Perseteruan Abadi antara Keimanan dan Kekufuran

share on:
Keimanan vs Kekufuran

Istidlal.org – Adalah merupakan hikmah Rabbaniyah jika di dunia ini akan senantiasa terjadi peperangan antara pengikut kebenaran dan pengikut kebatilan. Peperangan ini dimulai sejak dari manusia pertama Nabi Adam ‘alaihi wasallam meninggalkan surga. Sedangkan permusuhan antara kedua golongan tersebut dimaklumatkan oleh Rabbul `Izzati dalam ayat :

قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

Allah berfirman,’Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat-tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS. Al A`raf: 24)

Hikmah Rabbaniyah dan undang-undang Ilahi ini terus berlaku, tidak berhenti dan tidak mengalami perubahan. Allah subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui menghendaki akan terjadi pergulatan antara hak dan batil hingga Allah mewariskan bumi dan segala isinya kepada orang-orang yang beriman.

Pertempuran yang di dalamnya tedapat dua barisan yang tidak pernah bertemu selama-lamanya. Yang satu dipimpin oleh para nabi Allah dan pengikutnya sedangkan barisan yang lain dipimpin oleh Iblis dan tentaranya.

Para pemimpin barisan pertama mempunyai pengikut dalam menempuh jalan yang panjang dan terang ini, yaitu para ulama pewaris para nabi dan para juru dakwah yang mengikuti jalan mereka dan menempuh perjalanan hidup berdasarkan petunjuk mereka.

Kemudian pihak yang lain diikuti oleh berbagai macam golongan, yang semuanya dikumpulkan oleh satu komando, yakni kebatilan dan dipimpin oleh satu panglima, yakni Iblis. Mereka berjalan di satu jalan, jalan menuju neraka Jahannam. Dalam barisan ini muncul golongan Ahli Kitab, kaum musyrikin dan orang-orang atheis.

Terhadap tentara-tentara setan dan partai-partainya, Allah telah menjamin untuk tidak memberi pertolongan dan akan dicampakkan rasa takut dalam hati mereka. Meski demikian Allah ta’ala menegaskan bahwa kaum musyrikin tidak akan menghentikan permusuhan mereka terhadap kaum mukminin.

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

“Mereka tiada henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran) seandainya mereka mampu.” (QS. Al Baqarah : 217)

Terhadap golongan Nasrani, maka Allah telah mengabarkan tentang perpecahan yang terjadi di tengah mereka:

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللَّهُ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan di antara orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani’. Ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya, maka Kami timbulkan diantara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat.” (QS. Al Maidah : 14)

Sedangkan terhadap golongan Yahudi, maka Allah `azza wa jalla telah menjamin untuk memadamkan api fitnah mereka :

…وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“…Dan kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan. Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (QS. Al Maidah : 64)

Adapun barisan orang-orang yang beriman, maka Allah telah menjamin untuk memelihara mereka dengan pemeliharaan-Nya, dan menolak tipu daya orang-orang zalim yang hendak ditimpakan kepada mereka, serta membawa mereka kepada kemenangan.

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka tiada sedikitpun dapat membahayakanmu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran : 120)

Peperangan itu telah jelas hasil akhirnya sejak awal, yaitu kemenangan untuk orang-orang beriman, namun kemenangan itu bersyarat. Yaitu senantiasa bersabar dan menjaga ketakwaan di setiap medan pertempuran, mengangkat tinggi bendera Laa ilaaha illallah, bertawakkal kepada Rabb mereka, berjalan di atas manhaj Nabi mereka, serta mengikuti jejak salaf shaleh mereka.

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ….

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka…” (QS. Al An`am: 90)

Peperangan tersebut dikendalikan oleh Rabbul `Izzati dengan `Inayah (pertolongan) Nya dan dijaga dengan pemeliharaan-Nya. Maka dari itu tentara-Nya harus benar-benar bersandar penuh kepada Penciptanya dan berpegang teguh kepada ajaran dien-Nya, serta menjauhi musuh-musuh-Nya dan tentara-tentara setan.

Allah `Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang musyrik:

كَيْفَ يَكُونُ لِلْمُشْرِكِينَ عَهْدٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ رَسُولِهِ إِلا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ….

Bagaimana mungkin ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya terhadap orang-orang musyrik, kecuali orang-orang yang kalian telah mengadakan perjanjian (dengan mereka)…”( QS At Taubah : 7)

Mereka yang hendak menyelisihi hukum ini dan mencoba untuk mencari titik temu untuk mendamaikan kedua pihak yang berseteru, mereka adalah orang yang keliaru. Mengapa demikian? Sebab faktor-faktor perseteruan itu selalu ada sampai hari kiamat. Kebencian, kedengkian dan tipu daya orang-orang kafir dan musyrik akan senantiasa wujud dan tidak pernah akan berhenti sepanjang kita masih memproklamirkan diri bahwa kita adalah orang-orang beriman.

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ

“Katakanlah,‘Hai ahli kitab apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang di turunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelum itu? Dan sesungguhnya kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik.” (QS. Al Maidah: 59)

Dua sebab yang senantiasa wujud dan tidak akan mungkin hilang atau habis. Dua sebab yang menyalakan api permusuhan antara barisan orang-orang beriman dengan orang-orang kafir, antara barisan pembela kebenaran dan barisan pembela kebatilan. Dua sebab itu ialah Keimanan orang-orang beriman dan kekufuran orang-orang kafir dan Ahli Kitab.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ….

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka… (Qs. Al Baqarah : 120)

Permusuhan ini tidak akan berakhir sampai orang-orang muslim murtad dari agamanya dan mengikuti agama Ahli Kitab. Oleh karena itu jika kita hendak memelihara agama kita dan berjalan dengan penjagaan Rabb kita, maka kita harus minta petunjuk dengan petunjuk-Nya, meminta kemenangan hanya dari-Nya dan meminta turunnya rezki serta bantuan hanya dari sisi-Nya. Adapun berkompromi  dengan musuh-musuh Allah di pertengahan jalan, maka hal ini tidak mungkin (tidak boleh) dikerjakan selama-lamanya.

…يُرْضُونَكُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ وَتَأْبَىٰ قُلُوبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فَاسِقُونَ

“…Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedangkan hati mereka menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”(QS At Taubah : 8)

Tanyakanlah kepada lembaran sejarah akan permusuhan mereka terhadap Islam. Pada hari tentara Tartar yang musyrik, memasuki ibu kota Baghdad tahun 656 H. Ibnu Katsir mengisahkan dalam Tarikhnya: “Telah dibunuh kaum muslimin, sebanyak 800.000 jiwa. Dalam riwayat yang lain dikatakan 2 juta jiwa. Khalifah beserta anak-anaknya ditangkap dan dibunuh semua. Para ulama ditangkap dan dilemparkan ke dalam lubang-lubang galian tempat membuang kotoran lalu mereka dijatuhi kotoran dari atas hingga mati. Sebagian lain lari dari kekejaman dan kebiadaban tentara Tartar, memasukkan dirinya (bersembunyi) ke dalam lubang-lubang persembunyian di bawah tanah. Sewaktu maklumat pengampunan diumumkan, mereka keluar dari lubang persembunyiannya, namun wajah mereka telah berubah pucat warna kulitnya. Mereka tak mampu bertahan hidup di luar melainkan hanya beberapa hari saja dan setelah itu mati karena kondisi kesehatan mereka sangat buruk. Tak sampai hanya di situ kebiadaban mereka. Seluruh isi perpustakaan di kota Baghdad dibuang ke sungai Tigris hingga warna airnya berubah biru sampai beberapa bulan lamanya.”

Tengoklah apa yang diperbuat kaum Salibis (Ahli Kitab) tatkala mereka berhasil menguasai Baitul Maqdis. Ibnu Katsir menuturkan dalam tarikhnya: “Tujuh puluh ribu kaum muslimin dibantai di halaman Masjidil Aqsha. Ada salah seorang Nasrani yang menggambarkan pembantaian tersebut. Katanya, “Darah yang tumpah menggenangi tempat pembantaian tersebut, menutup kaki-kaki kuda sampai ke daerah lututnya. Tangan-tangan dan kaki-kaki jenazah mereka yang dibantai terapung di atas genangan darah.”

Pembantaian demi pembantaian dialami oleh kaum muslimin. Kenapa mereka dibantai? Lantaran iman yang bersemayam di sanubari mereka, Islam yang mereka anut sebagai jalan hidup mereka, itu saja….!! Seluruh agama, ideologi dan kepercayaan bersatu padu dalam memusuhi orang-orang beriman di setiap masa dan tempat. Karena ini adalah Sunnatullah. Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Putra Hanafi

Editor: Romidina

share on: