Syubhat Pluralisme: Al-Quran Membenarkan Taurat Dan Injil

share on:
Syubhat Pluralisme Al-Quran Membenarkan Taurat Dan Injil-istidlal-org

Orang-orang Liberal dan munafik tidak pernah berhenti dalam menyebarkan syubhat kesesatan pada umat Islam, salah satunya adalah syubhat pluralisme. Jika tidak ada upaya untuk menerangkan syubhat ini, maka lambat laun akidah umat akan tergadaikan.

Di antara syubhat tersebut adalah proganda bahwa al-Quran membenarkan Taurat dan Injil. Dengan syubhat inilah orang-orang liberal berusaha menggiring umat Islam kepada paham pembenaran terhadap semua agama; syubhat pluralisme. Mereka berargumen dengan firman Allah,

Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang didalamnya (ada) hukum Allah.” (QS. Al-Maidah: 43)

Dan firman Allah ‘azza wajalla,

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya” (QS. Al-Maidah: 47)

Dan beberapa ayat lainnya.

Mereka juga berdalil dengan hadis riwayat Abu Daud, suatu ketika Rasulullah memegang Taurat dan bersabda,

“Aku beriman padamu dan yang menurunkanmu (Allah)”.

Akhirnya dengan ini, mereka berpendapat Taurat dan Injil adalah kitab yang benar tidak ada penyimpangan dan kekeliruan dalamnya, sehingga ajaran-ajarannya pun tidak salah.

Dalam syubhat ini, seolah-olah pembenaran al-Quran terhadap Taurat dan Injil, menjadi pembenaran pula untuk ajaran Yahudi dan Nasrani saat ini, hingga akhirnya jika tidak hati-hati umat Islam akan terperosok pada paham sesat pluralisme agama, yaitu meyakini bahwa semua agama adalah benar.

Tentu ini sangat berbahaya sekali bagi aqidah umat. Maka perlu adanya penjelasan akan syubhat pluralisme ini, agar umat tidak salah kaprah memahaminya. Tulisan ini akan membantah syubhat pluralisme tersebut melalui empat pintu.

 

Beriman pada seluruh Rasul dan kitab yang turun pada mereka adalah bagian dari akidah Islam

Syaikh Ibnu Taimiyah menjelaskan Allah telah mewajibkan bagi hamba-Nya untuk mengimani seluruh kitab dan para Rasul, dan siapa yang mengimani sebagian dan ingkar pada sebagian lainnya, maka dihukumi kafir (Majmu’ Al-Fatawa, Syaikh Ibnu Taimiyah, 6/227).

Allah berfirman,

Para Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya” (QS. Al-Baqarah: 285, 136-137,  253; QS. An-Nisa’: 150-152)

Kaum muslimin telah sepakat bahwa ini adalah perkara paten dalam Islam, yakni wajibnya beriman kepada seluruh Rasul dan kitab-kitab yang diturunkan pada mereka.

 

Pembenaran dan pujian al-Quran hanya pada Taurat dan Injil yang diturunkan kepada Musa dan Isa ‘alaihimasalam

Pertama, Taurat yang dimaksud dalam al-Quran adalah kitab yang diturunkan pada Musa, yang dibacanya untuk bani Israil pada masanya, dan menjadikannya sebagai pedoman hukum bagi mereka.

Allah berfirman tentang Taurat yang masih asli ini,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)

Selain itu, dalam Taurat Musa ini dijelaskan pula, untuk bertauhid kepada Allah, berbuat baik pada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, berbicara kepada seluruh manusia (bukan hanya dikhususkan untuk bani Israil) dengan baik dan tidak sombong.

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Sedangkan Taurat hari ini telah mengalami penyimpangan, di antaranya adalah ajaran menyembah setan, juga doktrin bahwa selain orang Yahudi bukanlah manusia.

Untuk jelasnya lihat “Kitaab Isra’iil Al-Aswad: Al-Kanzu Al-Marshuud Fii Fadha’ih At-Talmuud” Kitab ini pada mulanya berasal dari buku yang ditulis oleh Dr. August Rohling (1839-1931), seorang Profesor pada University of Prague, berjudul “Die Polemik Und Das Manschenopfer Des Rabbinismus, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh DR. Yusuf Hana Nashrullah (dari Mesir), kemudian diberi kata pengantar oleh Syaikh Prof. Dr. Muhammad ‘Abdullah As-Syarqawi.

Dalam Taurat Musa juga dijelaskan, nubuwah kedatangan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi,

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 146), lihat pula 2: 89-90 dan 6: 20. Lihat pula kisah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Waraqah bin Naufal, seorang ahli agama Yahudi, dan paham isi Taurat, ketika mendengar berita datangnya Nabi baru dengan ciri-ciri tertentu, yang telah dijelaskan dalam Taurat, akhirnya dia pun mengimani nabi Muhammad sebagai nabi akhir zaman.

Kedua, Injil yang dimaksud dalam al-Quran adalah kitab yang diturunkan pada Isa untuk Bani Israil pada masannya. Injil yang asli ini menerangkan bahwa Isa adalah hamba Allah Rasul-Nya. Allah berfirman,

“Berkata Isa, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.’” (QS. Maryam: 30), lihat juga 3: 49 dan 61: 6.

Sedangkan Injil yang sekarang justru menganggap Isa adalah anak Allah, dan bahkan ini menjadi keyakinan orang-orang Nasrani sekarang ini. Ini adalah keyakinan orang-orang kafir, dan karena inilah Allah melaknat mereka,

“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putera Allah’, dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putra Allah.’ Demikianlah itu ucapan yang keluar dari mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka.” (QS. At-Taubah: 30)

 

Pembenaran dan pujian terhadap Taurat dan Injil bukan berarti pembenaran dan pujian untuk Yahudi dan Nasrani

Dalam al-Quran Allah telah memuji Taurat dan Injil, namun di sisi lain Allah terangkan sifat-sifat buruk Yahudi dan Nasrani, seperti: khianat, dusta, menipu, dan lainnya. Dan Allah telah menghukumi mereka dengan hukuman kafir, karena apa yang telah mereka kerjakan atau karena ucapan mereka terhadap Allah (lihat QS. At-Taubah: 30).

Selain itu, Allah juga telah menjelaskan bahwa mereka adalah penghuni neraka karena perbuatan dan ucapannya ini.

Syaikh Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa walaupun al-Quran memuji Musa dan Taurat, tidak berarti karena hal ini harus memuji orang-orang Yahudi yang telah mendustakan Isa dan Muhammad, begitu juga dengan pujian al-Quran terhadap Isa dan Injil, bukan berarti harus memuji pula orang-orang Nasrani yang telah mendustakan Muhammad dan telah mengganti hukum-hukum Taurat dan Injil. (Al-Jawab as-Shahih Liman Badala Din al-Masih, 1/270).

 

Al-Quran telah menaskh (mengganti) kitab-kitab sebelumnya, dan syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengganti seluruh syariat-syariat sebelumnya, karenanya wajib beramal dengan apa yang ada dalam al-Quran dan syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui.” Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik, Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imran: 81-83).

Baca juga: Kenapa Harus Bersyariat Dalam Lingkup Negara?

Ibnu Abbas dalam menjelaskan ayat ini menyatakan, tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan Dia ambil darinya janji setia, jika datang Muhammad sedangkan dia (Nabi tadi) masih hidup, agar dia benar-benar beriman dan menolongnya, serta Allah perintahkan juga baginya untuk mengambil janji pada umatnya, jika Muhammad telah datang dan mereka masih hidup, agar mereka benar-benar beriman dan menolongnya. (Tafsir al-Quran al-‘Adzim, Ibnu Katsir, 2/67)

Dalam sebuah hadis disebutkan:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هـٰذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Rabb yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya aku (Muhammad), lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Dari empat tinjauan di atas dapat disimpulkan bahwa syubhat di atas, sangatlah lemah dan tidak mendasar sama sekali, syubhat tersebut hanya sebagai upaya pembenaran musuh-musuh Islam dalam propaganda pluralisme agama, yaitu anggapan bahwa semua agama itu benar. Karenanya perlu edukasi akidah, agar umat Islam tidak terjebak dalam syubhat menyesatkan ini. Wallahu ‘alam [Senopati/istidlal.org]

share on: