Prinsip Politik Islam : Keenam, Kesatuan Umat dan Kesatuan Pimpinan

share on:
Umat yang satu

Istidlal.org – Kaum muslimin adalah satu kesatuan umat. Meski mereka beragam dalam hal pemahaman, pilihan madzhab, dan lain-lain; tidak bisa diingkari bahwa mereka adalah satu umat. Sebab Rabb mereka adalah satu, Nabi dan teladan mereka adalah satu, dien mereka adalah satu, kiblat mereka adalah satu, pedoman hidup mereka adalah satu, dan tujuan hidup mereka adalah satu.

Allah SWT menegaskan bahwa umat yang bertauhid sejak zaman Adam sampai hari kiamat kelak adalah umat yang satu, meskipun beragam nabi dan rasulnya, dengan membawa beragam kitab suci dan syariat.

Mereka adalah umat yang satu, setidaknya karena dua hal. Pertama, Rabb yang mereka ibadahi dan mereka berserah diri kepada-Nya dengan sepenuh ketundukan dan ketaatan adalah satu.

Setelah memaparkan kisah para nabi dan rasul secara global, Allah SWT menegaskan dalam surat Al-Anbiya’ dan Al-Mu’minun:

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka sembahlah Aku. (QS. Al-Anbiya’ [21]: 92)

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kalian semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabb kalian, maka bertakwalah kepada-Ku. (QS. Al-Mu’minun [23]: 52)

Kedua, dien mereka adalah satu, pilar utamanya adalah tauhid, dengan memurnikan ibadah hanya kepada Allah SWT dan menjauhi segala bentuk thaghut. Alah SWT berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut itu!” Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl [16]: 36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi melainkan Aku, maka hendaklah kalian semua beribadah kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 25)

Berdasarkan alasan-alasan di atas, dan berdasar maslahat-maslahat syariat lainnya yang sangat agung, dalam kondisi lapang dan bisa memilih, Islam tidak memperbolehkan berbilangnya negara (kerajaan = daulah = khilafah) di tengah umat Islam. Demikian pula, Islam tidak memperbolehkan berbilangnya pemimpin tertinggi (khalifah = amirul mukminin = sultan = raja) di tengah umat Islam.

Inilah pendapat seluruh Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan pendapat mayoritas sekte-sekte kaum muslimin di luar Ahlus Sunnah. Ini sudah menjadi ijma’ (kesepakatan) generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in sebelum kemunculan segelintir individu dari sekte bid’ah yang menyelisihi ijma’ ini.

Ijma’ keharaman berbilangnya khalifah di tengah umat Islam dalam satu zaman yang sama, telah dicatat oleh para ulama Islam seperti Ibnu Hazm, Al-Qurthubi, An-Nawawi, dan lainnya.

Adapun segelintir pribadi dan sekte bid’ah yang menyelisihi ijma’ salaf ini baru muncul belakangan, setelah ijma’ ini tercapai. Mereka yang menyelisihi ijma’ tersebut adalah Al-Jahizh (ulama dan sastawan Mu’tazilah), Muhammad bin Karram dan Abu Shabah As-Samarqandi (tokoh sekte bid’ah Murji’ah Karramiyah), sekte Khawarij Hamziyah, dan sekte Syiah Zaidiyah.

Ijma’ salaf tentang keharaman berbilangnya khalifah di tengah umat Islam dalam satu zaman yang sama, didasarkan kepada sejumlah besar dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Di antara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, keumuman banyak ayat Al-Qur’an yang mewajibkan kaum muslimin untuk bersatu padu dan melarang mereka dari berpecah belah, serta menghasung mereka untuk meraih tujuan yang satu melalui wadah kesatuan umat Islam.

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu karena nikmat Allah, kalian menjadi orang-orang yang bersaudara. (QS. Ali Imran [3]: 103)

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (105)

Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imran [3]: 105)

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (46)

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal [8]: 46)

Kedua, banyak hadits shahih yang mengharamkan berbilangnya khalifah di tengah kaum muslimin. Di antaranya hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut.

Dari Arfajah bin Syuraih Al-Asyja’i RA, ia berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ

Barangsiapa mendatangi kalian sedangkan perkara [kepemimpinan] kalian telah bersepakat atas diri seorang pemimpin, lalu orang yang datang tersebut bertujuan mematahkan tongkat ketaatan kalian atau memecah belah jama’ah [persatuan] kalian maka bunuhlah ia!” (HR. Muslim no. 1853, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 17/366 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 8/169)

Dalam lafal lain:

إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ، فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَهِيَ جَمِيعٌ، فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ “

Barangsiapa ingin memecah belah [kepemimpinan] umat Islam ini sedangkan urusan mereka telah bersepakat atas diri seorang pemimpin, maka tebaslah ia dengan pedang, siapa pun dia!” (HR. Muslim no. 1852, Abu Daud no. 4762, An-Nasai, Ahmad no. 18295, 19000, Ibnu Hibban no. 4406, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra)

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الآخَرَ مِنْهُمَا »

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda, “Jika dua orang dibai’at sebagai khalifah, maka bunuhlah oleh kalian khalifah yang terakhir dibai’atnya.” (HR. Muslim no. 1854)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (( وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنِ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الآخَرِ »

Dari Abdullah bin Amru bin Ash RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa telah membai’at seorang pemimpin, yaitu ia telah memberikan janji setia dan ketulusan hatinya, maka hendaklah ia menaati pemimpin tersebut selama ia mampu. Jika muncul orang lain yang ingin merampas kekuasaan pemimpin tersebut, hendaklah kalian membunuh si perampas tersebut.” (HR. Muslim no. 1844, Abu Daud no. 4248, An-Nasai, Ibnu Majah no. 3956, Ahmad no. 6501, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra)

Dan hadits-hadits shahih lainnya.

Ada beberapa pelajaran penting yang disimpulkan oleh para ulama dari hadits-hadits shahih tersebut.

  1. Keseluruhan hadits tersebut sangat tegas mengharamkan berbilangnya khalifah dalam satu zaman yang bersamaan. Hadits
  2. Keseluruhan hadits shahih tersebut menegaskan kaum muslimin di seluruh dunia hanya boleh diperintah oleh satu institusi khilafah dan satu orang khalifah semata.
  3. Umat Islam di seluruh dunia tidak boleh hidup terpecah-belah dalam banyak negara, dengan masing-masing negara mengklaim sebagai negara berdaula dan dipimpin oleh seorang pemimpin tertinggi (khalifah = amirul mukminin = sultan = raja = amir).
  4. Sistem politik Islam memiliki satu karakter yang tidak dimiliki oleh sistem-sistem politik buatan manusia. Karakter tersebut adalah prinsip bahwa Khilafah Islam tegak di atas kesatuan dunia Islam (Pan Islamisme). Maka seluruh dunia Islam, menurut sistem politik Islam, adalah satu kesatuan yang disatukan dalam naungan Khilafah Islam. Seluruh dunia Islam tidak boleh disekat-sekat dan dipecah-belah oleh paham nasionalisme sempit produk penjajah zionis dan salibis Barat.

Wallahu A’lam bish-shawab.

Penulis: Fadlullah
Editor: Ibnu Rodja

Tags:
share on: