Beginilah Syariat Islam Mengantisipasi Bencana Alam (Bagian 1)

share on:
Beginilah Syariat Islam Mengantisipasi Bencana Alam 01-istidlal.org

Kita semua menyadari bahwa takdir baik dan takdir buruk sepenuhnya berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Berbagai nikmat dan beragam bencana yang menimpa manusia telah ditetapkan oleh Allah di Lauh Mahfuzh sejak 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Demikian hadits shahih menegaskan.

Meski sebagian besar kaum muslimin memahami akidah tentang takdir tersebut, tidak semua orang memahami bahwa nikmat dan musibah itu berkaitan erat dengan tingkah laku manusia. Maksudnya, tidak semua memahami sepenuhnya bahwa perbuatan baik manusia merupakan salah satu sebab datangnya nikmat dan perbuatan buruk merupakan sebab turunnya musibah dan lenyapnya kenikmatan.

Hanya orang-orang muslim yang mawas diri saja yang memahami kaidah sebab-akibat tersebut. Mayoritas orang muslim justru terbawa arus pemahaman dan pemikiran kaum sekuleris-materialis-atheis, yang memandang musibah sebagai gejala alam belaka.

Fenomena letusan gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, badai topan, gelombang tsunami, dan banjir bandang dipandang sebagai peristiwa alam, yang tidak ada kaitannya dengan dosa-dosa manusia yang sudah bertumpuk-tumpuk, setiap hari semakin bertambah berat dan banyak, sehingga menjadi gunung-gunung dosa.

Akal kaum sekuleris, materialis, liberalis dan atheis menganggap beragam bencana alam tersebut sebagai gejala alam belaka. Tidak perlu mengaitkannya dengan “murka Allah ‘Azza wa Jalla”, apalagi menghubungkannya dengan “dosa-dosa manusia”.

Baja juga: Hidup di Bawah Naungan Syariat, Sudah Siapkah Kita?

Sebagai gejala alam, ia bisa dipelajari. Ia bisa diprediksi dan diantisipasi. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, mereka sukses menyiapkan alat-alat pendeteksi dini atas kemungkinan bencana-bencana alam yang akan terjadi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan produk teknologi itu justru membuat mereka semakin sombong dan arogan. Mereka semakin tidak butuh “pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla” dan tidak takut kepada “murka Allah ‘Azza wa Jalla”.

Syariat Islam menegaskan bahwa dosa-dosa yang diperbuat manusia dapat mendatangkan hukuman Allah di dunia, sebelum hukuman di akhirat kelak. Hukuman Allah terhadap orang-orang yang zalim dan melampaui batas sering kali datang secara tiba-tiba. Hukuman Allah acapkali menghantam manusia saat mereka lalai dan acuh tak acuh terhadap peringatan-Nya.

 

LURUSKAN IMAN, PERKUAT TAKWA

Sebelum membanggakan kecanggihan hasil ilmu pengetahuan dan teknologi seperti alat-alat deteksi dini bencana, manusia terlebih dahulu harus meluruskan keimanannya kepada Allah. Lalu mereka harus meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.

Iman dan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah faktor penentu pertama dan paling utama bagi keselamatan hidup umat manusia di dunia. Dengan iman dan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka langit dan bumi mencurahkan keberkahannya kepada umat manusia. Dengan iman dan takwa, beragam bencana alam akan menjauh dari kehidupan manusia di muka bumi.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.” (QS. Al-A’raf [7]: 96)

Keberkahan-keberkahan dari bumi dan langit adalah buah dari iman dan takwa. Saat bumi membawa berkah-berkah Allah, maka hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan kelautan akan membawa kehidupan yang sejahtera bagi rakyat. Petani, peternak, nelayan, pedagang, dan rakyat jelata lainnya akan hidup dalam suasana aman, tenteram, damai, dan terpenuhi kebutuhan hidupnya. Bumi juga akan mengeluarkan barang-barang tambang yang berharga dan bermanfaat bagi rakyat.

Baca juga: Materi Khutbah Jumat: LGBT itu Dosa, Kenapa Dipelihara?

Tidak akan ada jutaan pengangguran, karena semua orang sibuk menggarap pekerjaan “alami” di sawah, ladang, kebun, laut, sungai, hutan dan padang penggembalaan. Pasar-pasar akan menyalurkan arus barang, uang, dan jasa dengan jujur dan adil. Tidak ada penipuan, penimbunan, riba, pajak liar, suap, kezaliman dan kecurangan dalam transaksi antara pedagang dan pembeli. Semua pihak mendapatkan keuntungan secara wajar dan adil. Semua merasakan keberkahan perdagangan.

Saat langit membawa berkah-berkah Allah, maka kesejahteraan dan keselamatan akan dirasakan rakyat bersama-sama. Tidak ada hukuman-hukuman Allah melanda mereka dalam bentuk gempa bumi, tanah longsor, badai topan, gelombang tsunami, gunung meletus, kebakaran hutan, polusi udara, polusi air dan lainnya.

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya menulis, “Ayat ini menunjukkan bahwasanya keimanan yang benar merupakan sebab datangnya kebahagiaan dan kemakmuran.”

“Namun mereka justru mendustakan para rasul mereka, tidak beriman kepada mereka, dan tidak bertakwa. Maka Kami menghukum mereka dengan kehancuran, diakibatkan mereka melakukan dosa-dosa, keharaman-keharaman, dan kesyirikan yang merusak tatanan kehidupan. Ayat ini juga menunjukkan bahwa hukuman Allah adalah konskuensi logis dari kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan manusia.” (Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir fil Aqidah wa Asy-Syari’ah wa Al-Manhaj, Vol. V hlm. 20)

Syariat Islam Mengantisipasi Bencana Alam 01-istidlal.org

JAUHI KESYIRIKAN DAN KEKUFURAN

Dalam ayat lain Allah ‘Azza wa Jalla memaparkan contoh bagaimana keamanan dan kemakmuran yang dirasakan oleh penduduk sebuah negeri dapat berubah menjadi bencana ketakutan dan kelaparan hebat. Penyebab dari hilangnya kenikmatan dan datangnya bencana sosial maupun bencana alam tersebut adalah kekufuran dan memusuhi dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”

Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya. Karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. An-Nahl [16]: 112-113)

Dalam ayat di atas, Allah menyebutkan sejumlah nikmat besar yang dikaruniakan kepada penduduk sebuah negeri. Nikmat pertama adalah nikmat al-Amnu, yaitu keamanan dan terbebas dari penjajahan, dominasi maupun hegemoni musuh. Negeri tersebut adalah negeri yang bebas dan merdeka, sehingga penduduknya mampu beraktivitas secara leluasa tanpa ada rasa takut terhadap musuh yang mengancam, menyerang, menjajah dan menindas mereka.

Baca juga: Tahun Politik: Islam Disayang Islam Ditendang

Nikmat kedua adalah at-Thuma’ninah, yaitu ketenangan hati dan ketenteraman batin. Dalam ayat ini nikmat keamanan didahulukan atas nikmat ketenangan dan ketenteraman. Sebab, manusia tidak akan merasakan ketenangan dan ketenteraman tanpa adanya suasana yang aman. Sebaliknya, suasana peperangan, penjajahan dan kekacauan akan menyebabkan hati galau, sedih, takut dan khawatir.

Nikmat ketiga adalah Allah memudahkan rezeki untuk penduduk negeri tersebut dengan cara yang mudah, jumlah yang berlimpah ruah, dan datang dari segala arah ataupun bidang usaha. Dalam ayat tersebut rezeki disifati dengan kata ar-Raghad memiliki makna al-Waafir al-Haani’, yaitu berlimpah dan diraih dengan mudah.

Lebih dari itu rezeki tersebut datang kepada mereka dari segala arah, dari setiap tempat. Maksudnya adalah dari banyak tempat dan bidang usaha. Usaha perdagangan, pertanian, peternakan, kerajinan, industri, jasa dan usaha-usaha lainnya senantiasa berjalan dengan lancar dan maju. Usaha-usaha tersebut mengalirkan pemasukan yang berlimpah bagi penduduk negeri tersebut.

Mereka merasakan kenikmatan Allah yang berlimpah ruah tersebut dalam waktu yang cukup lama. Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla mengutus seorang rasul kepada mereka. Rasul sebagai pembawa peringatan kepada mereka, bahwa tujuan hidup mereka bukanlah meraih kesuksesan dan kemakmuran hidup di dunia belaka. Namun tujuan utama hidup mereka adalah beribadah kepada Allah semata. Menundukkan diri dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah. Sebab, dunia hanyalah ladang tempat menanam keimanan dan ketaatan. Kelak di akhiratlah mereka akan memanen buah keimanan dan ketaatan tersebut.

Sayangnya, mereka mengingkari limpahan nikmat Allah yang tak terhitung tersebut. Maksud dari mengkufuri nikmat-nikmat Allah dalam ayat ini adalah mengkufuri Allah Sang pemberi nikmat. Sebab, mereka menyekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan sesembahan selain-Nya, sehingga mereka tidak bersyukur kepada Allah Pemberi nikmat yang sesungguhnya. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh firman Allah yang lain, “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir.” (QS. An-Nahl [16]: 83)

Rasul Allah mengulang-ulang dakwahnya kepada penduduk negeri tersebut. Pagi dan sore, siang dan malam, ia mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah semata, tunduk kepada syariat-Nya, dan mensyukuri nikmat-nikmatnya. Namun peringatan demi peringatan, dakwah demi dakwah tersebut diacuhkan oleh mereka. Mereka tetap bersikukuh mempertahankan kesyirikan, penolakan terhadap syariat-Nya, dan kemaksiatan-kemaksiatan mereka.

Akhirnya Allah ‘Azza wa Jalla menjatuhkan hukuman kontan untuk mereka di dunia, sebelum hukuman yang kekal abadi di akhirat kelak. Allah berfirman “Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” Lafal “merasakan” dalam ayat ini berasal dari kata kerja dasar adzaaqayudziiquidzaaqah, yang artinya secara bahasa adalah membuat orang lain merasakan. Kata kerja dzaaqayadzuuqudzauq secara bahasa memiliki makna lidah merasakan rasa makanan.

Dalam ayat ini, Allah menimpakan hukuman duniawi kepada penduduk negeri tersebut dengan kata kerja adzaaqa. Hal itu memberi pengertian makna hukuman yang Allah timpakan kepada penduduk negeri tersebut benar-benar mereka alami secara langsung, sehingga merasuk ke dalam jiwa mereka, sebagaimana rasa sebuah makanan yang terlanjur dirasakan oleh lidah, kerongkongan, dan lambung orang yang makan.

Ternyata hukuman Allah tersebut tidak hanya layaknya makanan yang dirasakan oleh lidah, kerongkongan dan lambung. Lebih dari itu ia melekat, menempel dan tidak mau berpisah dari penduduk negeri tersebut, sebagaimana pakaian melekat dan menempel pada kulit tubuh manusia.

Baca juga: Urgensi Tarbiyah Islamiyah Bagi Para Aktivis Islam

Allah menyerupakan hukuman tersebut dengan libaas, yaitu pakaian yang menempel pada kulit dan menutupi tubuh manusia. “Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” Pakaian hukuman yang senantiasa melekat pada diri mereka adalah kelaparan fisik mereka dan ketakutan batin mereka. Jasmani dan rohani mereka tersiksa, dalam segala keadaan mereka, dari beragam arah dan bidang.

Beginilah Syariat Islam Mengantisipasi Bencana Alam (Bagian 1) — Manusia tanpa pakaian yang melekat dan menutupi kulitnya, niscaya keadaannya akan memalukan, karena ia bertelanjang bulat. Demikian pula keadaan penduduk negeri yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah, menyekutukan Allah dengan selain-Nya, menolak syariat-Nya dan mendustakan rasul-Nya. Kehidupan mereka di dunia tidak akan lengkap, tidak indah, dan memalukan jika mereka tidak senantiasa dikepung dan ditimpa oleh hukuman Allah ‘Azza wa Jalla.

Normalnya manusia memakai pakaian sepasang; pakaian luar dan pakaian dalam pakaian atas dan pakaian bawah. Demikian pula dalam ayat ini, Allah memadukan sepasang hukuman untuk mereka; makanan (adzaaqa) dan pakaian (libaas). Hukuman itu bagaikan makanan yang dirasakan oleh lidah, lalu masuk ke dalam tenggorokan dan lambung. Hukuman itu juga bagaikan pakaian yang senantiasa melekat pada kulit tubuh mereka. (Muhammad Thahir bin Asyur, Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, Vol. XIV hlm. 305-307)

Dari ayat di atas, kita bisa memahami bahwa ketakutan dari beragam musibah dan bencana serta musuh senantiasa mengintai mereka. Kelaparan panjang dengan adanya paceklik parah, hancurnya pertanian dan peternakan, inflasi tinggi yang membuat sekarat dunia perdagangan, senantiasa tidak pernah lepas dari negeri mereka.

Maka benarlah bahwa kesyirikan dan kekufuran adalah penyebab terbesar dari datangnya beragam bencana alam. Jika manusia ingin terhindar dari ancaman berbagai bencana alam, langkah pertama dan paling utama adalah merealisasikan keimanan dan tauhid. Wallahu a’lam [Fadhlullah/istidlal.org]

 

share on: