Sifat Shidiq sebagai Bekal Aktifis

share on:
Shidiq Kepada Allah

Istidlal.org – Wahai mereka yang telah rida Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai Dinnya, dan Muhammad sebagai nabi dan Rasulnya. Ketahuilah, bahwasanya Allah telah menurunkan ayat dalam Surat At-Taubah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang shiddiq (benar).” (QS At-Taubah: 119)

Ash-Shidqu yang dibicarakan oleh ayat ini ialah kesuaian antara kenyataan dan hakikat, antara yang lahir dan batin. Seandainya dada seorang manusia yang shiddiq itu dibuka, lalu Allah memberikan kepadamu kesempatan untuk melihatnya, niscaya engkau tiada dapati pertentangan antara lahir dan batinnya. Itulah keadaan orang yang benar. Bahkan sebagian mereka batinnya lebih baik daripada lahirnya. Orang orang salaf, semoga Allah meridai mereka, senantiasa berdoa, “Ya Allah, jadikanlah batin kami lebih baik dari lahir kami, dan jadikanlah lahir kami lebih baik.”

Kesesuaian antara Lahir dan Batin

Di antara nikmat Allahk ialah bahwa hati itu senantiasa berhubungan dengan Zat Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib. Suatu rahasia tidak dapat disembunyikan dalam waktu yang lama. Kadang kadang ia akan berpisah dengan lahirnya, namun ia tak akan mampu terus-menerus berpisah, kelak suatu saat keduanya akan bersingkronisasi kembali. Jika batinnya baik, Allah pasti akan menampakkannya, demikian

juga jika batinnya jelek. Dan setiap kali seseorang menyembunyikan suatu rahasia buruk, Allahk akan memperlihatkan melalui kesalahankesalahan lisannya atau melalui roman mukanya. Mustahil seseorang dapat berlama lama menipu dirinya sendiri, karena ia adalah fitrah di mana Allah telah menciptakan manusia berdasarkan fitrah tersebut.

Keadaan lahir manusia akan senantiasa bersesuaian dengan batinnya. Itu merupakan fitrah dari Allah. Apabila garis lahir itu suatu ketika berpisah dengan garis batin, dengan nifak atau dusta atau riya’ atau perbuatan yang serupa itu, maka hal tersebut tidak akan berlangsung lama sebab fitrah yang telah diciptakan Allah tidak akan menerima kebatilan dan tidak akan kompromi dengan kebatilan dalam waktu yang lama.

Setiap fitrah dan setiap hati ingin kembali kepada fitrahnya di mana Allah telah menciptakan berdasarkan fitrah tersebut.

صِبْغَةَ اللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah.” (AlBaqarah: 138)

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rûm: 30)

Dari ayat ini dapatlah diketahui, bahwa fitrah hakiki yang dicelup dan diciptakan oleh Allah dengan Tangan-Nya tidak mampu berdusta atau berbohong dalam waktu yang lama. Dengan peringatan dari seorang dai atau mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, fitrah tersebut akan bergetar keras dan berdoa sehingga mengguncangkan kebohongan dan kebatilan, lalu ia akan mengucapkan kebenaran.

Berapa banyak manusia yang ingin menzalimimu atau mendustaimu atau merencanakan makar jahat terhadapmu, namun ketika dia menghadapi kebenaran dan kesabaranmu yang panjang maka kamu dapati firthrahnya berguncang. Mungkin dengan air matanya mengalir di hadapanmu atau dengan taubat yang jujur melalui tanganmu. Hati yang tidak mampu terusmenerus dalam kebatilan dan kedustaan itu telah terbuka untukmu. [Ibnu Rodja]

share on: