Sifat Wara’ yang Menjaga Perjuangan Islam

share on:
Wara' (ilustrasi)

Istidlal.org – Berapa banyak ketamakan telah merusak agama-agama manusia? Berapa banyak ketamakan memusnahkan harapan umat yang telah berusaha diraih dengan keras? Berapa banyak dai yang hilang ditelan ketamakan terhadap dunia?

Sebaliknya, sepanjang sejarah tidak ada yang dapat menjaga Islam selain sifat wara’ yang dimiliki orang-orang saleh. Engkau pun dapat merasakan bagaimana ketika bergaul dengan orang-orang yang wara’, bagaimana sikap mereka terhadap dinar dan dirham, atau ketika jabatan disodorkan kepada mereka.

Hasan Al-Bashri –radhiyallahu anhu– takjub dengan seorang anak ketika ia ditanya, “Nak, apa yang bisa menjaga agama?” Anak tersebut menjawab, “Sifat wara.” Lalu ia ditanya lagi, “Lalu apa yang membuat agama itu rusak?” Ia menjawab, “Tamak.”

Saudari perempuan Basyar Al-Khafi datang ke Imam Ahmad. “Wahai Imam, apakah saya boleh menenun di bawah cahaya lampu milik orangorang zalim?” Basyar Al-Khafi adalah pemimpin besar. Sebuah lampu besar dengan sinar yang terang diletakkan di rumah, menerangi daerah sekitarnya.

Orang-orang pun memanfaatkan cahaya terang untuk beraktivitas. Saudarinya datang untuk bertanya, apakah boleh ia menenun menggunakan sinar dari lampu tersebut. Imam Ahmad pun bertanya,

“Siapa dia (perempuan) ini?” Dijawab, “Dia saudari perempuan Basyar Al-Khafi.” Lalu Imam Ahmad berkata, “Dari rumahmu, muncullah sifat wara.”

Kita berharap, semoga Allah menyucikan hati-hati kita dari ketamakan terhadap dunia. Semoga Allah tidak menyisakan noktah-noktah dosa dalam diri kita. Ketika dunia tampak bersinar, semua pun berkorban sekeras mungkin untuk meraihnya. Kilat ketamakan terhadap kepemimpinan atau kekuasaan, semuanya mengorbankan kesucian.

Maka sifat wara’ bermula dari bagaimana seseorang memandang akhiratnya. Rasulullah SAW bersabda:

وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ؟

Dunia dibandingkan dengan akhirat seperti seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke lautan. Hendaklah ia melihat apa yang terbawa oleh jarinya setelah tercelup.”  (HR Muslim)

Seberapa banyak air laut yang terbawa oleh jari-jari tersebut?

Di dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:

Dunia dibandingkan akhirat seperti tempat cemeti kalian di surga.”

Dan apa yang dapat menyamai kedudukan cemeti di surga? (Yang diperoleh) manusia di surga, paling sedikit—menurut riwayat Muslim— setara dengan dua kali lipat luasnya bumi. Sementara dalam riwayat Imam Ahmad, sepuluh kalinya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan sadarkanlah hati kalian. Datangi yang pasti, tinggalkan yang meragukan. Waspadai apa yang engkau masukkan ke dalam mulutmu sekaligus yang keluar daripadanya.

Sungguh, yang terpenting untuk kalian jaga adalah mulut dan kemaluan—karena itulah yang akan memasukkanmu ke surga. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ

“Siapa yang mau menjamin bagiku apa yang ada di antara dua jenggot dan dua kakinya, maka aku akan menjamin surga baginya.” (HR Bukhori)

Jagalah mulutmu dari kemasukan barang-barang haram, atau dari hal-hal syubhat, atau dari ucapan yang melampaui batas. Jagalah pula kemaluanmu dari zina, niscaya Rabbmu akan memasukkanmu ke surga. Kita berharap semoga Allah tidak mengharamkan surga bagi kita. [Ibnu Rodja]

 

share on: