Penerapan Utuh Soal Ridha Muhammad sebagai Nabi dan Rasul

share on:
Penerapan Utuh Soal Ridha Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-istidlal.org

Prinsip ‘Aku ridha Allah sebagai Rabb, dan Islam sebagai agama, dan ridha Muhammad sebagai Nabi dan Rasul’ sering diajarkan kepada setiap generasi muslim di mana pun.

Menurut Syaikh Salman bin Fahd Al-Audah hafizhahullah, ridha Muhammad sebagai nabi dan Rasul itu mencakup empat perkara. Berikut ini poin-poin pentingnya secara ringkas.

  1. Beriman kepada kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
  2. Mengakui wajibnya mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
  3. Mengikuti dan berjalan di atas jalan hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
  4. Membela beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tulisan ini tidak akan merinci keempat hal tersebut secara keseluruhan. Namun hanya akan fokus pada persoalan wajibnya mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Disamping karena terbatasnya ruang, juga karena masalah keimanan kepada nubuwah dan risalah serta pembelaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah cukup familiar di kalangan kaum muslimin secara umum.

Sementara, terkait wajibnya mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sejauh yang kami ketahui, masih banyak yang belum memahami secara benar kewajiban agung ini. Pemahaman sebagian dari kaum muslimin masih bersifat parsial.

Baca juga: Perseteruan Abadi antara Keimanan dan Kekufuran

Idealnya, keyakinan kaum muslimim akan kebenaran nubuwah dan risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam itu sampai pada titik maksimal sehingga membuahkan penghormatan kepada pribadi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun ternyata hal tersebut tidak selalu berarti keyakinan itu membuat mereka bersedia untuk sepenuhnya mengikuti kebenaran yang dibawa oleh rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, tunduk dan patuh sepenuh hati kepada tuntunan dan ajarannya di seluruh aspek kehidupan.

Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah terjadi dialog antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan salah seorang ulama Yahudi. Setelah dialog, terbukti secara meyakinkan kebenaran nubuwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Ternyata hal itu tidak kemudian membuat dirinya terdorong untuk tunduk dan patuh mengikuti ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam Muslim dalam kitab shahihnya menyebutkan sebuah riwayat dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu mengenai peristiwa tersebut.

Tsauban maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan bahwa ketika dia sedang berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, datanglah seorang ulama Yahudi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Semoga kesejahteraan atas dirimu, hai Muhammad.”

Maka aku (Tsauban) mendorong tubuhnya dengan dorongan yang kuat sehingga hampir saja dia terjatuh karena doronganku. Lalu dia berkata kepadaku, “Mengapa kamu menolakku?” Aku menjawab, “Mengapa kamu tidak berkata, ‘Wahai Rasulullah?’” Orang Yahudi itu berkata, “Sesungguhnya aku memanggilnya dengan nama yang diberikan oleh orang tuanya.”

Baca juga: Materi Khutbah Jumat: Beban Ulama Penjaga Akidah

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya namaku Muhammad, itulah nama yang diberikan kepadaku oleh orang tuaku.”

Orang Yahudi itu berkata, “Saya datang kepadamu untuk bertanya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah ada manfaatnya bila saya katakan sesuatu kepadamu?”

Orang Yahudi itu menjawab, “Saya akan mendengarkan dengan baik.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bertanyalah.”

Orang Yahudi itu bertanya, “Di manakah manusia berada pada hari bumi diganti dengan bumi yang lain dan begitu juga langit?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Mereka  berada  di  dalam  kegelapan  sebelum jembatan (sirath).”

Orang Yahudi itu bertanya, “Siapakah manusia yang mula-mula melaluinya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Orang-orang yang fakir dari kalangan Muhajirin.”

Orang Yahudi itu berkata, “Apakah hadiah makanan mereka di saat permulaan mereka memasuki surga?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab; “Lebihan hati ikan Nun.”

Orang Yahudi itu bertanya lagi, “Lalu apakah makanan mereka seterusnya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Disembelihkan  bagi  mereka  sapi  jantan surga  yang  makanannya diambil  dari  pinggiran-pinggiran surga (yakni digembalakan di pinggiran surga).”

Orang Yahudi itu bertanya lagi, “Lalu apakah minuman mereka setelah makan makanan tersebut?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Dari  mata  air  yang  ada  di  dalam  surga yang  disebut  Salsabila.”

Orang Yahudi itu berkata, “Engkau benar.” Lalu dia berkata, “Saya mau bertanya lagi.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kembali, “Apakah ada manfaatnya bila aku katakan kepadamu?”

Orang Yahudi itu berkata, “Saya akan mendengarkan dengan baik.” Orang Yahudi itu mengajukan pertanyaannya, “Apa yang menjadikan seorang anak itu cenderung kepada ayahnya atau ibunya? Atau, apakah yang menjadikan anak itu lahir laki-laki atau perempuan?.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mani orang lelaki itu putih kental dan mani perempuan itu kuning cair, apabila keduanya berkumpul, lalu mani lelaki mengalahkan air mani perempuan, maka dengan izin Allah anaknya menjadi lelaki. Dan apabila air mani perempuan mengalahkan air mani lelaki, maka dengan izin Allah anaknya menjadi perempuan.”

Baca juga: Manhaj Rabbani Risalah Islam

Maka orang Yahudi itu berkata. “Engkau benar, dan engkau benar-benar seorang nabi.”

Bahkan dalam riwayat At-Tirmizi dan lainnya disebutkan: “Bahwa lelaki yang mendatangi nabi itu dua orang. Mereka mencium tangan dan kaki nabi lalu berkata, ‘Engkau benar-benar seorang nabi.’”

Di negeri kita ini, penghormatan dan pengagungan kepada pribadi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih terasa sangat kuat mengakar dalam hati sanubari mayoritas kaum muslimin. Hal itu bisa dilihat dari berbagai syiar yang tampak berupa pelaksanaan sunah-sunah ibadah maupun muamalah hingga sunah-sunah harian nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dikerjakan oleh muslimin di negeri ini. Bahkan pada setiap tahun selalu ada peringatan skala nasional kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang diselenggarakan hingga di Istana Negara.

Namun demikian, masih ada yang kurang rasanya. Ini mengingat konsekuensi dari meyakini kebenaran nubuwah dan penghormatan serta pengagungan kepada pribadi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat lembut, santun, toleran, dan pemaaf, tidak diikuti dengan ittiba’ kepada beliau dalam level kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Masih banyak yang lupa, atau tidak mengerti atau memang menutup mata dari kenyataan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin masyarakat Madinah yang beragam keyakinannya itu dengan ketentuan-ketentuan syariat Allah Ta’ala. Bukan dengan menggunakan sistem hukum dan perundangan yang diimpor dari luar negeri Madinah, baik Persia atau Romawi, imperium besar saat itu, kemudian dibuat kesepakatan bersama masyarakat Madinah sebagai acuan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga: Kalimat Tauhid & Tauhidul Kalimah: Konten Dakwah yang Selalu Dimusuhi

Mestinya para tokoh dan pemimpin umat Islam menyadarkan kaum muslimin di negeri ini bahwa bukti nyata akan kebenaran kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mengikuti seluruh ajaran dan tuntunan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk dalam masalah-masalah yang terkait dengan penyelesaian sengketa dalam masalah darah, harta, dan kehormatan, dengan merujuk kepada ketentuan yang ada dalam syariat Islam. Bukan merujuk kepada sistem hukum pidana yang merupakan warisan penjajah kafir Belanda maupun hukum perdata yang dirumuskan oleh para pakar yang tidak menjadikan hukum Allah dan Rasul-Nya sebagai acuan tertinggi yang tidak boleh dilanggar.

Dan, seharusnya para pemimpin Muslim di negeri ini juga memberikan contoh nyata—sebelum mereka berceramah di acara peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tentang meneladani kepemimpinan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam —bahwa mereka mengikuti jejak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memimpin bangsa Muslim yang besar ini dengan mengelolanya berdasarkan Syariat Islam, sebuah sistem hukum yang sangat selaras dengan  fitrah manusia, bisa diterapkan di segala zaman dan tempat dan memenuhi rasa keadilan umat manusia dengan beragam keyakinan dan suku bangsanya.

Namun semua kemestian di atas ibarat menegakkan benang basah, sebuah asa yang masih terasa sangat mustahil untuk diwujudkan dalam waktu dekat ini. Hal ini dikarenakan sistem tata perundangan di negara ini tidak meletakkan Al Qur’an dan Sunnah sebagai acuan tertingginya.

Sebabnya adalah, negara ini dibangun memang bukan dalam rangka sebagai alat untuk menyempurnakan perwujudan tujuan penciptaan umat manusia yaitu beribadah kepada Allah Ta’ala. Negara yang dibangun di atas konsep negara bangsa ini memandang urusan pengelolaan negara itu bukan wilayah ‘agama’.

Allah Ta’ala telah menentukan salah satu adab mulia yang harus dilakukan setiap muslim dalam kaitannya dengan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya, “…Di dalam ayat ini terkandung larangan keras untuk mendahulukan ucapan siapa pun selain Rasul di atas ucapan beliau, karena sesunguhnya jika sudah jelas sunnah Rasulullah, wajib untuk mengikutinya, dan mendahulukan di atas pendapat siapa pun, dalam keadaan apa pun”. (Taisiru Al-karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di, Dar Ibnul Jauzi Cet. Ke-1, 1422 H, hal. 1687).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi, dan janganlah kalian berkata padanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kalian sedangkan kalian tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat (49): 2)

Baca juga: Dalil-Dalil Syar’i Tentang Wajibnya Mendirikan Khilafah

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam I’lam al-Muwaqqi’in (1/51) menulis, “Jika meninggikan suara mereka di atas suara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebabkan amalan mereka terhapus, maka bagaimana lagi dengan mendahulukan pendapat, logika, perasaan, dan pengetahuan mereka atas ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan meninggikannya di atas ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah hal itu lebih layak untuk menghapuskan amalan mereka?”

Peringatan dari Allah Ta’ala dalam surat al-Hujurat ayat 1-2 di atas perlu menjadi bahan renungan kita semua. Apakah layak bagi sebuah bangsa Muslim yang besar ini, yang setiap tahun begitu gegap gempitanya memperingati hari kelahiran Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk lebih mendahulukan hasil pemikiran orang-orang kafir atau para ahli hukum sekuler dalam masalah hukum dan perundangan-undangan di negeri ini daripada firman Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?

Bagaimana mungkin seorang muslim bisa ridha Muhammad sebagai Nabi dan Rasul namun tidak bersedia untuk mengembalikan seluruh perselisihan yang terjadi di antara mereka dalam masalah harta, darah dan kehormatan kepada keputusan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan justru lebih rela untuk diselesaikan melalui sistem hukum warisan kolonial Belanda? Bukankah Allah Ta’ala telah mengingatkan kita dengan peringatan yang sangat tegas dalam masalah itu? Allah Ta’ala berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’ (4): 65)

Ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan dua orang yang bersengketa. Keduanya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta keputusan beliau. Beliau memenangkan pihak yang benar dan mengalahkan pihak yang salah. Maka pihak yang dikalahkan berkata, “Aku tidak rela (puas).” Pihak yang dimenangkan bertanya, “Lalu apa keinginanmu?” Ia menjawab: “Mari kita pergi kepada Abu Bakar.” Keduanya mendatangi Abu Bakar, lalu pihak yang dimenangkan bercerita, “Kami berselisih dan meminta putusan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memenangkan saya.” Abu Bakar berkata: “Kalau begitu, keputusan untuk kalian berdua adalah seperti yang telah diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Baca juga: Memahami Makna Khilafah, Imamah dan Imaroh

Pihak yang dikalahkan tidak puas. Ia berkata: “Mari kita pergi kepada Umar bin Khathab.” Keduanya mendatangi Umar, lalu pihak yang dimenangkan bercerita, “Kami berselisih dan meminta putusan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memenangkan saya, namun ia tidak puas. Lalu kami mendatangi Abu Bakar’. Abu Bakar berkata: ‘Kalau begitu, keputusan untuk kalian berdua adalah seperti yang telah diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Tapi ia tetap tidak puas.” Umar menanyai pihak yang dikalahkan, dan ia membenarkan cerita pihak yang dimenangkan.

Maka Umar masuk ke dalam rumahnya. Tangannya menghunus sebuah pedang dan ia memenggal kepala orang yang tidak puas tersebut dengan pedangnya. Maka Allah menurunkan ayat di atas: “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman….”

Dalam riwayat Amru bin Zubair disebutkan, Umar bertanya kepada orang yang dikalahkan tersebut untuk mengecek kebenaran penuturan lawan perkaranya, “Apakah memang begitu kejadiannya?”

Orang itu menjawab, “Benar.”

Umar berkata, “Jika begitu, tetaplah engkau di tempatmu ini sehingga aku akan memberi keputusan di antara kalian berdua.”

Umar lalu keluar dari dalam rumah dengan pedang terhunus. Ia memenggal kepala orang yang mengajak kawannya meminta putusan kepada Umar. Kawannya lari terbiri-birit, menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan melapor: “Wahai Rasulullah, Umar membunuh kawan saya. Jika saja saya tidak lari sehingga tidak terkejar olehnya, tentu ia juga akan membunuhku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku menduga Umar tidak akan berani membunuh seorang mukmin.” Maka Allah menurunkan ayat di atas, “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman…” Allah ‘azza wajalla membebaskan Umar dari pembunuhan tersebut. (Ash-Sharim al-Maslul ‘ala Syatim ar-Rasul, hlm. 38)

Inilah hukuman bagi seseorang yang meminta putusan perkara kepada Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma dan tidak puas dengan keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka bagaimana pendapat anda tentang orang-orang yang secara sukarela meminta putusan perkara kepada perundang-undangan positif yang diimpor dari Barat atau Timur, lalu keputusan tersebut didahulukan atas hukum keputusan Allah dan Rasul-Nya?

Baca juga: Kronologi Penciptaan ‘tuhan’ dan Pewarisan Kekufuran

Bila demikian halnya, alangkah pentingnya masing-masing diri kita mengkaji ulang kualitas ittiba’ kita kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita pastikan bahwa kita betul-betul mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lahir dan batin, dalam seluruh urusan tidak menyelisihi prinsip-prinsip yang dicontohkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Bila seperti itu yang telah kita lakukan maka insyaallah kita termasuk orang-orang yang benar-benar ridha Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.

Akhirnya menjadi sinkronlah antara pengakuan kita akan nubuwah dan risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sikap ittiba’ yang tulus dan menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak ada kontradiksi antara iman dan cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dengan cara kita menjalankan kehidupan ini di level individu, masyarakat maupun negara.

Kita menjadi pribadi muslim yang konsisten dan berintegritas. Bukan pribadi muslim yang terpecah kepribadiannya, yaitu menjadi pengagum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam akhlak dan ibadah namun menjauhi Nabi dalam masalah kepemimpinan dan pengelolaan sebuah negara. Nasallullahal ‘afiyah.

Semoga Allah menggolongkan kita semuanya ke dalam kelompok orang-orang yang ridha kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb, Islam sebagai Diin dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi dan Rasul dalam arti kata yang sesungguhnya, dalam pengertiannya yang benar secara syar’i, dan istiqamah hingga akhir hayat kita nanti. (Ibnu Ahmad/istidlal.org)

share on: