Kekeliruan Prinsip Hidup Masyarakat Musyrik Makkah

share on:
Kekeliruan Prinsip Hidup Masyarakat Musyrik Makkah-istidlal.org

Persoalan mendasar yang terjadi pada diri orang-orang musyrik Makkah terletak pada konsep dasar prinsip hidup yang mereka pegang. Mereka menganggap bahwa kebahagiaan itu hanya sebatas pada kebahagiaan, kesenangan, dan kenyamanan yang dirasakan ketika masa hidup di dunia. Memiliki rumah yang nyaman, lahan perkebunan yang subur dan menghasilkan, pekerjaan yang mapan, logistik yang cukup, dan sarana kehidupan yang memadai.

Jadi, dalam keyakinan mereka, hidup itu ya hanya seperti itu. Tidak lebih. Sehingga, jika ada hal-hal yang mengusik tanah, harta, penghasilan, kebahagiaan, dan kesenangan yang melekat pada diri mereka, dengan secepatnya akan mereka halau. Mereka anggap itu sebagai penentangan dan perusak keharmonisan hidup.

Dengan prinsip hidup materialisme seperti itu, orang-orang musyrik Makkah akan merasa sangat takut kepada hal-hal yang dapat menjauhkan mereka dari harta benda dan mata pencaharian yang selama ini telah mengilusi mereka dengan rasa kebahagiaan.

Baca: Islam Sebagai Diin

Sejak Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam belum diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul pun, sebenarnya orang-orang musyrik Makkah tahu akan karakter-karakter positif pada diri Muhammad.

Bahkan, setelah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai seorang Nabi dan Rasul, mereka pun tahu kalau Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang Nabi yang membawa petunjuk.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru mereka kepada Islam, mereka sama sekali tidak mengingkari adanya hidayah Allah yang beliau bawa. Namun, prinsip dasar hidup yang mereka yakini selama ini telah membungkam akal dan pikiran untuk menerima hidayah tersebut.

Sehingga, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan jalan petunjuk kepada mereka, mereka beralasan takut kehilangan harta benda mereka. Mereka takut diusir dari tanah mereka yang selama ini telah memberikan kebahagiaan hidup.

Kondisi mereka ini persis sebagaimana yang difirmankan Allah ‘azza wajalla,

وَقَالُوْٓا اِنْ نَّتَّبِعِ الْهُدٰى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ اَرْضِنَاۗ اَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَّهُمْ حَرَمًا اٰمِنًا يُّجْبٰٓى اِلَيْهِ ثَمَرٰتُ كُلِّ شَيْءٍ رِّزْقًا مِّنْ لَّدُنَّا وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan mereka berkata, ‘Jika kami mengikuti petunjuk bersama engkau, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.’ (Allah berfirman) Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-Qashash: 57)

Ayat di atas menjelaskan bahwa sebenarnya orang-orang musyrik itu sadar bahwa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah petunjuk atau hidayah. Akan tetapi mindset materialisme telah memenjarakan mereka sehingga memunculkan rasa takut kehilangan, takut tidak bahagia, takut tidak dapat hidup nyaman, dan sebagainya.

Baca: Hidup di Bawah Naungan Syariat, Sudah Siapkah Kita?

Orang-orang musyrik Makkah telah lupa kepada Allah ‘azza wajalla. Mereka lupa bahwa hanya Allah ‘azza wajalla Sang Maha Menjaga. Seluruh daya dan kekuatan di bumi ini tidak ada artinya sama sekali kecuali karena kehendak dan kendali dari Allah ‘azza wajalla.

Semua itu terjadi karena keimanan belum menyelimuti hati mereka. Jika saja keimanan telah merasuk dalam hati mereka, tentu keberadaannya akan mengubah mindset berpikir mereka sehingga membuahkan suatu kekuatan tersendiri.

Mereka akan menjadi paham bahwa rasa aman itu tidak akan didapat kecuali hanya di sisi Allah ‘azza wajalla saja. Rasa takut tidak akan menimpa seseorang kecuali jika menjauh dari petunjuknya. Karena petunjuk atau hidayah itu saling terkait dengan kekuatan dan kemuliaan. Hidayah Allah ‘azza wajalla itulah prinsip hidup yang sebenarnya.

Inilah wujud pemikiran jahiliyah yang menimpa mereka saat itu. Wallahu a’lam [Musa/istidlal.org]

share on: