Salah Kaprah Memahami Qoulan Layyina Musa kepada Fir’aun

share on:
Musa vs Fir'aun

 اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا

ِArtinya, “Pergilah kalian berdua kepada Firaun dan katakanlah kepadanya perkataan yang lembut.”(QS: Thoha 33-34)

Istidlal.org – Dalam menyikapi ayat ini, kaum muslimin hari ini banyak yang salah paham. Tidak memahami maksud ayat ini dengan benar, sehingga seringkali ayat ini dijadikan sebagai alat untuk mencemooh dan merendahkan dai dan ulama yang berdiri kokoh melawan kezaliman penguasa.

Sering kita mendengar ungkapan, “Nabi Musa saja diperintahkan oleh Allah untuk berkata lembut kepada Firaun, sementara kita, tidak sebaik Nabi Musa dan penguasa kita tidak sejahat Firaun, kok kita menjelek-jelekkan penguasa.

Lebih jauh lagi, oleh sebagian pihak, ayat ini digunakan untuk menyerang para dai dan ulama yang rajin mengingatkan kezaliman dan penyelewengan penguasa. Bagi mereka, berkata lembut itu adalah diam terhadap kezaliman, kemungkaran dan kerusakan yang diperbuat oleh penguasa dan pura-pura buta terhadap prilaku-prilaku yang menyimpang dari penguasa.

Menurut mereka, berkata yang lembut itu adalah ikut dalam acara seremonial dengan penguasa dan mendiamkan penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan padahal semua itu dapat mereka saksikan sendiri dengan mata kepala. Bagi mereka, berkata yang lembut itu memberikan sedikit nasehat dengan suara yang pelan, merendah dan dibarengi dengan aliran deras pujian terhadap para penguasa zalim dan mengabaikan syariat.

Jika ada seorang dai yang berdiri di hadapan penguasa dengan penuh keberanian dan mengingkari penyelewengan penguasa dengan jelas dan tegas, mengingatkan penguasa akan kewajiban-kewajiban yang seharusnya dia lakukan, maka orang-orang tersebut akan berkata bahwa dia telah menyelisihi perintah berkata lembut kepada penguasa.

Lantas seperti apa perkataan lembut dalam ayat ini?

وَقَالَ وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ: قُولَا لَهُ إِنِّي إِلَى الْعَفْوِ وَالْمَغْفِرَةِ أَقْرَبُ مِنِّي إِلَى الْغَضَبِ وَالْعُقُوبَةِ.

Artinya, “Wahb bin Munabbih berkata, “Katakanlah kepadanya (Firaun) bahwa saya lebih dekat kepada ampunan dan maghfirah dari pada kemurkaan dan hukuman.” (Tafsir Ibnu Katsir 5/260)

Sementara Ikrimah berkata bahwa maksud perkataan lembut di atas adalah menyampaikan lailaha illallah.

عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ فَقُولا لَهُ قَوْلًا لَيِّناً أَعْذِرَا إِلَيْهِ قُولَا لَهُ: إِنَّ لَكَ رَبًّا وَلَكَ مَعَادًا، وَإِنَّ بَيْنَ يَدَيْكَ جَنَّةً وَنَارًا

Artinya, “Dari Hasan Al-Bashri, maksud dari katakana kepadanya perkataan yang lembut adalah berikat hujjah kepadanya dengan mengatakan bahwa kamu memiliki Rabb, kamu akan akan dihidupkan kembali dan kamu akan dihadapkan kepada jannah atau neraka. (Tafsir Ibnu Katsir 5/260)

Lantas konten lunak seperti apa yang didakwahkan Musa kepada Firaun? Jika kita mengkaji satu persatu perdebatan hujjah yang disampaikan Musa di depan Fiaun, kita akan memahami bahwa kelembutan penyampaian tidaklah menghilangkan ketegasan dan kejelasan dalam menyampaikan kebenaran.

Untuk memahami Qoulan Layyina Musa dan Harun kepada Firaun, ada baiknya kita membaca pesan-pesan dakwah apa saja yang disampaikan Nabi Musa kepada Firaun.

فَأْتِيا فِرْعَوْنَ فَقُولا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعالَمِينَ (16) أَنْ أَرْسِلْ مَعَنا بَنِي إِسْرائِيلَ (17)

Artinya, “Datanglah kalian berdua kepada Firaun dan katakana kepadanya sesungguhnya kami adalah utusan Rabb semesta alam (16) Bebaskan bersama kami Bani Israil.” (QS Asy-Syuara’ 16-17)

Ibnu Katsir berkata:

أَطْلِقْهُمْ مِنْ إِسَارِكَ وَقَبْضَتِكَ وَقَهْرِكَ وَتَعْذِيبِكَ، فَإِنَّهُمْ عِبَادُ اللَّهِ الْمُؤْمِنُونَ وَحِزْبُهُ الْمُخْلَصُونَ، وَهُمْ مَعَكَ فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ

Artinya, “Bebaskan mereka dari belenggu, cengkraman, paksaan dan siksaanmu, karena mereka hamba-hamba Allah yang beriman dan mereka golongan Allah yang ikhlas.

Inilah perkataan Musa yang pertama kali disampaikan di hadapan Firaun. Berpuluh-puluh tahun lamanya Firaun memperbudak dan menyiksa Bani Israil. Lalu tiba-tiba datang Musa memintanya untuk membebaskan Bani Israil dari perbudakan tersebut. Pesan dakwah yang disampaikan kepada Firaun langsung menyasar kezaliman yang dilakukan oleh Firaun.

Mendengar dakwah Nabi Musa, Firaun kemudian menanggapi pesan nabi Musa dengan mengungkit-ungkit kebaikan yang dia lakukan kepada Musa saat merawatnya. Firaun juga mengingatkan Musa bahwa dulu saat muda, Musa pernah membunuh orang.

Mendengar itu, nabi Musa mengaku bahwa pembunuhan yang dia lakukan itu terjadi sebelum Allah memberi wahyu kepadanya. Dan lebih lanjut Musa mengatakan bahwa kebaikan yang diberikan Firaun kepada dirinya, tidak seberapa jika dibanding dengan perbudakan puluhan tahun yang dilakukan Firaun kepada Bani Israil.

Merasa kalah dengan argumen Musa, Firaun mengalihkan topik pembicaraan dengan mengejek Musa dan berkata:

قالَ فِرْعَوْنُ وَما رَبُّ الْعالَمِينَ

Artinya, “Firaun berkata, “Apa itu Rabb semesta alam.”

Di dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa perkataan ini disampaikan oleh Firaun bukan dalam rangka bertanya tentang hakikat Rabb semesta alam, melainkan bermaksud mencemooh dan menjelekkan Musa.

Namun Musa menjelaskan tentang hakikat Rabb semesta alam. Yaitu Pencipta langit dan bumi, sang Pemilik keduanya dan Zat yang mengatur segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Ini adalah jawaban yang tegas dan langsung menggoyang keangkuhan Firaun. Karena Firaun selama ini mengaku bahwa dirinya dengan kekuatan dan kekuasaanya, dialah yang mengatur bumi ini.

Jika kita melihat konten-konten dakwah yang disampaikan Nabi Musa alaihi salam, maka kita akan mendapati bahwa apa yang disampaikan Nabi Musa kepada Firaun adalah pokok-pokok yang menjadi penyimpangan Firaun.

Dan karena konten dakwahnya, Nabi Musa pun menjadi musush nomor wahid bagi Firaun. Seluruh upaya dilakukan Firaun untuk membungkam dakwah Nabi Musa. Firaun mengerahkan para penyihir andalannya untuk mengalahkan Musa.

Dari sini kita paham, bahwa kelembutan yang disampaikan Musa kepada Firaun, bukanlah kelembutan yang berarti menyampaikan konten-konten yang tidak menyinggung penyimpangan penguasa. Namun, lebih kepada kelembutan dalam hal retorika dan cara penyampaian, dan bukan pada konten dakwah.

Jika kita melihat ayat lain tentang dialog yang terjadi antara Musa dan Firaun, maka kita akan mendapati hal lain dari Qoulan Layyina. Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۖ فَاسْأَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُمْ فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَىٰ مَسْحُورًا() قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

Artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir” (101) Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa” (102)

Ayat di atas menceritakan tentang sembilan mukjizat nabi Musa yang diperlihatkan kepada Firaun. Kesembilan mukjizat tersebut adalah  tangannya yang mengeluarkan cahaya, tongkatnya yang berubah menjadi ular, lisannya yang mampu berbicara dengan baik setelah sebelumnya susah untuk berbicara, membelah lautan, Taufan (banyaknya kematian karena Thoun), wabah belalang, wabah kutu, wabah katak dan air sumur dan sungai yang berubah menjadi darah.

Setelah semua itu Firaun tetap inkar kepada risalah yang dibawa Nabi Musa. Malah menuduh Nabi Musa seseorang yang terkena sihir. Namun oleh nabi Musa tuduhan itu dibantah, bahwa sebenarnya Firaun tahu,  apa yang dibawa oleh Nabi Musa adalah mukjizat yang berasal dari Rabb semesta alam. Dan di akhir perdebatan, Musa menutup perkataannya dengan mengatakan, “Wainni la Adzunnuka ya Firaunu Matsburo.” “Sesungguhnya saya mengira kamu wahai Firaun adalah orang yang celaka.”

Sebuah perkataan yang cukup keras disampaikan kepada Firaun. Jika kita melihat ayat di atas, perkataan itu disampaikan kepada Firaun setelah dia mengingkari mukjizat-mukjizat Musa yang Allah berikan. Berbeda dengan konteks ayat Qoulan Layyina yang disampaikan di awal dakwah kepada Firaun.

Ketegasan Nabi kepada Penguasa Mekkah

Suatu ketika para pembesar Quraisy berkumpul di Hijir Ismail, kemudian mereka membicarakan Rasulullah SAW. Mereka berkata, “Kita sudah sangat sabar terhadap lelaki ini, dia membodoh-bodohkan kita, menghina nenek moyang kita, mencaci-maki agama kita dan memecah-belah persatuan kami dan mencela tuhan-tuhan kita. Kita sudah sabar terhadap hal sebesar ini.

Ketika mereka membicarakan hal itu, datanglah Rasulullah, beliau berjalan hingga mencium rukun Yamani, kemudian Rasul melakukan thowaf, ketika Rasul melewati mereka, mereka mencela apa yang dikatakan Rasul. Mereka terus mencela apa yang dilantunkan oleh Rasulullah setiap Rasul melewati majlis mereka. Setelah hal itu terjadi tiga kali, Rasulullah SAW berkata:

Silahkan dengar wahai pemesar Quraisy, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangannya, saya datang kepada kalian membawa pedang.”

Mendengar apa yang disampaikan Rasul mereka tertegun, seolah di atas kepala mereka ada burung. Lantas kemudian ada yang ingin menenangkan suasana di antara mereka berkata, “Silahkan pergi wahai Abul Qosim.”

Dalam fragmen cerita di atas, hal yang perlu digarisbawahi adalah perkataan Rasulullah SAW kepada para Ulil Amri kota Mekkah ketika itu. Yaitu para pembesar Quraisy. Rasul Berkata, “Saya diutus membawa pedang kepada kalian.” Sebuah perkataan, yang apabila hari ini disampaikan oleh seorang dai kepada penguasa, bisa saja da’i dituduh radikal, dai ini dituduh tidak paham fikih dakwah dan berbagai tuduhan lainnya. Wallahu a’lam bisshowab [Ibnu Rodja]

share on: