanya tidak mau membuat perjanjian damai denganmu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ayolah, engkau lanjutkan negosiasi ini.”

Suhail membantah, “Aku tidak mau melanjutkan negosiasi ini.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau harus melanjutkan negosiasi ini. Lakukanlah syarat yang engkau ajukan tadi.

Suhail membantah, “Aku tidak akan melakukannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tentu saja engkau harus melakukannya. Sebab kami akan melaksanakan tuntutanmu tadi.” (HR. Bukhari: Kitab Syuruth, Bab Syuruth fil Jihad wal Mushalalah ma’a Ahlil Harbi wa Kitabati Syuruth no. 2731 – 2732)

 

ISTIDLAL PERISTIWA PERJANJIAN HUDAIBIYAH

Nah, apakah memang benar bahwa perjanjian Hudaibiyah layak dijadikan sandaran argumentasi berjuang melalui demokrasi? Apakah istidlal dari peristiwa Hudaibiyah memang tepat ditinjau dari berbagai aspeknya? Ini yang perlu kita cermati:

ASPEK PERTAMA: Posisi dan status subjek perjanjian.

Apakah posisi dan status Rasulullah sama persis dengan pemimpin partai Islam dalam kancah demokrasi?

Jika dikaji, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pelaku utama perjanjian Hudaibiyah pada saat itu adalah seorang kepala negara. Beliau telah memiliki sebuah wilayah teritorial yang dikuasai secara penuh yaitu Madinah. Beliau memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan militer.

Pihak lawan adalah kaum kafir Quraisy. Dilihat dari sudut pandang kekuatan militer, posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat terjadi perjanjian tersebut jauh lebih kuat daripada kaum kafir Quraisy. Kekuatan ekonomi dan militer kaum kafir Quraisy telah terkuras habis akibat perang Ahzab (perang Khandaq). Saat Perang Ahzab, kaum kafir Quraisy bersama suku Ghathafan, suku Sulaim, dan seluruh suku musyrik Arab lainnya mengerahkan 10.000 personil untuk menyerang kota Madinah. Karena terhalang parit, mereka hanya bisa mengepung Madinah. Sampai berlalu satu bulan pengepungan dan percobaan penyerangan, mereka tidak mendapatkan hasil signifikan. Tak satupun serangan yang berhasil diancarkan ke Madinah yang bisa menimbulkan korban dan kerusakan.

Lalu pertolongan Allah datang kepada kaum muslimin. Angin topan yang sangat kencang, disertai hawa dingin yang sangat menggigit, menghantam perkemahan pasukan aliansi musyrikin Arab tersebut. Tenda-tenda mereka tercerabut, bahan makanan dan peralatan masak mereka beterbangan, unta dan kuda mereka berlarian kocar-kacir. Pasukan aliansi tersebut terpaksa kembali ke daerah masing-masing, ditambah kerugian jiwa beberapa personilnya dan kerugian harta yang tak terhitung jumlahnya.

Perang Ahzab memakan biaya yang sangat tinggi bagi kaum kafir Quraisy namun tidak menghasilkan keuntungan apapun. Kerugian harta tidak terhitung lagi. Mereka mengalami kebangkrutan ekonomi yang hebat sebagai dampak dari perang tersebut. Mereka tidak mampu lagi memobilisasi pasukan perang. Mereka hanya akan mampu bertahan, tanpa mampu untuk menyerang kaum muslimin di Madinah.

Hal itu ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri setelah pasukan aliansi Ahzab meninggalkan kota Madinah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Ahmad, dan lainnya dari Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ: الْآنَ نَغْزُوهُمْ وَلَا يَغْزُونَا نَحْنُ نَسِيرُ إِلَيْهِمْ

Dari Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari perang Ahzab, “Sejak dari sekarang, kita yang akan menyerang mereka dan mereka tidak akan mampu menyerang kita. Kita yang akan mendatangi mereka.” (HR. Bukhari: Kitabul Maghazi no. 4109, Ahmad no. 18308, Ya’qub bin Sufyan, Al-Baihaqi, At-Thabarani, Al-Baghawi, Abu Nu’aim Al-Asbahani, dan lainnya)

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan kebangkrutan ekonomi dan militer kaum kafir Quraisy tersebut dengan sabda beliau:

وَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ نَهِكَتْهُمُ الْحَرْبُ وَأَضَرَّتْ بِهِمْ

Sungguh peperangan telah membuat suku Quraisy kepayahan dan sengsara.” (HR. Bukhari: Kitab Syuruth, Bab Syuruth fil Jihad wal Mushalalah ma’a Ahlil Harbi wa Kitabati Syuruth no. 2731 – 2732)

Kekalahan militer dan kebangkrutan ekonomi pasca perang Ahzab tidak hanya dialami oleh aliansi Ahzab tapi juga sekutu utama mereka dari kalangan non-Arab, yaitu kaum Yahudi Bani Quraizhah di Madinah. Yahudi bahkan mengalami nasib yang lebih pahit.

Pasukan Islam mengepung perkampungan Yahudi Bani Quraizhah selama 25 hari penuh. Yahudi Bani Quraizhah akhirnya menyerah kepada kaum muslimin. Akibat pengkhianatan Yahudi Bani Quraizhah selama perang Ahzab, lebih dari 700 laki-laki dewasanya yang mampu berperang telah dijatuhi hukuman mati. Kaum wanita dan anak-anak mereka menjadi tawanan perang kaum muslimin. Rumah, sawah-ladang, benteng, dan perkampungan mereka menjadi harta rampasan perang kaum muslimin.

Sekutu pasukan musyrik Arab lainnya dalam perang Ahzab adalah kaum Yahudi Khaibar. Kekuatan militer mereka relatif masih utuh, sebab mereka belum terlibat pertempuran fisik secara langsung dengan pasukan Islam. Namun secara personil, mereka juga mengalami kerugian besar. Pemimpin kaum Yahudi Khaibar yang bernama Huyay bin Akhtab ikut dihukum mati bersama pemimpin Yahudi Bani Quraizhah, Ka’ab bin Asad Al-Qurazhi. Huyay bin Akhtab inilah yang memprovokasi Yahudi Bani Quraizhah untuk mengkhianati kaum muslimin dan berperang di pihak pasukan aliansi musyrikin Arab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin melakukan perjanjian Hudaibiyah dalam posisi seperti ini. Mereka dalam posisi sebagai pemenang perang dan pihak yang lebih kuat. Sementara kaum kafir Quraisy dalam posisi kalah perang dan pihak yang lebih lemah.

Sekarang, mari bandingkan kondisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjanjian Hudaibiyah tersebut dengan kondisi partai-partai Islam dalam perjuangan lewat pemilu. Partai-partai Islam tidak memiliki posisi, dominasi dan kekuatan yang sama dengan posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat perjanjian Hudaibiyah. Bahkan meskipun suara partai Islam dominan sekalipun, mereka tidak memiliki kekuatan mutlak untuk menentukan regulasi pemilu.  Sebaliknya rezim berkuasa tetap leluasa menetapkan UU Kepartaian dan UU Pemilu, sehingga partai Islam mau tidak mau harus berjalan di atas rel dan syarat-syarat yang “dipaksakan” oleh rezim tersebut.

Menganalogikan kondisi partai Islam dengan Rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah, dari aspek ini, bisa disebut al-Qiyas ma’al fariq, analogi tak sebanding, karena kekuatan bargaining keduanya jelas berbeda.

 

ASPEK KEDUA: Butir-butir perjanjian.

Adakah butir-butir perjanjian yang melanggar syariat namun tetap dipatuhi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam siap melakukan negosiasi dan membuat kesepakatan damai dengan orang-orang kafir Quraisy, selama syarat-syarat perjanjian tersebut tidak melanggar syariat Islam. Jika ada unsur pelanggaran terhadap syariat Islam, niscaya beliau tidak akan menerima butir-butir perjanjian tersebut.

Hal itu ditegaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sejak awal, saat beliau dan kaum muslimin berhenti di Hudaibiyah, sebelum beliau membuat negosiasi apapun dengan kaum kafir Quraisy. Dalam hadits dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Hakam dijelaskan bahwa ketika pasukan perintis berkuda suku Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid menghadang kaum muslimin di wilayah sumber air Hudaibiyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berhenti. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللهِ إِلاَّ أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا

Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, mereka tidak meminta kepadaku satu langkah pun yang di dalamnya mereka mengagungkan perkara-perkara yang diagungkan Allah, melainkan aku pasti akan memenuhinya untuk mereka.” (HR. Bukhari: Kitab Syuruth, Bab Syuruth fil Jihad wal Mushalalah ma’a Ahlil Harbi wa Kitabati Syuruth no. 2731 – 2732)

Kita tentu layak bertanya, ketika UU Pemilu dan UU Kepartaian memuat ketentuan-ketentuan yang menyelisihi syariat Islam, sejauh mana kesiapan partai-partai Islam untuk menolaknya? Sejauh mana kesiapan partai-partai Islam untuk mengajukan dan memperjuangkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan syariat Islam?

 

ASPEK KETIGA: Prinsip yang dikorbankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam demi perjanjian ini.

Prinsip apa yang dikorbankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam demi mendapat kemashlahatan dari perjanjian ini?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melepaskan satu prinsip pun dari prinsip-prinsip ajaran Islam yang qath’i dan baku. Beliau tidak mengalah kepada juru runding kafir Quraisy dalam satu perkara pun yang bersifat qath’i dalam syariat Islam. Tidak ada kewajiban dalam Islam yang beliau tinggalkan dan tidak ada larangan dalam Islam yang beliau langgar dalam perjanjian Hudaibiyah.

Mari kita uraikan kembali satu per satu syarat dalam perjanjian Hudaibiyah tersebut.

  • Tidak dicantumkannya lafal ar-rahman ar-rahim dan mencukupkan diri dengan tulisan bismika Allahumma sama sekali tidak mengurangi nilai tauhid dan keagungan Allah sedikit pun. Karena nama Allah itu banyak, Allah memiliki lebih dari 99 nama yang agung. Nama Allah tidak harus disandingkan dengan nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam segala kondisi, tempat, dan waktu. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, nama Allah disandingkan dengan nama lainnya seperti Al-Hakiim, Al-Aziiz, As-Sami’, Al-Bashir, Al-‘Aliim, Ar-Razzaq, Al-Wahhab, dan lain-lain.Jadi dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melepaskan prinsip syariat Islam yang baku sedikit pun. Adapun yang disebut melepaskan prinsip ajaran Islam yang baku dan mengalah kepada prinsip musuh adalah apabila beliau mencantumkan tulisan Bismillah wa Al-Laata misalnya, atau Bismil Laata wal ‘Uzza, atau Bismi Hubal, dan seterusnya, yang berisi pengakuan ketuhanan berhala-berhala yang disembah oleh kaum kafir Quraisy.
  • Tidak dicantumkannya tulisan “Dari Muhammad bin Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”, dan hanya mencantumkan tulisan “Dari Muhammad bin Abdullah” itu sama sekali bukan tindakan melepaskan prinsip baku syariat Islam dan mengalah kepada prinsip musuh.Disebut melepaskan prinsip baku dalam syariat Islam dan menyerah kepada prinsip musuh, apabila beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengakui diri bukan seorang rasul. Disebut melepaskan prinsip baku dalam syariat Islam dan mengalah kepada prinsip musuh, apabila beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mencantumkan “Dari Muhammad yang bukan seorang Rasul Allah”.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tidak jadi melakukan umrah pada bulan Dzulqa’dah tahun 6 H tersebut. Mereka harus kembali ke Madinah pada kesempatan tahun tersebut. Mereka baru boleh mengerjakan umrah setahun kemudian.Hal ini sama sekali bukan berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melepaskan prinsip baku dalam syariat Islam dan menerima prinsip musuh. Sebab, tidak ada dalil syar’i yang mengharuskan kaum muslimin untuk melaksanakan umrah pada bulan dan tahun tersebut. Umrah sendiri dalam Islam bukan amalan wajib, melainkan amalan sunah muakkadah. Lagipula, ketika kaum muslimin melaksanakan umrah pada tahun berikutnya, mereka melaksanakannya dengan suasana yang lebih lapang, terhormat, dan mulia. Sementara orang-orang kafir Quraisy memendam kemarahan, kedongkolan, dan rasa malu dalam dada.

Syarat perjanjian Hudaibiyah yang barangkali masih menyisakan sedikit anggapan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melepaskan salah satu prinsip ajaran Islam dan menerima prinsip musuh adalah syarat yang mengharuskan pengembalian orang mukmin yang melarikan diri dari Makkah kepada orang-orang Quraisy. Sebaliknya, orang mukmin yang lari dari Madinah ke Makkah tidak perlu dikembalikan lagi kepada kaum muslimin di Madinah.

Syarat perjanjian yang satu ini memang secara lahiriah sangat menguntungkan kaum kafir Quraisy dan merugikan kaum muslimin. Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu dan mayoritas sahabat bahkan tidak bisa menerima syarat perjanjian ini dengan hati yang tenang dan kepercayaan sepenuhnya kepada keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dari sini sebagian ulama dan cendekiawan muslim kontemporer mungkin beranggapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengalah kepada prinsip musuh, dan melepaskan sebuah prinsip ajaran Islam yang baku.

Anggapan seperti ini tentu saja tidak benar. Keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima butir perjanjian tersebut adalah berdasar wahyu Allah, bukan berasal dari ijtihad Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekedar menjalankan perintah Allah ‘azza wajalla, yang diwahyukan kepada beliau. Beliau tidak mengambil keputusan yang berat tersebut dari hasil pikiran beliau semata. Ketika wahyu perintah Allah ‘azza wajalla sudah datang, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum beriman wajib menerima dan mengamalkannya tanpa sikap protes sedikit pun.

Hal itu ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ahmad:

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ قُرَيْشًا صَالَحُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ: «اكْتُبْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ»، قَالَ سُهَيْلٌ: أَمَّا بِاسْمِ اللهِ، فَمَا نَدْرِي مَا بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَلَكِنِ اكْتُبْ مَا نَعْرِفُ بِاسْمِكَ اللهُمَّ، فَقَالَ: «اكْتُبْ مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ»، قَالُوا: لَوْ عَلِمْنَا أَنَّكَ رَسُولُ اللهِ لَاتَّبَعْنَاكَ، وَلَكِنِ اكْتُبِ اسْمَكَ وَاسْمَ أَبِيكَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اكْتُبْ مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ»، فَاشْتَرَطُوا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ مَنْ جَاءَ مِنْكُمْ لَمْ نَرُدَّهُ عَلَيْكُمْ، وَمَنْ جَاءَكُمْ مِنَّا رَدَدْتُمُوهُ عَلَيْنَا، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَكْتُبُ هَذَا؟ قَالَ: «نَعَمْ، إِنَّهُ مَنْ ذَهَبَ مِنَّا إِلَيْهِمْ فَأَبْعَدَهُ اللهُ، وَمَنْ جَاءَنَا مِنْهُمْ سَيَجْعَلُ اللهُ لَهُ فَرَجًا وَمَخْرَجًا»

Dari Anas bin Malik bahwasanya kaum kafir Quraisy, diwakili oleh Suhail bin Amru, membuat perjanjian damai dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Tulislah bismillahir rahmaanir rahiim!” Suhail bin Amru menukas, “Tentang bismillah, kami tidak mengerti apa itu bismillahir rahmaanir rahiim. Tapi tulislah yang kami kenal, yaitu bismika Allahumma!”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali, “Inilah kesepakatan dari Muhammad Rasul Allah!” Suhail bin Amru menukas, “Andaikata kami mengetahui engkau ini Rasul Allah, kami sudah pasti akan mengikutimu. Tulislah namamu dan nama bapakmu!” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalau begitu tulislah inilah kesepekatan dari Muhammad bin Abdullah!

Lalu orang-orang kafir Quraisy mensyaratkan, “Barangsiapa di antara kalian datang (ke Makkah), maka kami tidak akan mengembalikannya kepada kalian. Adapun barangsiapa di antara kami datang kepada kalian (ke Madinah), kalian wajib mengembalikannya kepada kami.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah butir persyaratan ini juga akan kita tulis (terima)?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ya. Barangsiapa di antara kita pergi kepada mereka, maka semoga Allah akan menjauhkannya dari kita. Dan barangsiapa di antara mereka datang kepada kita, niscaya Allah akan memberikan kepadanya kelapangan dan jalan keluar.” (HR. Muslim: Kitab al-jihad wa as-siyar no. 1784 dan Ahmad no. 13854)   

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa di antara kita pergi kepada mereka, maka semoga Allah menjauhkannya dari kita” menunjukkan bahwa jika ada orang Islam yang keluar dari Madinah dan bergabung dengan orang-orang kafir Quraisy di Makkah, niscaya ia adalah orang munafik. Orang munafik itu memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir. Maka bergabungnya orang munafik tersebut dengan orang-orang kafir adalah maslahat bagi kaum muslimin Madinah.

Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamBarangsiapa di antara mereka datang kepada kita, niscaya Allah akan memberikan kepadanya kelapangan dan jalan keluar” merupakan sebuah pemberitahuan tentang perkara yang akan terjadi pada masa mendatang. Perkara yang akan terjadi pada masa mendatang adalah perkara ghaib. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mampu memberitahukan hal itu, karena beliau menerima wahyu dari Allah ‘azza wajalla. Jadi pernyataan beliau tersebut murni wahyu dari Allah, bukan prediksi dan hasil pikiran beliau sendiri.

Wahyu Allah tersebut memberikan jaminan bahwa jika orang Islam di Makkah melarikan diri ke Madinah dan bergabung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia harus dikembalikan kepada kaum kafir Quraisy di Makkah; maka Allah ‘azza wajalla akan menyelamatkan orang tersebut dan memberikan jalan keluar terbaik kepadanya. Ini jaminan dari Allah ‘azza wajalla akan keselamatan orang Islam tersebut, yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berani menerima persyaratan yang diajukan oleh orang-orang kafir Quraisy ini. Jika jaminan tersebut diberikan langsung oleh Allah ‘azza wajalla, perkara apalagi yang harus dikhawatirkan?

Ketika perjanjian tersebut sedang dibuat, datang ujian pembuktiannya secara langsung. Abu Jandal bin Suhail bin Amru, seorang muslim melarikan diri dari Makkah dan bergabung dengan kaum muslimin di Hudaibiyah, dalam keadaan tangan masih terborgol. Ayahnya adalah Suhail bin Amru, utusan kafir Quraisy yang sedang melakukan perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Suhail bin Amru memborgol dan menyiksa anaknya yang telah masuk Islam, sampai akhirnya ia berhasil melarikan diri.

Suhail bin Amru melihat anaknya kabur dari Makkah dan hadir di perkemahan kaum muslimin. Ia segera menuntut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar menyerahkan anaknya kepadanya, sesuai butir kesepakatan perjanjian Hudaibiyah. Dengan berat hati dan terpaksa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkan Abu Jandal bin Suhail bin Amru kepada bapaknya, untuk dibawa kembali ke Makkah.

Di sinilah terbukti bahwa penerimaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap syarat perjanjian yang secara lahiriah merugikan umat Islam tersebut adalah berdasarkan wahyu Allah ‘azza wajalla. Bukti atas hal itu adalah dialog Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadits panjang dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Hakam, dialog tersebut diriwayatkan dengan sangat jelas.

قَالَ أَبُو جَنْدَلٍ: أَيْ مَعْشَرَ المُسْلِمِينَ، أُرَدُّ إِلَى المُشْرِكِينَ وَقَدْ جِئْتُ مُسْلِمًا، أَلاَ تَرَوْنَ مَا قَدْ لَقِيتُ؟ وَكَانَ قَدْ عُذِّبَ عَذَابًا شَدِيدًا فِي اللَّهِ، فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: أَلَسْتَ نَبِيَّ اللهِ؟ قَالَ: ” بَلَى ” قُلْتُ: أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ؟ وَعَدُوُّنَا عَلَى الْبَاطِلِ؟ قَالَ: ” بَلَى ” قَالَ: قُلْتُ: فَلِمَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا إِذًا؟ قَالَ: ” إِنِّي رَسُولُ اللهِ، وَلَسْتُ أَعْصِيهِ، وَهُوَ نَاصِرِي “. قُلْتُ: أَوَلَسْتَ كُنْتَ تُحَدِّثُنَا أَنَّا سَنَأْتِي الْبَيْتَ فَنَطُوفُ بِهِ؟ قَالَ: ” بَلَى ” قَالَ: ” أَفَأَخْبَرْتُكَ أَنَّكَ تَأْتِيهِ الْعَامَ؟ ” قُلْتُ: لَا. قَالَ: ” فَإِنَّكَ آتِيهِ، وَمُتَطَوِّفٌ بِهِ “،

Abu Jandal bin Suhail bin Amru berkata, “Wahai kaum muslimin, apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik, padahal aku telah datang kepada kalian sebagai seorang muslim. Bukankah kalian juga telah mengetahui berbagai siksaan berat yang telah aku terima?

Karena keislamannya, Abu Jandal telah mengalami siksaan yang berat dari bapaknya. Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Maka aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya ‘Bukankah Anda ini nabi Allah?

Beliau menjawab, “Ya.

Umar bertanya, “Bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan?

Beliau menjawab, “Ya.”

Umar bertanya, “Jika demikian, kenapa kita memberikan kehinaan dalam agama kita?

Beliau menjawab, “Aku adalah Rasul Allah, aku tidak menyelisihi perintah-Nya, dan Dia akan memberikan pertolongan-Nya kepadaku.”

Umar bertanya, “Bukankah Anda telah memberitahukan kepada kami bahwa kami akan mendatangi Baitullah dan melakukan thawaf?

Beliau menjawab, “Apakah aku memberitahukan kepadamu bahwa engkau akan mendatangi Baitullah itu pada tahun ini?

Umar menjawab, “Tidak.”

Beliau bersabda, “Jika begitu, yakinlah, engkau pasti akan mendatangi Baitullah dan melakukan thawaf (meskipun bukan pada tahun ini).” (HR. Bukhari: Kitab Syuruth, Bab Syuruth fil Jihad wal Mushalalah ma’a Ahlil Harbi wa Kitabati Syuruth no. 2731 – 2732)

Umar bin Khathab tidak puas dengan jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Maka ia mendatangi Abu Bakar As-Shiddiq dan terjadilah dialog di antara keduanya.

قَالَ: فَأَتَيْتُ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فَقُلْتُ: يَا أَبَا بَكْرٍ، أَلَيْسَ هَذَا نَبِيُّ اللهِ حَقًّا؟ قَالَ: بَلَى. قُلْتُ: أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ وَعَدُوُّنَا عَلَى الْبَاطِلِ؟ قَالَ: بَلَى. قُلْتُ: فَلِمَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا إِذًا؟ قَالَ: أَيُّهَا الرَّجُلُ، إِنَّهُ رَسُولُ اللهِ، وَلَنْ يَعْصِي رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ نَاصِرُهُ، فَاسْتَمْسِكْ بِغَرْزِهِ، وَقَالَ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ: تَطَوَّفْ بِغَرْزِهِ حَتَّى تَمُوتَ، فَوَاللهِ إِنَّهُ لَعَلَى الْحَقِّ. قُلْتُ: أَوَلَيْسَ كَانَ يُحَدِّثُنَا أَنَّا سَنَأْتِي الْبَيْتَ وَنَطُوفُ بِهِ؟ قَالَ: بَلَى. قَالَ: أَفَأَخْبَرَكَ أَنَّهُ يَأْتِيهِ الْعَامَ؟ قُلْتُ: لَا. قَالَ: فَإِنَّكَ آتِيهِ، وَمُتَطَوِّفٌ بِهِ.

Umar, “Wahai Abu Bakar, bukankah beliau itu benar-benar seorang Nabi Allah?

Abu Bakar, “Tentu saja.”

Umar, “Bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan?

Abu Bakar, “Tentu.”

Umar, “Jika demikian, kenapa kita memberikan kehinaan dalam agama kita?

Abu Bakar, “Wahai Umar, beliau sungguh adalah Rasul Allah. Beliau sekali-kali tidak akan menyelisihi perintah Allah. Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya kepada beliau. Maka peganglah erat-erat “pelana unta beliau” sampai engkau mati. Demi Allah, sungguh beliau benar-benar berada di atas kebenaran.”

Umar, “Bukankah beliau telah memberitahukan kepada kita bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan melakukan thawaf?

Abu Bakar, “Apakah beliau memberitahukan kepadamu bahwa engkau akan mendatangi Baitullah itu pada tahun ini?

Umar, “Tidak.”

Abu Bakar, “Jika begitu, yakinlah, engkau pasti akan mendatangi Baitullah dan melakukan thawaf (meskipun bukan pada tahun ini).” (HR. Bukhari: Kitab Syuruth, Bab Syuruth fil Jihad wal Mushalalah ma’a Ahlil Harbi wa Kitabati Syuruth no. 2731 – 2732)

Bukti bahwa keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah wahyu dari Allah ‘azza wajalla, bukan ijtihad beliau semata, adalah sebagai berikut:

  • Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku adalah Rasul Allah, aku tidak menyelisihi perintah-Nya, dan Dia akan memberikan pertolongan-Nya kepadaku.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis, “Lahiriah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukan sesuatu pun hal dalam perjanjian tersebut, kecuali berdasarkan wahyu.” (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bi-Syarh Shahih Al-Bukhari, juz 6 hlm. 646)
  • Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa di antara mereka datang kepada kita, niscaya Allah akan memberikan kepadanya kelapangan dan jalan keluar.”
  • Firman Allah ‘azza wajalla,

    Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kalian pasti akan memasuki Masjidil Haram, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala kalian atau memendekkannya, sedang kalian tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat. (QS. Al-Fath [48]: 27)Allah Maha Mengetahui. Allah mengetahui perkara-perkara ghaib. Allah mengetahui segala hal yang tidak diketahui oleh manusia. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa di antara makna “Maka Allah mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” adalah bahwa kemaslahatan terbesar bagi kaum muslimin pada saat itu justru berada dalam tercapainya perjanjian damai Hudaibiyah dan ditundanya umrah sampai tahun berikutnya. Adapun makna dari “dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat” adalah perjanjian damai Hudaibiyah.
  • Saat pasukan berkuda orang-orang Quraisy menghadang rombongan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak para sahabat untuk bermusyawarah. Beliau bersabda, “Berilah saya pendapat, wahai orang-orang!” Namun ketika proses negosiasi butir-butir perjanjian tersebut berlangsung, dan kemudian disepakati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan utusan kaum kafir Quraisy, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak mengajak para sahabat untuk bermusyawarah. Beliau juga tidak mau mendiskusikan keberatan-keberatan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu terhadap hasil perjanjian damai tersebut.Seandainya beliau bermusyawarah dengan para sahabat lebih dahulu, barangkali keberatan atau penolakan sahabat terhadap hasil perjanjian damai tersebut akan lebih sedikit. Seandainya beliau mendiskusikan berbagai keberatan dan protes Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu tersebut, barangkali Umar bin Khathab akan lebih bisa memahami sudut pandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengajak para sahabat untuk bermusyawarah lebih dahulu. Beliau juga tidak meladeni satu per satu protes Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu. Beliau dengan tegas dan yakin menjalankan kesepakatan damai tersebut. Sebab, kesepakatan damai tersebut bersumber dari wahyu Allah ‘azza wajalla. Ketika wahyu Allah ‘azza wajalla sudah turun kepada Rasul-Nya, yang dituntut hanyalah mendengarkan dan menaatinya sepenuh hati, tanpa ada rasa berat dan protes sedikit pun, tanpa perlu negosiasi dan musyawarah lagi.Para ulama tafsir, hadits, fikih, dan sejarah telah menegaskan bahwa keputusan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menerima butir persyaratan “pengembalian orang muslim yang melarikan diri dari Makkah kepada orang Quraisy” adalah berdasarkan wahyu Allah ‘azza wajalla, bukan berdasarkan ijtihad beliau sendiri.

 

Imam Ibnu Hazm Az-Zhahiri berkata:

“Maka kita meyakini bahwa informasi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa orang Islam yang datang kepada beliau (dengan melarikan diri) dari kelompok kafir Quraisy niscaya Allah akan menjadikan untuknya kelapangan dan jalan keluar adalah wahyu yang benar dari sisi Allah, tiada campuran (hawa nafsu maupun akal pikiran) di dalamnya. Maka tidak diragukan lagi, orang Islam yang datang kepada beliau dari sisi kaum kafir akan selamat dari bahaya yang tidak disukai baik di dunia maupun di akhirat, sampai ia selamat dengan sempurna dari cengkeraman kaum kafir.”

“Tidak akan ragu-ragu atas hal itu seorang muslim pun yang mau mengkaji dengan cermat. (Informasi yang valid tentang dampak positif dari syarat seperti) ini adalah perkara (ghaib) yang tidak ada seorang manusia pun yang mengetahuinya, sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka tidak halal bagi seorang muslim pun untuk membuat syarat seperti ini maupun memenuhi persyaratan seperti ini. Sebab, ia tidak memiliki pengetahuan tentang perkara yang ghaib, sebagaimana wahyu yang diturunkan Allah ‘azza wajalla kepada Rasul-Nya.” (Ibnu Hazm Al-Andalusi, Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, 5/26)

Al-Qadhi Imam Ibnu Al-Arabi Al-Maliki berkata:

“Adapun butir perjanjian beliau yang mengharuskan beliau untuk mengembalikan orang yang telah masuk Islam kepada orang-orang kafir Quraisy, maka syarat seperti ini tidak boleh diterima oleh seorang pun sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah ‘azza wajalla memperbolehkan syarat tersebut untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena Allah ‘azza wajalla mengetahui syarat tersebut mengandung hikmah dan Allah telah menetapkan maslahat di dalamnya. Setelah syarat tersebut disetujui, Allah memperlihatkan kesudahan yang baik dan hasil yang terpuji dalam Islam, hal yang mendorong orang-orang kafir secara sukarela untuk membatalkan syarat tersebut. Bahkan orang-orang kafir meminta bantuan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menggugurkan butir kesepakatan tersebut.” (Ibnu Al-Arabi Al-Andalusi, Tafsir Ahkam Al-Qur’an, 4/231)

 

Bukti kebenaran wahyu Allah dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kelapangan dan jalan keluar bagi orang Islam yang dikembalikan kepada kaum kafir Quraisy ternyata bisa disaksikan oleh kaum muslimin dan kaum kafir tak lama setelah tercapai kesepakatan perjanjian Hudaibiyah.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam hadits yang panjang dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Hakam dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin kembali ke Madinah. Maka Abu Bashir Utbah bin Asid Ats-Tsaqafi—seorang laki-laki muslim dari suku Quraisy—datang ke Madinah. Orang-orang Quraisy mengirim dua orang laki-laki ke Madinah untuk membawa pulang kembali Abu Bashir. Keduanya mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tunaikanlah kepada kami syarat perjanjian yang engkau buat.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkan Abu Bashir kepada kedua laki-laki itu. Mereka membawanya sampai mereka tiba di Dzulhulaifah. Mereka memakan bekal kurma mereka. Maka Abu Bashir berkata kepada salah seorang di antara keduanya, “Demi Allah, wahai fulan, aku lihat pedangmu itu sangat bagus.” Orang itu mengeluarkan pedangnya dari sarungnya dan menjawab, “Ya, demi Allah, pedangku ini sangat bagus. Aku telah mencobanya. Lalu aku mencobanya lagi. Lalu aku kembali mencobanya. Ternyata ia memang sangat bagus.”

Abu Bashir berkata, “Coba, bolehkah engkau menunjukkan pedangmu kepadaku.” Orang itu pun meminjamkan pedangnya kepada Abu Bashir. Maka Abu Bashir menebaskan pedang itu kepadanya sampai ia tewas. Orang satunya lari segera melarikan diri ke Madinah. Ia masuk ke dalam masjid dengan nafas yang terengah-engah. Saat melihat orang itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang ini telah melihat hal yang mengerikan.”

Setibanya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, orang itu berkata, “Demi Allah, kawanku telah dibunuh, dan aku juga hendak dibunuh.”

فَجَاءَ أَبُو بَصِيرٍ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَدْ وَاللَّهِ أَوْفَى اللَّهُ ذِمَّتَكَ قَدْ رَدَدْتَنِي إِلَيْهِمْ ثُمَّ أَنْجَانِي اللَّهُ مِنْهُمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (وَيْلُ أُمِّهِ مِسْعَرَ حَرْبٍ لَوْ كَانَ لَهُ أَحَدٌ) فَلَمَّا سَمِعَ ذَلِكَ عَرَفَ أَنَّهُ سَيَرُدُّهُ إِلَيْهِمْ فَخَرَجَ حَتَّى أَتَى سِيفَ الْبَحْرِ قَالَ وَيَنْفَلِتُ مِنْهُمْ أَبُو جَنْدَلِ بْنُ سُهَيْلٍ فَلَحِقَ بِأَبِي بَصِيرٍ فَجَعَلَ لَا يَخْرُجُ مِنْ قُرَيْشٍ رَجُلٌ قَدْ أَسْلَمَ إِلَّا لَحِقَ بِأَبِي بَصِيرٍ حَتَّى اجْتَمَعَتْ مِنْهُمْ عِصَابَةٌ فَوَاللَّهِ مَا يَسْمَعُونَ بِعِيرٍ خَرَجَتْ لِقُرَيْشٍ إِلَى الشَّأْمِ إِلَّا اعْتَرَضُوا لَهَا فَقَتَلُوهُمْ وَأَخَذُوا أَمْوَالَهُمْ. فَأَرْسَلَتْ قُرَيْشٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُنَاشِدُهُ بِاللَّهِ وَالرَّحِمِ لَمَّا أَرْسَلَ فَمَنْ أَتَاهُ فَهُوَ آمِنٌ فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ

Lalu Abu Bashir pun kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, demi Allah, Allah telah melunasi tanggung jawab Anda. Anda telah mengembalikan saya kepada mereka (sesuai klausul perjanjian Hudaibiyah), lalu Allah menyelamatkan saya dari mereka.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Duhai, ia bisa menyalakan api peperangan andaikata ada orang lain yang bersamanya.”

Mendengar komentar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, Abu Bashir mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengembalikan dirinya kepada orang-orang kafir Quraisy. Maka Abu Bashir keluar dari kota Madinah dan pergi ke wilayah pesisir pantai yang menjadi jalur perdagangan kaum kafir Quraisy.

Lalu Abu Jandal bin Suhail bin Amru melarikan diri dari Makkah dan bergabung dengan Abu Bashir. Sejak itu tiada ada satu pun orang Quraisy yang telah masuk Islam, melainkan ia akan melarikan diri dan bergabung dengan Abu Bashir. Akhirnya mereka berkumpul menjadi sebuah kelompok yang memiliki kekuatan. Demi Allah, setiap kali mereka mendengar ada satu kafilah dagang Quraisy yang berangkat menuju negeri Syam, melainkan mereka akan menghadangnya, membunuh orang-orangnya, dan merampas harta bendanya.

Orang-orang kafir Quraisy kewalahan atas tindakan kelompok Abu Bashir tersebut. Maka mereka mengirim utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan bersumpah atas nama Allah dan hubungan kekerabatan di antara mereka, utusan itu memohon kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengirim surat perintah kepada kelompok Abu Bashir. Barangsiapa di antara kelompok Abu Bashir datang ke Madinah, niscaya mereka akan mendapatkan keamanan (tidak dikembalikan kepada kaum kafir Quraisy). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim surat kepada kelompok Abu Bashir (untuk menarik mereka semua ke kota Madinah). (HR. Bukhari: Kitab asy-syuruth no. 2731-2732)

Inilah bukti nyata bahwa apa yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjanjian Hudaibiyah adalah berdasar wahyu Allah. Allah memberikan jalan keluar terbaik bagi orang-orang Islam yang melarikan diri dari Makkah pasca perjanjian Hudaibiyah. Orang-orang kafir Quraisy sendiri yang memohon pembatalan klausul perjanjian tersebut, akibat kerugian ekonomi yang mereka alami oleh kelompok Abu Bashir radhiyallahu ‘anhu.

 

ASPEK KEEMPAT: Kaum muslimin justru membatalkan sebagian perjanjian demi memegang prinsip yaitu taat kepada Syariat.

Apa buktinya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin tak memedulikan lagi isi perjanjian, khususnya poin tentang pengembalian pelarian dari Makkah saat wahyu turun tentang haramnya mengembalikan wanita yang hijrah dari Makkah ke Madinah, kembali ke Makkah.

Perjanjian Hudaibiyah mengharuskan kaum muslimin untuk mengembalikan setiap orang Islam yang melarikan diri dari Makkah ke Madinah. Orang Islam tersebut harus dikembalikan kepada kaum kafir Quraisy di Makkah. Butir perjanjian tersebut dilaksanakan oleh kaum muslimin, di antara bukti langsungnya adalah pengembalian Abu Jandal bin Suhail bin Amru kepada bapaknya yang masih kafir.

Lalu Allah ‘azza wajalla menurunkan wahyu-Nya, yang melarang pengembalian wanita muslimah yang kabur dari Makkah. Wanita muslimah yang kabur dari Makkah dan bergabung dengan kaum muslimin di Madinah harus diberi perlindungan. Ia haram untuk dikembalikan kepada keluarganya yang kafir di Makkah.

Begitu wahyu Allah tersebut turun, maka kaum muslimin pun melaksanakannya dengan penuh ketaatan. Mereka hanya mau mengembalikan laki-laki muslim yang kabur dari Makkah, sesuai perjanjian Hudaibiyah. Sedangkan wanita muslimah yang kabur dari Makkah, maka mereka tidak mengembalikannya ke Makkah, karena mereka menaati perintah Allah ‘azza wajalla. Bagi mereka, butir perjanjian Hudaibiyah tidak boleh menyelisihi syariat Allah ‘azza wajalla.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh sahabat mengakui kedaulatan tertinggi di tangan Allah. Syariat Allah lebih tinggi derajatnya dari kesepakatan Hudaibiyah. Kedaulatan Allah adalah yang paling tinggi, baik sebelum, sesaat, maupun sesudah ditanda tanganinya perjanjian Hudaibiyah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengembalikan para wanita muslimah yang berhijrah tersebut kepada kaum kafir Quraisy, meskipun butir perjanjian Hudaibiyah mengharuskan setiap orang Islam yang kabur dari Makkah menuju Madinah harus dikembalikan kepada kaum kafir Quraisy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya berkewajiban melaksanakan wahyu Allah tersebut, meskipun hal itu berarti menganulir sebagian butir perjanjian Hudaibiyah, dan meskipun hal itu membuat orang-orang kafir Quraisy marah. Jika kaum kafir Quraisy marah dan ingin membatalkan perjanjian Hudaibiyah, maka silahkan saja.

Adapun wahyu Allah yang diturunkan pasca perjanjian Hudaibiyah, yang mengharamkan pengembalian wanita muslimah yang kabur dari Makkah, kepada orang-orang kafir di Makkah adalah firman Allah ‘azza wajalla:

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian para wanita yang telah beriman dengan berhijrah kepada kalian, maka ujilah keimanan mereka. Allah yang lebih mengetahui keimanan dalam hati mereka. Jika kalian mengetahui mereka benar-benar telah beriman, maka janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami dan keluarga mereka). Sebab, para wanita yang beriman tersebut tidak halal bagi orang-orang kafir (mantan suami mereka) tersebut dan orang-orang kafir tersebut juga tidak halal bagi wanita-wanita yang beriman tersebut.” [QS. Al-Mumtahanah [60]: 10)

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menulis makna ayat tersebut, “Jika dalam ujian keimanan tersebut para wanita tersebut menerima hal yang menandakan kebenaran iman dan keislaman mereka, maka janganlah kalian mengembalikan para wanita tersebut kepada orang-orang kafir. Perintah ini dikatakan kepada orang-orang yang beriman, sebab butir kesepakatan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang musyrik Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah adalah orang-orang Islam harus mengembalikan kepada orang-orang musyrik siapa pun orang Islam yang datang kepada mereka (di Madinah).”

“Maka syarat tersebut dibatalkan jika berkenaan dengan kaum wanita, jika mereka datang sebagai wanita-wanita yang beriman dan berhijrah. Mereka (begitu tiba di Madinah) diuji keimanannya. Kaum muslimin mendapati kesungguhan iman para wanita tersebut. Maka kaum muslimin diperintahkan untuk tidak mengembalikan para wanita yang telah teruji keimananya tersebut kepada kaum musyrikin. Allah menyatakan bahwa para wanita yang beriman tersebut tidak halal bagi orang-orang (mantan suami mereka) yang kafir, dan orang-orang kafir tersebut juga tidak halal bagi para wanita yang beriman tersebut.” (Ibnu Jarir At-Thabari, Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wil Ayyil Qur’an, 22/578)

Imam Ibnu Katsir menulis, “Ayat inilah yang mengharamkan wanita-wanita muslimah untuk menikah dengan orang-orang musyrik. Pada awal-awal dakwah Islam, orang musyrik boleh menikahi wanita yang beriman.” (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 13/521)

Imam Al-Qurthubi menulis, “Segolongan ulama berpendapat syarat pengembalian kaum wanita kepada orang-orang kafir itu termaktub dalam perjanjian Hudaibiyah dalam bentuk lafal secara sharih (tersurat secara terang-terangan). Maka Allah menaskh (menghapus) syarat pengembalian kaum wanita tersebut dari akad perjanjian dan Allah melarang syarat tersebut. Sementara untuk syarat pengembalian kaum laki-laki (yang telah beriman kepada kaum kafir) tetap dijalankan sebagaimana kesepakatan perjanjian tersebut.”

“Sekelompok ulama lainnya berpendapat bahwa syarat pengembalian kaum wanita (kepada kaum kafir) tidak dicantumkan lafalnya dalam perjanjian Hudaibiyah. Namun secara umum perjanjian tersebut mencantum syarat pengembalian siapa pun yang masuk Islam (dan melarikan diri dari Makkah) kepada kaum kafir. Lahiriah teks perjanjian yang umum tersebut mencakup kaum wanita dan kaum laki-laki. Maka Allah menjelaskan bahwa kaum wanita keluar dari keumuman teks perjanjian tersebut. Allah membedakan antara kaum wanita dan kaum laki-laki (yang masuk Islam) karena dua alasan.

Pertama, mereka (kaum wanita yang beriman) haram dinikahi oleh orang-orang kafir.

Kedua, hati kaum wanita lebih lemah dan lebih mudah untuk berbalik (menjadi wanita murtad) dibandingkan kaum laki-laki. (Al-Qurthubi, Al-Jaami’ li-Ahkam Al-Qur’an, 20/411-412)

Imam Al-Qurthubi juga menulis, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa ayat ini menaskh (menghapus) syarat perjanjian damai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan orang-orang kafir Quraisy. Yaitu syarat beliau harus mengembalikan setiap orang Islam (yang melarikan diri dari Makkah) kepada orang-orang kafir Quraisy. Dihapus dari syarat tersebut adalah pengembalian kaum wanita yang telah beriman. Inilah landasan para ulama yang berpendapat hadits bisa dinaskh oleh ayat Al-Qur’an.”

“Sebagian ulama lainnya berpendapat semua syarat pengembalian orang Islam kepada orang kafir itu telah dinaskh, baik bagi kaum wanita maupun kaum laki-laki. Sehingga seorang imam (khalifah) tidak boleh membuat perjanjian damai dengan musuh, apabila syaratnya adalah mengembalikan orang Islam (yang melarikan diri dari negeri kafir) yang datang kepada imam. Sebab, seorang muslim tidak boleh hidup di negeri kesyirikan. Ini adalah pendapat para ulama Kufah (madzhab Hanafi, edt).” (Al-Qurthubi, Al-Jaami’ li-Ahkam Al-Qur’an, 20/412-413)

 

Makna ayat yang mulia di atas dijelaskan lebih jauh oleh hadits Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Hakam:

عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ مَرْوَانَ وَالْمِسْوَرَ بْنَ مَخْرَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُخْبِرَانِ عَنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمَّا كَاتَبَ سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو يَوْمَئِذٍ كَانَ فِيمَا اشْتَرَطَ سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ لَا يَأْتِيكَ مِنَّا أَحَدٌ وَإِنْ كَانَ عَلَى دِينِكَ إِلَّا رَدَدْتَهُ إِلَيْنَا وَخَلَّيْتَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ فَكَرِهَ الْمُؤْمِنُونَ ذَلِكَ وَامْتَعَضُوا مِنْهُ وَأَبَى سُهَيْلٌ إِلَّا ذَلِكَ فَكَاتَبَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ذَلِكَ فَرَدَّ يَوْمَئِذٍ أَبَا جَنْدَلٍ إِلَى أَبِيهِ سُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو وَلَمْ يَأْتِهِ أَحَدٌ مِنْ الرِّجَالِ إِلَّا رَدَّهُ فِي تِلْكَ الْمُدَّةِ وَإِنْ كَانَ مُسْلِمًا.

وَجَاءَتْ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ وَكَانَتْ أُمُّ كُلْثُومٍ بِنْتُ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ مِمَّنْ خَرَجَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ وَهِيَ عَاتِقٌ فَجَاءَ أَهْلُهَا يَسْأَلُونَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَرْجِعَهَا إِلَيْهِمْ فَلَمْ يَرْجِعْهَا إِلَيْهِمْ لِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِنَّ {إِذَا جَاءَكُمْ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ إِلَى قَوْلِهِ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ} قَالَ عُرْوَةُ فَأَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَمْتَحِنُهُنَّ بِهَذِهِ الْآيَةِ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمْ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ إِلَى غَفُورٌ رَحِيمٌ}

Dari Marwan bin Hakam dan Miswar bin Makhramah dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya ketika Suhail bin Amru membuat surat perjanjian damai dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Suhail bin Amru mengajukan syarat, “Tidak ada seorang pun di antara kami yang datang kepadamu, walaupun ia mengikuti agamamu, melainkan engkau harus mengembalikannya kepada kami dan engkau membiarkan kami memperlakukan dirinya sesuai keinginan kami.”

Kaum muslimin tidak menyukai syarat tersebut dan mereka mendongkol karenanya. Namun Suhail bin Amru hanya mau membuat perjanjian jika syarat itu dipenuhi. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memenuhi persyaratan tersebut. Pada hari itu juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengembalikan Abu Jandal bin Suhail bin Amru kepada bapaknya, Suhail bin Amru. Tidak ada seorang pun yang datang kepada beliau dari Makkah selama masa perjanjian tersebut, walaupun ia orang yang telah beriman, melainkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengembalikannya kepada orang-orang kafir Quraisy.

Lalu para wanita yang telah beriman pun melakukan hijrah ke Madinah. Pada hari-hari itu, di antara wanita mukminah yang hijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Ummu Kultsum bin Uqbah bin Abi Mu’aith. Keluarganya segera menuntut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengembalikannya ke Makkah. Namun beliau tidak mau mengembalikannya kepada keluarganya di Makkah. Sebab, Allah ‘azza wajalla telah menurunkan wahyu-Nya tentang diri para wanita yang beriman tersebut:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian para wanita yang telah beriman dengan berhijrah kepada kalian, maka ujilah keimanan mereka. Allah yang lebih mengetahui keimanan dalam hati mereka. Jika kalian mengetahui mereka benar-benar telah beriman, maka janganlah kalian mengembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami dan keluarga mereka). Sebab, para wanita yang beriman tersebut tidak halal bagi orang-orang kafir (mantan suami mereka) tersebut dan orang-orang kafir tersebut juga tidak halal bagi wanita-wanita yang beriman tersebut.” [QS. Al-Mumtahanah [60]: 10) (HR. Bukhari: Kitab asy-Syuruth no. 2711-2712 dan Kitab Al-Maghazi no. 4180-4181)

 

ASPEK KELIMA: Dalam perjanjian Hudaibiyah maupun dalam hal lain, kaum muslimin senantiasa menjadikan kedaulatan Allah sebagai kedaulatan mutlak. Mereka menerima perjanjian atau tidak, bahkan berperang atau mengajak damai, semua didasarkan pada keputusan utusan Allah.

Pada awal pemberhentian rombongan kaum muslimin di Hudaibiyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh sahabat bersiap sedia untuk memerangi orang-orang Quraisy yang menghalangi rencana umrah mereka. Demikian ditegaskan oleh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Saat berita terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu menyebar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh sahabat bersiap sedia untuk berperang demi menuntut balas nyawa Utsman. Mereka siap sedia untuk berperang dengan gagah berani, tegar, sabar, dan tidak melarikan diri dari musuh, walaupun mereka harus bertempur sampai titik darah penghabisan. Demikian ditegaskan oleh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim. Mereka melakukan sumpah setia atas hal itu, yang dikenal dengan nama Bai’at Ridhwan. Allah memuji, meridhai, dan mengabadikan sumpah setia tersebut dalam surat Al-Fath. Allah meridhai jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berperang untuk tujuan tersebut.

Namun saat Abu Jandal bin Suhail bin Amru harus dikembalikan kepada bapaknya yang masih kafir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengizinkan para sahabat untuk membelanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengambil sumpah setia para sahabat untuk berperang demi menyelamatkan Abu Jandal. Lantas, apa gerangan yang menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat untuk berperang demi membela Abu Jandal?

Tidak lain dan tidak bukan adalah karena kebolehan (ataupun perintah) dan larangan untuk berperang, adalah berdasar wahyu Allah ‘azza wajalla. Allah ‘azza wajalla yang memberi izin atau memberi perintah kaum muslimin untuk berperang. Allah ‘azza wajalla pula yang melarang atau menahan kaum muslimin dari berperang. Adanya izin maupun tiadanya izin berperang, adanya perintah berperang maupun larangan berperang, adalah dari Allah ‘azza wajalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekedar melaksanakan wahyu Allah ‘azza wajalla.

Jadi, berperang atau berdamai, dalam kasus perjanjian Hudaibiyah adalah berdasar wahyu Allah semata. Bukan berasal dari hasil pertimbangan ijtihad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang besar-kecilnya maslahat atau madharat. Allah ‘azza wajalla menegaskan hal itu dengan firman-Nya:

Dia-lah (Allah) yang telah menahan tangan mereka dari (memerangi) kalian dan menahan tangan kalian dari (memerangi) mereka di lembah Makkah, setelah Allah memenangkan kalian atas mereka (dalam Perang Ahzab). Dan Allah terhadap apa yang kalian lakukan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Fath [48]: 24)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan hal itu dengan sabda-Nya, “Unta Qashwa’ tidak mogok, namun ia ditahan oleh Allah yang dahulu telah menahan pasukan gajah.” (HR. Al-Bukhari: Kitab asy-Syuruth no. 2731)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan hal itu dengan sabda-Nya, “Aku adalah Rasul Allah, aku tidak menyelisihi perintah-Nya, dan Dia akan memberikan pertolongan-Nya kepadaku.” (HR. Al-Bukhari: Kitab asy-Syuruth no. 2731)

Perjanjian Hudaibiyah merupakan dalil yang sangat kuat tentang kewajiban kaum muslimin untuk bersabar dan yakin sepenuhnya dengan perintah Allah ‘azza wajalla, menerimanya dengan sepenuh keikhlasan, tanpa keraguan sedikit pun dan tanpa pengurangan prinsip sedikit pun. Perintah Allah harus dipercayai sepenuhnya, melebihi kepercayaan kita kepada hasil pikiran dan pertimbangan akal kita semata.

Inilah pelajaran yang dipetik oleh para sahabat dari perjanjian Hudaibiyah. Mereka sangat menyesal karena lebih percaya kepada perkiraan pikiran mereka, dan sempat meragukan keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka baru menyadari kebenaran keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang merupakan wahyu Allah ‘azza wajalla tersebut, setelah mereka pulang dari Hudaibiyah. Maslahat-maslahat dari keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang merupakan wahyu Allah tersebut, mereka alami langsung pasca perjanjian Hudaibiyah.

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pesan dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat yang ikut dalam peristiwa Hudaibiyah.

عَنْ أَبِي وَائِلٍ لَمَّا قَدِمَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ مِنْ صِفِّينَ أَتَيْنَاهُ نَسْتَخْبِرُهُ فَقَالَ اتَّهِمُوا الرَّأْيَ فَلَقَدْ رَأَيْتُنِي يَوْمَ أَبِي جَنْدَلٍ وَلَوْ أَسْتَطِيعُ أَنْ أَرُدَّ عَلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُ لَرَدَدْتُ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Dari Abu Wail bahwasanya ketika Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu pulang dari Shiffin, kami mendatanginya dan meminta informasi darinya. Maka Sahl bin Hunaif berpesan, “Curigailah (waspadalah terhadap) hasil pikiran kalian semata! Sungguh, aku aku telah melihat kondisi diriku pada hari perjanjian Hudaibiyah saat Abu Jandal (diserahkan kembali kepada keluarganya yang kafir di Makkah). Andaikata pada saat itu aku bisa membantah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya aku akan membantahnya. Ternyata Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui (daripada hasil pikiran akal kami).” (HR. Bukhari: Kitab Al-Jizyah wal muwada’ah no. 3181, Kitab al-Maghazi no. 4189 dan Muslim: Kitab al-jihad was siyar no. 1785)

 

ASPEK KEENAM: Mashalahat dari perjanjian Hudabiyah.

Apa maslahat inti yang dicapai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perjanjian hudaibiyah? Apakah dibiarkan sekedar dibiarkan umroh padahal bisa saja beliau memaksa masuk Makkah dengan perang?

Seandainya perjanjian Hudaibiyah itu berkaitan erat dengan kaedah meraih maslahat yang lebih besar atau menghindari mafsadah yang lebih besar, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menjelaskan pertimbangan sisi-sisi maslahat dan mafsadah tersebut kepada para sahabat. Beliau tentu akan menerima saran dan kritikan para sahabat. Beliau akan mempertimbangkan argumentasi dan keberatan para sahabat. Beliau juga akan melakukan dialog dan musyawarah dengan mereka dalam masalah syarat-syarat perjanjian Hudaibiyah; apakah akan disetujui, atau ditolak, atau diterima dengan beberapa perubahan di sana sini.

Ketika Umar bin Khatab bertanya kepada beliau, “Kenapa kita melakukan kehinaan dalam agama kita?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjawab, “Kita akan menerima syarat-syarat perjanjian dan mengembalikan Abu Jandal ke Makkah, karena di balik itu ada maslahat yang lebih besar.” Beliau justru menjawab, “Saya ini Rasul Allah, dan saya tidak akan menyelisihi perintah-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjelaskan argumentasi-argumentasi yang rasional dari penyerahan Abu Jandal kepada orang-orang kafir Quraisy. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak memaparkan maslahat-maslahat besar di balik peristiwa itu. Padahal di zaman itu tradisi memberi jaminan perlindungan keamanan kepada seseorang sudah menjadi kebiasaan umum.

Allah ‘azza wajalla hendak menguji penerimaan dan ketundukan para sahabat kepada wahyu Allah ‘azza wajalla, meskipun wahyu tersebut menyelisihi pikiran akal sehat mereka dan tradisi mereka. Allah ‘azza wajalla bisa saja menurunkan surat Al-Fath pada saat perundingan Hudaibiyah dilakukan, untuk menentramkan hati mereka. Namun Allah justru menunda penurunan surat Al-Fath sampai saat kaum muslimin pulang dari Hudaibiyah menuju Madinah.

Allah ‘azza wajalla menghendaki kaum muslimin untuk menerima dan tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah ingin kaum muslimin mengikuti perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menerima perjanjian Hudaibiyah, menyembelih hewan ternak, mencukur rambut mereka, dan kembali pulang ke Madinah. Allah ingin mereka mendengar dan taat kepada Rasul-Nya. Setelah mereka mendengar dan menaati perintah Rasul-Nya, barulah Allah menurunkan surat Al-Fath yang menentramkan hati mereka.

Allah dan Rasul-Nya tidak menjelaskan argumentasi-argumentasi yang rasional dan maslahat-maslahat di balik perintah-Nya, untuk meyakinkan mereka sehingga mereka mau menaati perintah Rasul-Nya. Perjanjian Hudaibiyah mengajarkan bahwa hal utama yang diminta dari kaum muslimin adalah keimanan dan ketaatan, bukan diskusi ilmiah tentang maslahat dan mafsadah.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath [48]: 4)

Surat Al-Fath diturunkan dalam perjalanan pulang kaum muslimin dari Hudaibiyah menuju Makkah. Turunnya surat, yang menegaskan perjanjian Hudaibiyah sebagai kemenangan yang nyata, tersebut disambut luapan kegembiraan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sungguh tadi malam telah diturunkan kepadaku sebuah surat yang lebih aku cintai daripada segala hal yang disinari oleh matahari (yaitu dunia dan seisinya). Beliau lantas membacakan surat tersebut: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”. (QS. Al-Fath [48]: 1) (HR. Bukhari: Kitab al-Maghazi no. 4177, At-Tirmidzi no. 3262, Ahmad no. 209, Ibnu Hibban no. 6409, Al-Bazzar, dan Abu Ya’la)

Dalam hadits shahih lainnya yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: لَمَّا انْصَرَفَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْحُدَيْبِيَةِ، نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا} [الفتح: 1-2] “، قَالَ الْمُسْلِمُونَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَنِيئًا لَكَ مَا أَعْطَاكَ اللهُ، فَمَا لَنَا؟ فَنَزَلَتْ: {لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِنْدَ اللهِ فَوْزًا عَظِيمًا} [الفتح: 5] “

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dari Hudaibiyah, turun ayat berikut ini “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan dosamu yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukkan kamu kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Fath [48]: 1-2)

Kaum muslimin berkata, “Wahai Rasulullah, selamat atas karunia Allah kepada Anda ini. Lalu balasan apa yang akan diberikan kepada kami?

Atas pertanyaan para sahabat tersebut, Allah menurunkan wahyu-Nya, Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah.” (QS. Al-Fath [48]: 5) (HR. Muslim: Kitabul jihad was siyar no. 1786, Ahmad no. 12226, Abu Daud At-Thayalisi, Abu ‘Awanah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan lainnya. Lafal ini adalah lafal riwayat Ahmad)

                            

 

 

 

KESIMPULAN 

Dari pemaparan poin-poin bahasan di atas, kita bisa memahami bahwa:

  • Perjanjian Hudaibiyah bukan dalil syar’i yang tepat untuk melegalkan partisipasi partai-partai Islam dan umat Islam dalam pemilu demokrasi.
  • Justru perjanjian Hudaibiyah adalah dalil syar’i atas kewajiban kaum muslimin untuk menjadi pihak yang lebih dominan secara ideologi, ekonomi, politik, dan militer. Hanya dengan hal itulah, kaum muslimin bisa meraih maslahat yang lebih besar saat mereka harus melakukan diplomasi, negosiasi, dan perundingan dengan kekuatan-kekuatan kafir.
  • Perjanjian Hudaibiyah mengajarkan kaum muslimin untuk menerima, meyakini, dan mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan penuh keikhlasan, keyakinan, dan kemantapan. Saat wahyu Allah telah berbicara, maka tiada hak bagi akal pikiran, perasaan, dan hawa nafsu untuk berbicara. Saat wahyu Allah telah memberikan keputusan, maka tidak ada pilihan bagi kaum muslimin selain menyambutnya dengan prinsip ‘Kami mendengar dan kami menaati’.

Wallahu a’lam bish-shawab [Penulis: Fadhlullah/Editor: Musa/istidlal.org]

 

share on: