Sabar, Kunci Utama Kemenangan Umat Islam

share on:
Perjuangan Islam

 

Allah Ta’ala berfirman, menceritakan tentang Bani Isra’il:

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الأرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

Dan Kami wariskan kepada kamu yang telah ditindas itu, negeri-negeri di bagian timur bumi dan baratnya, yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Isra’il disebabkan kesabaran mereka, Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang mereka dirikan”. (Qs. Al A’raf: 137)

Dengan kesabaran Bani Israil, maka Allah memberi mereka kekuasaan di atas bumi. Huruf Ba’ pada kalimat “bimaa shabaruu” adalah Ba’ Sababiyah, artinya dengan sebab kesabaran mereka, maka Allah memberi kekuasaan kepada mereka di atas bumi, dan mewariskan kepada mereka negeri yang telah diberkahiNya, yakni Negeri Palestina.

Setelah mereka memasuki negeri tersebut sepeninggal nabi Musa ‘alaihissalam, maka mereka memasukinya bersama nabi Dawud ‘alaihissalam dan memasukinya bersama Nabi Sulaiman ‘alaihissalam , Mereka memerintah Palestina dengan dasar tauhid,  yakni dengan kalimat “Laa Ilaaha illallaah”.

Dengan kalimat ini, maka Bani Israil berhak mewarisi negeri Mesir, dan Fir’aun pantas ditenggelamkan karena menindas dan menzalimi Ahli Tauhid. Mereka (yakni Ahli tauhid) berhak mewarisi negeri Mesir sepeninggal Fir’aun, setelah mereka dihinakan dan ditindas serta hidup sebagai warga kelas bawah seperti budak yang hina.

Konon, apabila orang Qibthi (penduduk asli Mesir) hendak membawa barang bawaan, maka mereka memilih salah seorang di antara bani Israil untuk mengangkatnya dan memikulnya, bukannya mencari keledai atau kuda. Maka, setelah itu jadilah mereka sebagai bangsa yang mulia.

Namun beberapa masa kemudian, Allah merubah keadaan itu:

Dan Kami wariskan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri di bagian timur bumi dan baratnya, yang telah Kami beri berkah padanya.”

Dengan sebab kesabaran mereka untuk tetap melangkah di atas jalan Nabi mereka, dan bersabar atas siksaan musuh-musuh mereka dengan harapan besar, Allah akan menurunkan kemenangan dan membuka jalan bagi mereka. Dan dengan sebab kesabaran mereka untuk melaksanakan perintah Rabb mereka, maka akhirnya …

dan sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk bani Isra’il disebabkan kesabaran mereka”.

Busyra (kabar gembira) bagi setiap orang yang sabar dalam kehidupan di dunia dan di akherat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“…ثم يؤتى بأهل البلاء فلا ينصب لهم ميزان ولا ينشر لهم ديوان فيصب لهم الأجر صبا حتى أن أهل العافية ليتمنون في الموقف أن أجسادهم قرضت بالمقاريض من حسن ثواب الله عز وجل لهم”

Kemudian didatangkanlah Ahlul Bala’. Tidak ditegakkan mizan bagi mereka dan tidak pula ditegakkan dewan bagi mereka, dicurahkan kepada mereka pahala yang melimpah ruah sehingga Ahlul ‘Afiyah benar-benar mengangankan seandainya tubuh mereka dipotong dengan gunting lantaran besarnya pahala Allah yang diberikan kepada mereka.” (Dalam sanad riwayat ini ada perawi yang bernama Maja’ah Zubair. Oleh Ahmad, ia dinyatakan tsiqqah, namun oleh Ad Daruquthni ia dilemahkan. Lihat Kitab “Majmu’us Zawaa’id. Juz II hal: 308)

Maka seberapakah arti cobaan ini dibandingkan dengan kenikmatan abadi yang akan didapatkan? Dibandingkan dengan…

…وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ

Dan Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Ali Imran: 133).

Maka dalam memperjuangkan Islam diperlukan kesabaran secara menyeluruh. Sabar dalam menjalankan keta’atan kepada Allah, sabar dalam menjauhi larangan Allah, sabar dalam menerima ketentuan Allah dan  sabar dalam menjaga dan menggunakan nikmat Allah.

Allah ta’ala berfirman :

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An Nahl : 127)

Dikarenakan Sifat Sabar adalah separuh dari agama (dien). Sabar itu kedudukannya seperti kepala terhadap tubuh.  Sebagaimana tidak ada jasad tanpa kepala, maka demikian juga tidak ada agama (dien) tanpa sabar.

Sabar itu menurut ijma’ ulama hukumnya wajib. Kata “washbir” adalah fi’il amar (kata kerja perintah), dan perintah itu menunjukkan suatu kewajiban. Tidak mungkin dapat melewati shirath (titian menuju surga) kecuali orang-orang yang sabar. Dan seseorang tidak mungkin naik ke suatu tempat di sisi Rabbnya kecuali mereka yang sabar dan bersyukur.

Sifat sabar juga merupakan perisai yang kuat lagi kokoh dalam menolak tipu daya musuh-musuh Allah dan rencana-rencana jahat mereka.

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran : 120)

Demikian juga sabar khususnya dalam jihad, maka ia akan membuat malaikat penolong turun:

بَلى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلافٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُسَوِّمِينَ

Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.” (QS. Ali Imran : 125)

Lima ribu malaikat. Menurut Qurthubi dan Hasan Al Bashri serta yang lain, bahwa malaikat yang lima ribu jumlahnya itu disiapkan untuk setiap tentara muslim yang sabar dan mengharapkan balasan dari amal hanya kepada Allah. Jadi setiap tentara yang sabar dan mengharapkan pahala amalnya hanya kepada Allah maka malaikat akan turun kepadanya. Wallahu a’lam [Putra Hanafi/Editor: Romidina]

share on: