Titik Samar Antara Sikap Ghuluw dalam Beragama dan Komitmen Beragama

share on:
Titik Samar Antara Sikap Ghuluw dalam Beragama dan Spirit Religiositas-istidlal.org

Titik Samar Antara Ghuluw dalam Beragama dan Komitmen Beragama

 

Saat melihat anaknya begitu semangat beribadah dan menjauhi yang haram, beberapa orang tua justru khawatir jangan-jangan anaknya terpengaruh paham radikal dan ekstrem atau sikap ghuluw dalam beragama. Bukan bermaksud benci pada agama, namun cinta mereka pada anak-anak membuat mereka cemas kalau-kalau anak mereka menjadi ghuluw dalam beragama. Faktanya, banyak pemuda-pemudi yang sudah terpengaruh paham tersebut.

Kecemasan terhadap penyimpangan anak merupakan hal yang wajar. Bahkan hal tersebut merupakan faktor penting yang mendorong orang tua untuk selalu mengawasi beragam aktivitas anaknya agar bisa memberi bimbingan dan meluruskan.

Perhatian orang tua terhadap penyimpangan anak merupakan langkah awal yang penting dalam proses perbaikan. Ghuluw dalam agama, bagaimanapun adalah pemikiran yang buruk dan berbahaya. Dan wajar pula jika kecemasan tersebut merambah kepada para guru dan pendidik bahwa anak didik mereka dapat pula terjangkiti.

Hal yang jadi masalah adalah ketika kecemasan sebut membuat orang tua sampai menjauhkan anak-anak dari ketaatan beribadah, atau menjadikan anak-anak meninggalkan semangatnya dalam ketaatan dan malah mendorong mereka untuk bermaksiat dengan alasan untuk menjaga anak tersebut dari sikap Ghuluw dalam beragama. Ini jelas keterlaluan. Pendidikan pun jadi menyimpang dan ini adalah bentuk menyia-nyiakan amanah pendidikan anak-anak.

Baca juga: Kenapa Harus Bersyariat Dalam Lingkup Negara?

Hal ini bermula dari kesalahpahaman dalam memahami hubungan antara at-Tadayyun (komitmen beragama) dan sikap Ghuluw dalam beragama, sehingga mengakibatkan pola pikir yang salah yaitu “Komitmen beragama itu menghantarkan seseorang menjadi ghuluw, dan melemahkan tingkat komitmen beragama adalah bentuk penjagaan dari sikap ghuluw.” Pemahaman ini terlalu polos dalam memahami makna ‘ghuluw’. Pemikiran tersebut malah menjatuhkan seseorang dalam penyimpangan baru yang bertolak belakang dari sikap ghuluw.

Ada tiga hal yang harus dipahami dalam persoalan ini:

Pertama: Ghuluw dalam beragama muncul dari penyimpangan pemikiran dan perilaku, bukan dari peningkatan kualitas komitmen beragama.

Sikap ghuluw dalam beragama muncul dari penyimpangan pola pikir sehingga mempengaruhi perilaku manusia, bukan sikap komitmen beragama yang mengubah seseorang menjadi ghuluw dalam beragama. Kesalahpahaman orang tua bersumber anggapan bahwa komitmen beragama mengubah seseorang sedikit demi sedikit menjadi orang yang ghuluw dalam beragama. Ini masalah.

Bagi para pendidik, cara menjaga anak didik dari sikap ghuluw adalah dengan membenahi pola pikir dan meluruskan perilaku-perilaku mereka dan mengawasi jika ada penyimpangan dari dua hal tersebut. Adapun semangat beribadah seseorang tidak ada kaitannya sama sekali dengan sikap ghuluw.

Bahkan sekalipun seseorang itu menambah ibadahnya melebihi batasan syar’i, (semisal) ia puasa setiap harinya dan melaksanakan qiyamullail di seluruh malamnya, walaupun hal ini termasuk ‘sikap berlebihan’ yang dilarang dan perilaku yang menyelisihi syariat, tetapi hal tersebut tidak akan membuat seseorang menjadi ghuluw yang mudah mengkafirkan muslim dan menghalalkan darahnya.

Baca juga: Syariat Islam Yes, Hukum Jahiliyah No

Jadi, jika ibadah yang melebihi batas saja tidak bisa membuat seseorang menjadi ghuluw dalam beragama, apalagi dengan ibadah yang proporsional sesuai syariat, lebih tidak mungkin lagi.

Jadi sebenarnya, sikap ghuluw itu timbul dari penyimpangan pola pikir dan perilaku. Oleh karena itu, keduanya harus selalu mendapat perhatian dan pengawasan agar mudah untuk meluruskannya. Mengabaikan penyebab utama sikap ghuluw dan menyibukkan diri dengan mencurigai komitmen beragama hanya akan mengalihkan seseorang dari titik masalah kepada sesuatu yang bukan penyebab masalah. Ini malah berpotensi menyulut permasalahan baru yang lebih parah.

Sikap ghuluw sendiri masih sangat kasuistik jika dibanding dengan komitmen beragama kaum muslimin secara umum. Semangat mengamalkan syariat dan syiar agama sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad dan para sahabat, juga zaman setelahnya. Mereka getol mengamalkan syariat dan menjaga diri dari yang haram, bahkan saling berlomba dalam melakukannya.

Dari sini kita bisa melihat bahwa sikap ghuluw ini memang kasuistik, baru kita temukan di era akhir hingga bisa dipastikan bahwa penyebabnya bukanlah spirit komitmen beragama yang meningkat. Kalau kita menganggap bahwa sikap ghuluw muncul akibat semangat keberagamaan yang meningkat, maka sama saja kita mengatakan bahwa umat Islam semuanya bersikap ghuluw karena semangat menjalankan agama sudah ada sejak agama ini muncul.

Baca juga: Hijrah, Jalan Perjuangan para Ulama Salaf

Jika sikap ghuluw dianggap menjangkiti mayoritas umat Islam, atau bahkan bagian dari ajaran Islam sendiri, atau bahkan dasar agama ini mengandung sikap ghuluw, maka persoalan ini akan semakin melebar. Dan sebenarnya, anggapan ini lahir dari ketidakjelasan dalam mendefinisikan ghuluw itu sendiri hingga menganggap semangat mengamalkan syariat sebagai indikator ghuluw dalam diri seseorang, bahkan syariat dianggap sebagai sumber sikap ghuluw.

Pemahaman yang salah ini semakin kelewat batas dengan menganggap bahwa sebagian hukum-hukum syar’i sebagai sesuatu yang ghuluw, bahkan ajaran Islam seluruhnya adalah ghuluw. Memukul rata bahwa setiap muslim yang semangat menjalankan Islam adalah ghuluw sangat tidak adil karena persentase ghuluw dibanding muslim yang taat sangat kecil. Mestinya, pencarian akar ghuluw ini diarahkan kepada pemikiran-pemikiran menyimpang yang menyebabkan seseorang menjadi ghuluw, bukan sisi peningkatan komitmen beragamanya.

 

Kedua: At-Tadayyun (komitmen beragama) justru merupakan salah satu benteng agar seseorang tidak terjatuh ke dalam sikap ghuluw.

Hakikat sikap ghuluw adalah penyimpangan dalam beragama. Obatnya adalah meningkatkan semangat menjalankan agama dengan benar, bukan meninggalkannya. Menghentikan semangat beragama agar tidak terjangkit sikap ghuluw itu seperti orang yang menghindari makanan karena takut keracunan, atau orang yang lari dari rumah sakit gara-gara takut terjadi malapraktik. Ini jelas salah kaprah. Takut keracunan dan khawatir terjadi malapraktik itu manusiawi. Solusinya adalah menambah perhatian terhadap makanan yang aman dikonsumsi dan memilih pengobatan-pengobatan yang aman dan mewaspadai praktik pengobatan yang mencurigakan, bukan malah tidak makan dan tidak berobat.

Baca juga: Dalil-Dalil Syar’i Tentang Wajibnya Mendirikan Khilafah

Ada dua hal yang menyebabkan seseorang terjangkit paham ghuluw, yaitu kebodohan dalam agama dan kekosongan spiritual.

Pertama, Kebodohan. Sikap ghuluw tumbuh subur di atas pola pikir yang salah, yang menganggap  sebuah perilaku yang sejatinya salah adalah bagian dari agama. Maka, untuk mengetahui mana yang benar-mana yang salah, dibutuhkan ilmu. Dan semakin jauh masyarakat dari ilmu, sikap ghuluw akan semakin gampang tumbuh subur di dalamnya.

Kedua, kekosongan spiritual. Inilah yang menyebabkan manusia gampang menerima segala bentuk sikap komitmen beragama yang rusak sekalipun.

Untuk menanggulangi sikap ghuluw harus ada tarbiyah/pendidikan intelektual yang benar, dengan komitmen beragama yang benar dan lurus. Paham ghuluw akan sulit menyusup ke masyarakat yang penuh berilmu dengan benar dan memiliki kualiatas komitmen beragama yang lurus. Sebaliknya, jika dua hal tersebut hilang, paham ghuluw akan dengan mudah menyusup.

Dan jika Anda buka kembali sejarah, sejak paham ghuluw pertama muncul, tidak ada seorang pun sahabat Nabi yang mengikuti kelompok Khawarij, tidak pula dari fuqaha’ tabi’in, bahkan orang-orang yang dididik oleh para tabi’in. Pengikut mereka adalah orang-orang tak berilmu dan rakyat jelata yang tidak berilmu dan tidak terdidik dengan baik dalam beragama.

Dua faktor inilah penyebab terpengaruhnya seseorang oleh sikap ghuluw. Maka, meredam semangat  anak-anak dalam menjalankan agama dengan benar justru semakin memudahkan merasuknya pemahaman ghuluw melewati ‘pintu-pintu’ siakp komitmen beragama yang salah.

Seorang ayah yang menyemangati anaknya untuk selalu beragama dengan benar dan menjaga shalat berjamaah, membaca al-Quran, berpuasa sunnah, membiasakan bersedekah, menjaga amalan-amalan yang sunnah, menjauhkan diri dari hal-hal yang haram dan lain sebagainya, berarti telah memberi pendidikan yang kuat pada anaknya. Dengan senantiasa mengerjakan amalan-amalan sunnah dan menjaga amalan-amalan wajib serta berpegang (teguh) dengan syariat maka sikap ghuluw tidak akan mendapatkan jalan untuk mengeksploitasi kurangnya komitmen beragama dan menggantinya dengan komitmen beragama yang bersifat ghuluw.

Baca juga: Iqamatuddin dan Tantangan Praktik Hijrah di Era Pemerintahan Nation State

At-Tadayyun (komitmen beragama) adalah jaminan. Semangat beragama yang benar akan menjadikan anak-anak lebih memuliakan orang tua, menghargai darah manusia, hati-hati menjaga jiwa orang lain, menjauhkan diri dari syubhat, selalu menimbang maslahat dan mudarat, serta memuliakan hak-hak orang lain. Ini bisa menjadi benteng dari paham ghuluw.

Oleh karenanya, untuk menanggulangi sikap ghuluw, jangan mengambinghitamkan sikap komitmen beragama. Apalagi dengan mempersempit ruang komitmen beragama atau bahkan berupaya menghapus sama sekali semangat beragama kecuali jika semangat komitmen beragamanya memang bermasalah.

Di zaman ini, ada pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan phobia masyarakat terhadap sikap ghuluw dengan mengampanyekan metode penanggulangan ghuluw yang sesat, dan memaksa orang agar menerima metode tersebut.

Ketiga: Hidayah berada ditangan Allah ‘azza wajalla.

Hati setiap hamba berada di tangan Allah, sebagaimana firman Allah ‘azza wajalla yang artinya:

“(Dialah Allah) yang menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa kembali kepada-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 27)

Nabi Muhammad sebagai manusia paling dekat dengan Allah sekalipun, hidayahnya bergantung kepada Allah. Adapun manusia biasa yang lemah, dia tidak akan mampu memberikan hidayah kepada seseorang—jika Allah tak menghendaki—meski dengan mencurahkan daya dan upaya.

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada siapa yang engkau kasihi (supaya ia menerima Islam),tetapi Allah lah yang berkuasa memberi hidayah petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk (untuk memeluk Islam).” (QS. Al-Qashash: 56)

Hal yang demikian akan senantiasa mengingatkan seorang muslim agar bertakwa kepada Allah dan selalu merasa diawasi Allah dalam setiap gerak-geriknya. Jangan sampai Allah melihat Anda menjauhkan anak-anak dari ketaatan atau menghasut mereka untuk hal-hal kemaksiatan karena takut mereka terjangkit virus ghuluw. Hati-hati, jangan sampai Allah mendatangkan hukuman kepada Anda dari jalan yang tidak terduga.

Maka kewajiban seorang muslim adalah bertawakal kepada Rabb-nya dan mencurahkan segala kemampuan yang ada agar Allah memberikan hidayah kepada anak-anaknya. Menjauhkan anak-anak dari ketaatan terhadap agama bukanlah sebab yang mendatangkan hidayah, justru hal tersebut adalah penyebab terhalangnya anak-anak dari hidayah Allah ‘azza wajalla . Dikhawatirkan Allah akan menghukum dengan menjungkir balikkan niat pelakunya karena hal yang demikian tadi.

Dan termasuk kewajiban seorang muslim adalah menjauhkan anaknya dari api neraka, sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (yang mana) bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Baca juga: Memahami Makna Khilafah, Imamah dan Imaroh

Dan disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِه

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban yang dipimpinnya.”

Selayaknya setiap muslim mencurahkan segenap daya upaya yang bisa mendekatkan anak-anaknya kepada ketaatan dan menjauhkan mereka daripada kemaksiatan, bukan malah sebaliknya menghalang-halangi dari pada ketaatan dan mendorong mereka untuk berbuat maksiat.

Al-Quran mengatakan bahwa tidaklah seseorang terjatuh dalam kesesatan dan penyimpangan kecuali disebabkan oleh perbuatannya sendiri, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran,

Maka ketika mereka menyimpang (dari kebenaran yang mereka ketahui), Allah simpangkan hati mereka (dari mendapat hidayah petunjuk.” (QS. Ash-Shaf: 5)

Kemudian jika mereka berpaling, maka ketahuilah hanyasanya Allah mau menyiksa mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Maidah: 49)

Dan bahwasanya ketaatan adalah sebab utama untuk mendapatkan penjagaan dan hidayah dari Allah Ta’ala, sebagaimana dalam Al-Quran:

Artinya: “Dan orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh karena memenuhi perintah agama Kami, sesungguhnya Kami akan memberikan petunjuk (untuk menempuh) jalan-jalan kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Maka barangsiapa yang berusaha sedaya upaya menjaga anak-anaknya dari penyimpangan yang sesat, entah itu ghuluw dalam beragama atau keinginan berlepas diri dari agama, maka hendaknya ia menempuh jalan yang menyebabkan hidayah itu datang kepada mereka. Caranya dengan beramal shalih, mendoakan anak, menasehati, mendorongnya agar selalu untuk berbuat baik, serta sabar dalam hal-hal yang demikian ini. Amalan-amalan kebaikan inilah yang menyebabkan datangnya hidayah dan taufik dari Allah. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda sekalian serta menjaga keturunan kita dari paham yang tidak benar. [istidlal.org]

 

Penulis: DR. Fahd bin Shalih al-‘Ajlan
Sumber: albayan.co.uk
Alih bahasa: Al-Maslul

 

 

share on: