Perusak Fitrah Suci #2: Membangun Keyakinan di Atas Mitos

share on:
Perusak Fitrah Suci #2 Membangun Keyakinan di Atas Mitos-istidlal.org

Di antara akar kesesatan kaum jahiliyah paganis, begitu pula Yahudi dan Nasrani adalah percaya bahkan mengimani cerita mitos yang tidak bisa diterima logika dan tidak ada sumber jelas dari wahyu Rabbani.

Cerita mitos tersebut disebarkan oleh para pengkhianat agama yang tidak bertanggungjawab. Penyembahan terhadap berhala, apapun bentuknya, bermula dari kepercayaan terhadap dongeng dan mitos.

Penyembahan patung pertama terjadi di masa Nabi Nuh Alaihissalaam. Ada orang-orang shalih bernama Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr yang merupakan tokoh ahli ibadah. Ketika orang-orang shalih ini meninggal, para pengikutnya merasa kehilangan guru-guru besar tersebut hingga semangat ibadah mereka pun luntur.

Setan Pengkhianat pun datang membisikkan kepada mereka agar membuat patung berwujud para ahli ibadah tersebut. Fungsinya untuk mengingatkan mereka akan kesungguhan para ahli ibadah tersebut dalam beribadah. Dibuatlah patung Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr. Patung-patung ini menemani ibadah mereka di tempat ibadah. Awalnya, patung-patung ini berfungsi sebagaimana tujuan awalnya. Distorsi muncul di generasi belakangan. Setan pengkhianat membuat cerita bahwa patung-patung tersebut bukan sekadar pajangan namun representasi dari wali-wali Allah yang mampu menghantarkan doa, hajat dan ibadah mereka kepada Allah. Lalu, mereka pun mulai menyembah patung-patung tersebut untuk pertama kalinya di dunia.

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq, dan nasr.’” [Nuh 23]

Baca juga: Demokrasi dan Islam itu Sejak Awal Sudah Kontradiktif

Tak beda halnya dengan paganism di Arab. Kaum musyrikin di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beribadah kepada patung-patung, juga meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan dan mengatur semesta alam, bukan patung-patung yang mereka sembah.

Alasan menyembah patung-patung karena mereka percaya bahwa patung tersebut adalah perwujudan makhluk istimewa yang bisa mendekatkan ibadah mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

 أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [Az-Zumar 3]

Kuatnya kepercayaan terhadap dongeng dan cerita fiktif berdampak pada sikap kaum jahiliyah arab di masa itu seperti perilaku tathayyur, menggantungkan kepercayaan kepada peramal dan dukun, percaya pada khurafat hingga soal penentuan halal dan haram.

Lihat bagaimana mereka membuat keharaman atas dasar paham dan falsafah semu atau dongeng-dongeng seperti yang dilakukan oleh Amr bin Amir Al-Khuza’i. Dalam menentukan mana yang halal dan mana yang haram, alasan mereka sama sekali tak masuk akal.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ وَلَكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” [Al-Maidah: 103]

Imam al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa’d, dari Saleh ibnu Kaisan, dari Ibnu Syihab, dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengata­kan bahwa al-Bahirah adalah unta betina yang air susunya tidak boleh diperah oleh seorang pun karena dikhususkan hanya untuk berhala mereka saja.

Saibah ialah ternak unta yang dibiarkan bebas demi berhala-berhala mereka, dan tidak boleh ada seorang pun yang mempekerjakan­nya serta memuatinya dengan sesuatu pun.

Al-wasilah ialah unta betina yang dilahirkan oleh induknya sebagai anak pertama, kemudian anak keduanya betina pula. Mereka menjadikannya sebagai unta saibah, dibiarkan bebas untuk berhala-berhala mereka, jika antara anak yang pertama dan yang kedua tidak diselingi dengan jenis jantan.

Sedangkan ham ialah unta pejantan yang berhasil menghamili beberapa ekor unta betina dalam jumlah yang tertentu. Apabila telah mencapai bilangan yang ditargetkan, maka mereka membiarkannya hidup bebas dan membebaskannya dari semua pekerjaan, tidak lagi dibebani sesuatu pun, dan mereka menamakannya unta Kami.

Siapa pembuat regulasi ini?

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Aku melihat Amr ibnu Amir Al-Khuza’i menyeret isi perutnya di neraka, dia adalah orang yang mula-mula mengadakan peraturan hewan Saibah.”

Tantanan Jahiliyah yang dibangun dengan kepercayaan mitos, falsafat semu dan cerita fiktif juga ada pada bangsa lain yang dikatakan maju oleh banyak orang, yakni bangsa Yunani dan Romawi, padahal mitos dan falsafat mereka jauh lebih parah dari Jahiliyah Arab di masa lalu.

Lihat saja mitologi Yunani yang penuh dengan cerita-cerita aneh, tak masuk akal bahkan mesum dan tak bermoral. Contohnya, mitos tentang Cronos yang memakan anak-anaknya lalu memuntahkannya kembali setelah berselang beberapa tahun.

Baca juga: Masyarakat Jahiliyah, Ketika Wahyu Tidak Menata Sistem Kehidupan

Cronos diangkat menjadi penguasa alam semesta dan merupakan raja para Titan. Dia mengambil kakaknya sendiri yakni Rhea menjadi isteri.

Pada masa yang sama, saudara Cronos, Oceanus menjadi penguasa lautan manakala Hyperion sebagai dewa matahari. Semasa pemerintahan Cronos, manusia telah diciptakan dan mereka telah mengalami sebuah masa yang sangat membahagiakan iaitu Zaman Emas. Pada zaman itu, tiada penderitaan di dunia.

Pada masa pemerintahan Cronos, manusia mengalami Zaman Emas, sebuah masa yang paling membahagiakan bagi manusia karena tidak ada penderitaan di atas dunia. Apabila menjadi penguasa alam semesta, Cronos tidak membebaskan para Cyclops dan Hecatoncheire yang dikurung di Tartarus oleh ayah mereka, Ouranos padahal mereka adalah alasan baginya untuk menggulingkan kekuasaan dari ayahnya.

Cronos bukan saja tidak membebaskan para Cyclops dan Hecatoncheire malah dia memerintahkan naga Campe untuk menjaga mereka agar tidak terlepas. Hal ini membuat Gaia marah dan mengutuk bahwasanya Cronos akan dikalahkan oleh keturunannya. Ramalan ini turut memperkuatkan kutukan Ouranos.

Cronos memerintah alam semesta selama beratus-ratus tahun dan memiliki beberapa anak. Akan tetapi, Cronos takut suatu hari nanti kutukan Ouranos dan ramalan Gaia akan menjadi kenyataan sehingga dia menelan semua bayi yang dilahirkan oleh isterinya, Rhea.

Rhea menjadi sangat marah kerana semua anaknya ditelan oleh suaminya dan akhirnya berusaha melakukan perlawanan.

Apabila hendak melahirkan anaknya yang keenam, Rhea pergi ke sebuah gua di Pulau Crete dan melahirkan anaknya di sana. Rhea lalu membungkus sebongkah batu dengan kain dan memberikannya kepada Cronos.

Cronos, yang tidak menyadari penipuan Rhea, terus menelan batu yang disangka anaknya itu, sementara bayi yang diberi nama Zeus itu diasuh oleh para nimfa di Pulau Crete. Bayi Zeus beristirahat pada Amaltheia sementara para Kuretes berjaga. Bayi Zeus membesar dengan meminum susu Amaltheia, seekor kambing. Di kemudian hari, Zeus membalas kebaikan Amaltheia dengan menempatkannya di angkasa sebagai rasi bintang Capricorn.

Selain itu, ada juga para Kuretes, mereka adalah sekumpulan prajurit penari yang ikut membantu menyembunyikan Zeus dari Cronos. Apabila Zeus sedang menangis, para Kuretes membuat bunyi bising dengan cara bernyanyi, menari, dan memukulkan tombak pada perisai mereka supaya Cronos tidak mendengar tangisan Zeus.

Setelah tumbuh dewasa, Zeus menikahi Metis, Titaness kebijaksanaan. Zeus juga berusaha mencari cara untuk membalas dendam terhadap perbuatan ayahnya. Dia pun berkonsultasi pada Metis.

Metis membuat suatu minuman ajaib yang telah dicampurkan dengan ramuan daripada Gaia dan menyuruh Zeus untuk memberikannya kepada Cronos. Selepas itu, Rhea meyakinkan Cronos untuk menerima kembali Zeus sebagai pembawa minuman untuk Cronos.

Cronos setuju dan Zeus pun akhirnya memperoleh kesempatannya. Zeus memberikan minuman buatan Metis kepada Cronos. Cronos meminumnya dan tiba-tiba dia mengalami sakit perut yang teramat. Lalu Cronos memuntahkan semua anaknya yang telah ditelan.

Cronos memuntahkan Poseidon, Hades, Hera, Demeter, dan yang terakhir Hestia. Mereka semua adalah dewa yang tetap hidup walaupun sudah ditelan. Zeus, bersama saudara-saudaranya, kemudian menyatakan perang ke atas Cronos dan para Titan. Maka tercetuslah peperangan yang disebut Titanomachy dan akan berlangsung selama sepuluh tahun lamanya.

Baca juga: Ngaji Demokrasi dari Definisi Hingga Posisi

Oleh karena itu masyarakat Yunani dan masyarakat barat pada umumnya, memiliki perilaku yang rusak, perilaku itu dibangun oleh mitos-mitos yang buruk yang diselundupkan oleh para tokoh atau penguasa yang ingin mengikat rakyat dengan cerita-cerita palsu yang dipegang sebagai kepercayaan demi mengukuhkan kekuasaannya.

Ketika para tokoh dan penguasa Theokrasi yang dianggap titisan suci Tuhan melakukan kesalahan dan tindakan bejat, mereka telah terproteksi dengan identitas suci yang dibangun oleh mitos dan kepercayaan palsu tersebut. Kebejatan demi kebejatan, kerusakan demi kerusakan para tokoh dan penguasa yang semakin merajalela pada akhirnya membuat kepercayaan rakyat tentang klaim kesuciannya mulai melemah hingga sampai pada titik nadir dan memantik protes rakyat lalu lahirlah ideologi atau agama baru berupa demokrasi.

Setali tiga uang dengan kisah kaum Nasrani. Ketika Nabi Isa Alaihissalaam telah diangkat oleh Allah ke langit kurang lebih 3 abad, datang setelahnya seorang Yahudi bernama Paulus yang merusak dan mendistorsi wahyu dan agama yang dibawa Isa Alaihissalaam. Maka terjadilah penyimpangan-penyimpangan.

Sudah menjadi sunnatullah ketika Dien dan Wahyu mulai didistorsi isi maupun redaksinya, maka akan rentan dengan banjir penyimpangan-penyimpangan berikutnya hingga keluar dari wajah Dien yang sebenarnya:

فَالْبِدَعُ تَكُونُ فِي أَوَّلِهَا شِبْرًا ثُمَّ تَكْثُرُ فِي الِاتِّبَاعِ حَتَّى تَصِيرَ أَذْرُعًا وَأَمْيَالًا وَفَرَاسِخَ

Bidah pertamanya berupa satu jengkal, kemudian menjadi tersebar dan banyak pengikut hingga meluas menjadi berhasta-hasta, kemudian menjadi bermil-mil dan berfarsakh-farsakh.” [Al-Fatawa, 8/452]

فَإِنَّ الْبِدَعَ تَسْتَدْرِجُ بِصَغِيْرِهَا إِلَى كَبِيْرِهَا حَتَّى يَنْسَلِخَ صَاحِبُهَا مِنَ الدِّيْنِ كَمَا تَنْسَلٌّ الشَّعْرَةُ مِنَ الْعَجِيْن َفَمَفَاسِدُ الْبِدَعِ لَا يَقِفُ عَلَيْهَا إِلَّا أَرْبَابُ الْبَصَائِرِ وَالْعُمْيَانِ ضَالُّوْنَ فِي ظُلْمَةِ الْعَمَى وَمنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْر

Bid’ah bertahap dari kecil hingga menjadi besar, sampai pelakunya terlepas dari din sebagaimana sehelai rambut tercabut dari adonan (tidak ada adonan yang menyisa di helai rambut tsb), maka mafsadah bid’ah tidak bisa dihadapi kecuali oleh orang-orang yang memiliki bashirah (kedalaman ilmu) sementara orang yang buta (dari ilmu) akan sesat dalam gelapnya kebutaan (kebodohan), dan barang siapa yang tidak diberi karunia cahaya (petunjuk) dari Allah maka dia tidak akan memiliki cahaya (petunjuk).” [Madarijus Salikin, 2/224].

Hari ini, memang sudah menjadi era modern. Namun, apakah itu berarti penyembahan terhadap berhala dan kepercayaan terhadap mitos dan dongeng hilang tergerus modernisasi? Tidak. Tatanan Jahiliyah ini masih bertahan, ada yang tetap seperti bentuk semula berupa penyembahan berhala, ada yang telah berevolusi dari berhala batu menjadi berhala rasio, falsafah negara, sains dan sebagainya. Wallahua’lam. (Ibnu Khomis).

 

Baca artikel bagian 1: Perusak Fitrah Suci #1: Tatanan Jahiliyah

share on: