Syarat Taat Kepada Ulul Amri

share on:
Syarat Taat Kepada Ulul Amri-istidlal.org

Syarat Taat Kepada Ulul Amri

Allah ‘azza wajalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah ‘azza wajalla memerintahkan kaum beriman untuk melaksanakan beberapa perintah.

Perintah pertama, menaati Allah ‘azza wajalla. Yaitu dengan cara menjalankan perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya dan menjadikan kitab-Nya (Al-Quran) sebagai pedoman hidup.

Perintah Kedua, menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu dengan cara menjalankan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjauhi larangan beliau, menjadikan Sunnah beliau (hadits) sebagai sumber hukum setelah Al-Quran, dan menjadikan sosok beliau sebagai suri teladan dalam seluruh aspek kehidupan.

Perintah ketiga, menaati ulul amri kaum muslimin.

Perintah keempat, apabila terjadi perselisihan antara ulul amri dengan kaum muslimin, atau antara rakyat dengan rakyat, maka mereka wajib mengembalikan penyelesaian masalahnya kepada tuntunan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

TAAT KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM

Setelah menyatakan “taatilah Allah”, ayat di atas menyatakan “dan taatilah Rasul”. Perintah “taatilah” diulang sebanyak dua kali, yaitu setelah nama Allah dan nama Rasul. Dalam bahasa Arab, kata sambung “dan” sudah mewakili, sehingga andaikata difirmankan “taatilah Allah dan Rasul” semata, itu sudah cukup.

Namun ternyata ayat tersebut tidak mencukupkan diri dengan kata sambung “dan”. Ayat tersebut mengulang penyebutan “taatilah”, setelah adanya kata sambung “dan”. Sehingga ayatnya berbunyi “taatilah Allah dan taatilah Rasul”. Para ulama bahasa, ulama tafsir, dan ulama ushul fikih menjelaskan bahwa pengulangan kata “taatilah” tersebut setidaknya memiliki dua manfaat.

Manfaat pertama, untuk menegaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama nilainya dengan ketaatan kepada Allah ‘azza wajalla. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, yang menyampaikan dan mengajarkan wahyu-Nya kepada umatnya. Sehingga, membangkang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama nilainya dengan membangkang kepada Allah ‘azza wajalla.

Materi Khutbah Jumat: Iman Sebagai Identitas Seorang Muslim

Sebagaimana ditegaskan oleh firman Allah ‘azza wajalla,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah. (QS. An-Nisa’ [4]: 80)

Manfaat kedua, untuk menjelaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya dalam perintah beliau dan larangan beliau yang tercantum dalilnya secara tegas dalam Al-Quran semata. Namun ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berlaku untuk perintah beliau dan larangan beliau yang perkaranya belum tercantum dalam Al-Quran.

Maksudnya adalah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi tambahan atas perintah Allah di dalam Al-Quran, dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi tambahan atas larangan Allah di dalam Al-Quran. Kaum beriman wajib menaati perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan larangan beliau yang bersifat “tambahan” atas perintah Allah dan larangan-Nya dalam Al-Quran.

Contoh:

– Al-Quran mengharamkan bangkai, darah, dan daging babi. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan perkara lainnya, yaitu daging anjing.

– Al-Quran mengharamkan seorang suami memadu istrinya dengan saudari perempuannya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan perkara lainnya, yaitu memadu istri dengan bibinya.

– Al-Quran menetapkan hukuman dera bagi orang yang berzina. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan hukuman rajam, khusus bagi pezina laki-laki maupun pezina perempuan yang secara sah telah menikah.

Perkara-perkara yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut sama nilainya dengan perkara-perkara yang ditetapkan oleh Allah ‘azza wajalla, meskipun tidak tercantum di dalam Al-Quran. Demikian pula, perkara-perkara yang beliau larang tersebut sama nilainya dengan perkara-perkara yang dilarang oleh Allah ‘azza wajalla, meskipun tidak tercantum di dalam Al-Quran.

Sebab, tambahan perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut berasal dari wahyu Allah ‘azza wajalla, bukan berdasar akal pikiran atau hawa nafsu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu sebagaimana difirmankan oleh Allah ‘azza wajalla,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ العِقَابِ

“Apa pun yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dia. Dan apa pun yang dilarang Rasul atas kalian, maka tinggalkanlah! Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Dan tiadalah ia (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm [53]: 3-4)

Baca: Kunci Kerukunan dan Kerekatan Ukhuwah dalam Berjamaah

Karenanya, Allah ‘azza wajalla menyejajarkan apa yang dihalalkan dan diharamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah ‘azza wajalla.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari akhir dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah).” (QS. At-Taubah [9]: 29)

Dari Miqdam bin Ma’di Karib Al-Kindi bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ الْكِنْدِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ، أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

Ketahuilah, sesungguhnya telah dikaruniakan kepadaku Al-Quran dan aku juga diberi wahyu yang semisal dengannya (yaitu Sunnah Rasulullah atau hadits). Ketahuilah, sesungguhnya telah dikaruniakan kepadaku Al-Quran dan aku juga diberi wahyu yang semisal dengannya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Thabarani, Al-Baihaqi, Ad-Daraquthni, At-Thahawi dan lainnya)

 

SYARAT TAAT KEPADA ULUL AMRI

Perintah taat kepada ulul amri dalam ayat di atas hanya disebutkan dengan kata sambung “dan”. Tidak ada pengulangan kata “taatilah” sebelum penyebutan “ulul amri”. Hal itu menunjukkan bahwa ketaatan kepada ulul amri itu berbeda dari ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bersifat mutlak, harus dilaksanakan, tanpa membantah, tanpa memprotes, dan tanpa merasa berat hati. Sebab, ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berarti melaksanakan syariat Islam. Adapun ketaatan kepada ulul amri itu bersifat terbatas, tidak mutlak, dan bersyarat.

Berdasarkan dalil-dalil Al-Quran dan hadits-hadits shahih, para ulama menyimpulkan bahwa ulul amri hanya wajib ditaati apabila ia memenuhi beberapa persyaratan.

Syarat pertama, ulul amri tersebut berasal dari golongan kaum mukmin. Artinya, mereka adalah orang-orang yang beragama Islam, berakal sehat, berusia baligh, dan laki-laki. Hal itu berdasar firman Allah di atas, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulul amri di antara kalian.” Kata “di antara kalian” dalam ayat ini kembali kepada “wahai orang-orang yang beriman”. Sehingga, non-muslim tidak sah menjadi ulul amri atas kaum muslimin.

Syarat kedua, ulul amri memimpin rakyatnya berdasarkan syariat Allah, yaitu berlandaskan Al-Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu berdasar hadits shahih berikut ini. Dari Ummu Hushain Al-Ahmasiyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya menunaikan haji Wada’ bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam khutbah wada’-nya, Rasulullah menyabdakan panyak perkara. Lalu dalam khutbah itu saya juga mendengar beliau bersabda:

إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ مُجَدَّعٌ أَسْوَدُ يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا

 “Jika seorang budak yang hidungnya terpotong dan kulitnya hitam diangkat menjadi pemimpin kalian, selama ia memimpin kalian berpedoman kepada kitab Allah, niscaya kalian wajib mendengar dan menaatinya’.” (HR. Muslim no. 1218, 1838, dan At-Tirmidzi no. 1706)

Baca: Waspadai Bantuan Dana dari Kaum Munafik!

Dalam riwayat yang lain, dari Ummu Hushain Al-Ahmasiyah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbah wada’ bersabda,

وَلَوِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا

 “Jika seorang budak diangkat menjadi pemimpin kalian, selama ia memimpin kalian berpedoman kepada kitab Allah, niscaya kalian wajib mendengar dan menaatinya’.” (HR. Muslim no. 1838, An-Nasai no. 4192 dan dalam As-Sunan As-Sughra, Ibnu Majah no. 2861, Ahmad no. 16646, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra)

Dalam riwayat yang lain, dari Ummu Hushain Al-Ahmasiyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dalam khutbah Wada’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ، وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ مُجَدَّعٌ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا مَا أَقَامَ فِيكُمْ كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah! Jika seorang budak yang hidungnya terpotong diangkat sebagai pemimpin kalian, niscaya kalian wajib mendengar dan menaatinya, selama ia menegakkan (menerapkan) kitab Allah di tengah kalian.” (HR. At-Tirmidzi no. 1706, Ahmad no. 27260, Al-Hakim, Al-Humaidi, dan Ath-Thabarani. Hadits shahih menurut syarat Imam Muslim)

Di antara dalil lainnya yang menegaskan bahwa pemimpin harus senantiasa berpedoman kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah Khulafa’ Rasyidun adalah hadits shahih dari riwayat Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu.

Dari Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin shalat Shubuh, lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada para kami. Beliau memberi nasehat kami dengan sebuah nasehat yang sangat mendalam, sehingga kami menangis dan hati kami bergetar.”

Kami berkata, “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan Anda. Maka berilah kami wasiat!”

Materi Khutbah Jumat: Jerat Syubhat Valentine day

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati para pemimpin Islam, meskipun orang yang diangkat sebagai pemimpin kalian adalah seorang budak Ethiopia.”

“Karena sesungguhnya orang yang dikaruniai usia panjang di antara kalian akan melihat banyak perselisihan. Oleh karena itu, hendaklah kalian memegang teguh Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Rasyidun. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan! Sebab, setiap perkara baru yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Daud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42, Ahmad no. 17144, Ibnu Hibban no. 5, Al-Hakim no. 329, 332, Al-Baihaqi, dan At-Thabarani)

 

Syarat ketiga, Pemimpin Islam menegakkan shalat untuk dirinya pribadi, dan ia mengajak serta memerintahkan rakyat untuk menegakkan shalat.

Pemimpin Islam harus senantiasa melaksanakan shalat wajib lima waktu dan shalat Jum’at. Ia tidak mengerjakan shalat lima waktu di rumah. Namun ia mengerjakannya di masjid secara berjama’ah. Bahkan ia senantiasa menjadi imam shalat lima waktu di masjid. Ia mengimami kaum muslimin dalam shalat lima waktu, shalat Jum’at, shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Ia memberi contoh rakyat dalam pelaksanaan shalat wajib. Ia juga mengajak dan memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk melaksanakan shalat wajib. Demikianlah, ia mencontoh keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khulafa’ rasyidin dalam masalah penegakan shalat.

Penegakan shalat ini menjadi indikasi bahwa ajaran-ajaran Islam lainnya juga ditegakkan oleh pemimpin. Sehingga, pemimpin itu wajib menegakkan zakat, shaum Ramadhan, haji, jihad fi sabilillah, hukum pidana Islam, hukum perdata Islam, hukum ekonomi Islam dan lainnya.

Allah ‘azza wajalla berfirman:

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ

Yaitu orang-orang yang jika Kami memberikan mereka kekuasaan di muka bumi, niscaya mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan perbuatan yang ma’ruf, dan melarang dari perbuatan yang mungkar.” (Al-Hajj [22]: 41)

Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ: لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan kalian. Adapun seburuk-buruk pemimpin adalah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, kalian mengutuk mereka dan mereka juga mengutuk kalian.”

Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami memerangi mereka dengan pedang kami?”

Baca: Dalil-Dalil Syar’i Tentang Wajibnya Mendirikan Khilafah

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan! Selama mereka masih menegakkan shalat di tengah kalian. Jika kalian membenci suatu hal dari diri para pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, namun janganlah kalian membatalkan ketaatan kalian kepadanya.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan lebih jelas:

قَالُوا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ أَلاَ مَنْ وَلِىَ عَلَيْهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِى شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِى مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَلاَ يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ »

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami memerangi mereka dengan pedang kami?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan! Selama mereka masih menegakkan shalat di tengah kalian. Ketahuilah! Jika ia dipimpin oleh seorang pemimpin, lalu ia melihat pemimpin itu melakukan suatu kemaksiatan, maka hendakah ia membenci kemaksiatan tersebut, namun janganlah ia membatalkan ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim 1855, Ahmad no. 23981, Ad-Darimi no. 2797, Al-Bazzar, Abu ‘Awanah, Ath-Thabarani, dan Al-Baihaqi)

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kelak kalian akan dipimpin oleh para pemimpin, yang kalian mengakui perbuatan ma’ruf mereka dan kalian juga mengetahui kemungkaran mereka. Barangsiapa membenci (dengan hatinya) kemungkaran yang dilakukan para pemimpin tersebut, niscaya ia telah terlepas dari dosanya. Barangsiapa mengingkari kemungkaran yang dilakukan para pemimpin tersebut (dengan lisannya), maka ia telah selamat dari dosanya. Namun yang berdosa adalah barangsiapa yang ridha, dan bahkan mengikuti, kemungkaran yang dilakukan oleh para pemimpin tersebut.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami memerangi para pemimpin tersebut?” Beliau menjawab, “Jangan! Selama mereka masih melaksanakan shalat.” (HR. Muslim no. 1854, Abu Daud no. 4760, Tirmidzi no. 2265, dan Ahmad no. 26528)

Baca: Memahami Makna Khilafah, Imamah dan Imaroh

Syarat keempat, ulul amri memerintahkan rakyatnya untuk melakukan perkara ketaatan, bukan perkara kemaksiatan. Hal itu berdasar hadits-hadits shahih berikut ini.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ قَالَ: عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

Seorang muslim wajib mendengar dan menaati (pemimpin Islam) dalam perkara yang ia senangi maupun ia benci, selama bukan diperintahkan untuk bermaksiat. Jika diperintahkan untuk bermaksiat, maka tiada kewajiban mendengar maupun taat atas atas dirinya.” (HR. Bukhari: Kitabul Ahkam no. 7144 dan Muslim: Kitabul Imarah no. 1839)

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Tidak ada ketaatan dalam perkara kemaksiatan kepada Allah. Ketaatan itu hanya untuk perkara ma’ruf.” (HR. Bukhari: Kitabul Ahkam no. 7257 dan Muslim: Kitabul Imarah no. 1840)

عَنْ عَلِيٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara kemaksiatan kepada Allah.” (HR. Ahmad no. 1095. Hadits semakna diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Imran bin Hushain dan Hakam bin Amru Al-Ghifari) Wallahu a’lam bish-shawab [Fadhlullah/istidlal.org]

 

REFERENSI:

Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkam Al-Quran, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 1, 1427 H.
Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayyil Qur’an, Kairo: Dar Hajr, cet. 1, 1422 H.
Ismail bin Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al-Quran Al-Azhim, Jizah: Muassasah Qurthubah, cet. 1, 1421 H.
Fakhruddin Muhammad bin Umar Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib, Beirut: Darul Fikr, cet. 1, 1401 H.
Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syari’ah wa Al-Manhaj, Damaskus: Darul Fikr, cet. 10, 1430 H.
Sa’id Hawa, Al-Asas fi At-Tafsir, Kairo: Darus Salam, cet. 1, 1405 H.
Muhammad Thahir bin Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunis: Ad-Dar At-Tunisiah, cet. 1, 1984 M.
Muhammad Sayid Thanthawi, At-Tafsir Al-Wasith lil-Qur’an Al-Majid, Kairo: Matba’ah Ar-Risalah, cet. 3, 1408 H.
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bi-Syarh Shahih Al-Bukhari, Riyadh: Dar Thaibah, cet. 1, H, 1426 H.
Muhammad Musthafa Az-Zuhaili, Al-Wajiz fi Ushul Al-Fiqh Al-Islami, Damaskus: Darul Khair, cet. 2, 1427 H.

 

share on: