Perusak Fitrah Suci #1: Tatanan Kehidupan Jahiliyah

share on:
Perusak Fitrah Suci #1 Tatanan Kehidupan Jahiliyah-istidlal.org

Islam menegaskan, manusia pada dasarnya terlahir di atas fitrah. Sebuah naluri dasar yang mengakui keberadaan dan kekuasaan Sang Pencipta. Bahkan al-Quran menyebutkan, sejak sebelum lahir, setiap jiwa telah bersaksi bahwa Allah adalah Rabbnya. Lantas, mengapa setelah lahir, manusia banyak yang jadi kafir?

Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, orang tua merupakan faktor utama yang mengubahnya. Namun jika mencerna ayat-ayat lain, tak dipungkiri bahwa selain orang tua, ada faktor-faktor lain yang secara dominan juga menyebabkan manusia melenceng dari fitrahnya. Faktor dominan tersebut di antaranya adalah lingkungan dengan tatanan jahiliyah.

Apa dan bagaimana tatanan jahiliyah merusak fitrah suci manusia, mengubahnya menjadi jiwa-jiwa yang ingkar terhadap Rabbnya, atau mengakui tapi menyekutukannya, atau mengakui namun menolak diatur oleh aturan-Nya?

Baca tulisan ini sampai habis.

 

MENYADARKAN FITRAH: INTI DAKWAH RASUL

Kita mulai dari inti dakwah para rasul. Inti dakwah suluruh Nabi dan Rasul Alaihimussalaam hanya satu: mengajak manusia untuk menetapkan bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah. Beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Surat Al-A’raf, Hud, dan As-Syu’ara memberikan rangkaian cerita tentang tujuan dakwah para Rasul ketika diutus kepada kaumnya. Kronologinya hampir mirip: seorang Rasul mengajak kaumnya untuk menetapkan kalimat laa ilaaha illah dan tidak menyekutukan-Nya dengan berhala atau sesembahan lain.

Berganti kaum, beralih masa, saat kekufuran merajalela, Rasul diutus dengan kalimat yang sama. Para rasul itu seperti satu orang yang berada di waktu dan tempat yang berbeda, sesuai kaumnya.

Ayat di dalam surat Al-Haaqqah seakan membenarkan hal ini. Dalam ayat ini, seluruh kaum yang membangkang dari ajakan Rasulnya disebut dengan kalimat : “عصوا رسول ربهم” (mereka ingkar dengan rasul mereka).

Baca juga: Masyarakat Jahiliyah, Ketika Wahyu Tidak Menata Sistem Kehidupan

Kata “rasul” dalam ayat ini menggunakan bentuk tunggal dan nakirah, arti ringkasnya menjadi ‘Kaum-kaum itu mengingkari (seorang) rasul utusan Rabb mereka’, bukan dengan bentuk jamak “عصوا رسل ربهم” hingga artinya jadi ‘Kaum Kaum-kaum itu mengingkari para rasul utusan Rabb mereka’. Ini menarik.

Seakan-akan para rasul itu satu dan datang dengan membawa pesan dakwah yang sama yaitu ‘Laa Ilaaha Illallah.’

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَجَاءَ فِرْعَوْنُ وَمَنْ قَبْلَهُ وَالْمُؤْتَفِكَاتُ بِالْخَاطِئَةِ (9) فَعَصَوْا رَسُولَ رَبِّهِمْ فَأَخَذَهُمْ أَخْذَةً رَابِيَةً

Dan telah datang Firaun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkir balikkan karena kesalahan yang besar. (9) Maka (masing-masing) mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras.” [QS. Al-Haqqah : 9-10]

 

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan bagimu selain-Nya’. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” [QS. Al-A’raf : 59]

 

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya’. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” [QS. Al-A’raf : 65]

 

PENGESAAN ALLAH, BUKAN MEMBERITAHU KEBERADAAN-NYA.

Kemudian ayat-ayat di atas memberikan penjelasan bahwa para Rasul tidak diutus untuk menyeru kepada kaumnya untuk memberitahu mereka eksistensi Allah.

Mereka tidak mengatakan, “Wahai kaumku di langit ada Rabb yang Maha Pencipta.” Tidak.

Fitrah manusia sudah mengenal dan mengakui eksistensi Allah, bahkan tanpa kebaradaan Rasul sekalipun. Keyakinan atheis tidak dianggap karena pada dasarnya tidak sesuai dengan naluri manusia.

Dakwah para Rasul fokus membenahi keyakinan fitrah yang melenceng, yang berusaha mentransformasikan Allah dengan bentuk riil yang bisa diindera. Lalu, menganggap bahwa itu adalah perwujudan Allah atau bagian dari eksistensi Allah, dan mereka pun menyembahnya.

Oleh karena itu, inti dakwah para Rasul adalah mengajak kaumnya untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Dzat Yang Maha Melihat meski tidak bisa dilihat oleh mata di dunia). Yaitu dengan memberikan pengabdian total hanya kepada-Nya tanpa menduakan pengabdian kepada selain-Nya.

Baca juga: Mempersembahkan Hidup dan Mati Hanya untuk Islam

Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah Ta’ala:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Rabmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rab).” [QS. Al-A’raf : 172]

Orang-orang Atheis yang mengingkari eksistensi Tuhan, secara fitrah tidak sepenuhnya mengingkari keberadaan Tuhan. Pengakuan akan keberadaan Allah sebagai Rabb adalah fitrah yang tidak bisa dipungkiri makhluk, adapun ungkapan mereka sebagaimana yang dikisahkan oleh Al-Qur’an,

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” [QS. Al-Jatsiyah: 24]

Mereka menisbatkan kepunahan karena masa (waktu), yakni tidak ada yang membuat mereka punah dan mati kecuali karena memang perjalanan waktu yang memakan usia dan jasadnya.

Maka menurutnya, waktulah pelakunya. Namun demikian ayat di atas tidak bisa kita pastikan maknanya; bahwa mereka mengingkari eksistensi Rabb (Tuhan).

Adapun sebab utama mereka mengatakan bahwa pelaku utama dalam perubahan dan kepunahan adalah waktu atau alam adalah karena mereka mengingkari wahyu dan mengingkari adanya hari akhir, sehingga berimbas pada klaim bahwa makhluk punah karena masa atau alam.

Kondisi mereka persis seperti kaum musyrik Jahiliyah klasik yang mengingkari hari akhir karena ingkarnya pada wahyu, meski tidak menafikan bahwa mereka tetap mengakui eksistensi Rabb, Dialah khaliq, Dia Rabb ‘Arsy yang agung, dan Dialah Penguasa semesta alam.

قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ (82)

Mereka berkata: ‘Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?’” [QS. Al-Mukminun: 82]

لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَذَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (83)

Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!” [QS. Al-Mukminun: 83]

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84)

Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’” [QS. Al-Mukminun: 84]

سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (85)

Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah: Maka apakah kamu tidak ingat?’” [QS. Al-Mukminun: 85]

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86)

Katakanlah: Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’” [QS. Al-Mukminun: 86]

سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87)

Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah: Maka apakah kamu tidak bertakwa?’” [QS. Al-Mukminun: 87]

قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (88)

Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’” [QS. Al-Mukminun: 88]

سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ (89)

Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah: (Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” [QS. Al-Mukminun: 89]

Dalam ayat lain Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61)

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab: Allah, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” [QS. Al-Ankabut: 61]

 

ATHEIS BUKAN KEYAKINAN “FITRAH” MANUSIA

Sebagai bukti, ketika dominasi dan hegemoni komunis telah tumbang di Eropa, orang-orang kembali ke agama asalnya, apapun agamanya. Ini menunjukkan bahwa Atheism yang dikembangkan oleh komunis bukan keyakinan asli yang ada dalam jiwa manusia, akan tetapi hal baru yang dipaksakan oleh penguasa kepada rakyatnya.

Kesimpulannya, tidak ada manusia yang tidak mengakui Tuhan.

Mereka yang mengklaim “kebebasan” pada hakekatnya telah membuat tuhan yang lebih rendah, yakni menuhankan hawa nafsunya sendiri, menjadikan ide yang keluar dari hawa nafsunya lebih layak diikuti daripada agama atau aturan yang diturunkan oleh Allah Azza Wajalla:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS. Al-Jatsiyah: 23]

Baca juga: Pepesan Kosong Islam Nusantara

Di dunia ini dalam beribadah kepada Allah hanya ada tiga bentuk.

Pertama: beribadah kepada Allah semata dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu-pun

Kedua: beribadah hanya kepada satu atau banyak Ilah selain Allah

Ketiga: beribadah kepada Allah disertai dengan ibadah kepada satu atau banyak Ilah selain Allah.

Maka perlu ditegaskan kembali bahwa akar kesesatan yang terjadi pada pola hidup jahiliyah yang merusak “Laailaahaillallah” adalah syirik; mematerikan tuhan dalam bentuk yang bisa dirasa dan diindra di dunia, atau menjadikan hawa nafsu sebagai Ilah yang diikuti selain Allah dan memaksakannya sebagai tata kelola kehidupan.

Nah, para Rasul Alaihimussalaam diutus oleh Allah Ta’ala untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala dan membersihkannya dari segala bentuk syirik, serta mengajak manusia untuk kembali kepada asli fitrahnya yang lurus.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (30)

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [QS. Ar-Rum: 30]

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ.

Dari Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau majusi, seperti binatang ternak yang melahirkan bayi ternak (sempurna) apakah kamu melihat ada cacat.” [HR. Al-Bukhari No. 1385].

Wallahua’lam bishawab. (Ibnu Khamis)

 

Lanjut baca bagian 2: Perusak Fitrah Suci #2: Membangun Kaykinan di Atas Mitos

share on: