Syuro dalam Kebijakan Politik dan Militer Nabi Muhammad

share on:
Syuro

Salah satu ciri khas politik Islam adalah Syuro. Syuro bukanlah untuk memilih mana yang benar dan salah, karena sudah ada wahyu sebagai alat ukur kebenaran. Namun Syuro sering digunakan oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk memutuskan perkara-perkara strategis.

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak sekedar bermusyawarah dengan para sahabatnya, bahkan beliau sangat baik dalam pengamalannya, dari Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang paling sering bermusyawarah dengan para sahabatnya daripada Rasululullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.”[1]

Ini gambaran yang cukup untuk menggambarkan kedudukan syuro dalam kehidupan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah orang yang sering bermusyawarah. Sebenarnya hal ini tidak hanya disandarkan pada riwayat tersebut, akan tetapi musyawarah itu selalu ada dalam petunjuk dan perjalanan hidup Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam mengambil kebijakan terhadap perkara-perkara yang penting.

Baca juga: Ukhuwah Islamiyah, Syarat Eksistensi Umat

Oleh karena itu, ketika berangkat menuju badar untuk mengejar rombongan Abu Sufyan beliau berencana untuk menghadapi kaum Quraisy, Nabi pun bermusyawarah dengan para sahabatnya. Beliau berkata, “Wahai para sahabatku berikanlah masukan kepadaku!” maka berbicaralah Abu Bakar, Umar dan Miqdad rodhiyallohu ‘anhum, Nabi kemudian mendoakan mereka lalu berkata, “Wahai kaumku berikanlah masukan kepadaku!” Sa’ad bin Mu’adz pun berkata, “Apakah kami yang engkau maksudkan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya.”[2]

Dari ungkapan beliau, “Sampaikanlah pendapat kalian” cukup menggambarkan bagaimana seorang pemimpin atau panglima yang menerima saran dan masukan dari orang lain serta mendorong mereka untuk berani mengutarakan pendapatnya. Dalam banyak keadaan Rasulullah sering memotivasi orang lain dengan mengatakan, “Sampaikanlah pendapat kalian![3]

Suatu saat, ketika Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengetahui keinginan kaum musyrikin Quraisy untuk menyerang Madinah, maka Rasulullah bermusyawarah, meminta saran dari para sahabatnya. Apakah keluar menghadapi mereka ataukah bertahan untuk menjaga Madinah? Mereka pun berbeda pendapat. Lalu, Rasulullah memilih untuk keluar menghadapi kaum Quraisy.

Imam bukhori berkata, “Rasulullah meminta pendapat dari para sahabatnya pada perang uhud untuk tinggal atau mengahadapi (musuh), lalu mereka berpendapat untuk menghadapi musuh, ketika Rosululloh mengenakan pakaian perangnya dan bertekad mereka berkata, ‘Berdirilah’, maka beliau tidak condong kepada mereka setelah bertekad (untuk menghadapi musuh), lalu berkata, ‘Tidak layak bagi seorang nabi menanggalkan pakaian perang setelah mengenakannya hingga Alloh memberikan keputusannya’[4] begitu pula beliau selalu bermusyawarah dalam peperangan-peperangan selain itu.

Baca juga: Mempersembahkan Hidup dan Mati Hanya untuk Islam

Di beberapa keadaan Rasulullah bermusyawarah kepada sekelompok tertentu dari para sahabatnya, sebagaimana yang terjadi pada perang badar ketika beliau bermusyawarah dengan Abu Bakar dan Umar radhiyallohu ‘anhuma tentang tawanan. Diriwayatkan dalam kitab Shohih Muslim, ketika mereka (para sahabat) menahan para tawanan, Rasululloh berkata kepada Abu Bakar dan Umar, “Bagaimana pendapat kalian terhadap para tawanan ini?” Abu Bakar berkata, “Mereka adalah anak-anak paman dan kerabat kita, menurut saya kita meminta tebusan dari mereka sehingga memeliki kekuatan untuk menghadapi orang-orang kafir. Semoga Alloh  memberikan hidayah kepada mereka kepada Islam.” Rosululloh berkata, “bagaimana pendapat mu wahai ibnu khottob?” Aku (Umar) berkata, “Saya tidak sependapat dengan Abu Bakar, menurut saya izinkanlah kami menebas leher² mereka. Izinkanlah Ali menebas leher ‘Uqail dan izinkanlah saya menebas leher si fulan (kerabat Umar), sesungguhnya mereka adalah para pemimpin dan pembesar kekafiran.[5]

Sebagaimana juga Rasulullah hanya bermusyawah kepada dua Sa’ad (Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ‘Ubadah) pada perang khandaq, ketika Nabi ingin memberikan sepertiga buah-buahan yang ada di madinah kepada pemimpin Bani Ghotofan agar mereka menghentikan pengepungan. Ketika Rasulullah ingin melakukannya beliau mengirimkan (utusan) kepada Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau memberitahukan hal itu dan meminta pendapat mereka berdua, maka Sa’ad bin Mu’adz berkata, “Wahai Rasulullah sungguh dahulu kami dan kaum ini menyekutukan Alloh dan menyembah patung², kami tidak beribadah kepada Alloh bahkan tidak mengenal-Nya, mereka tidak mau memakan sebuah pun dari kami kecuali  hidangan untuk tamu dan dengan jual beli, lalu apakah kami berikan harta-harta kami kepada mereka dengan cuma-cuma setelah Alloh memuliakan kami dengan Islam, memberikan hidayah-Nya serta menguatkan kami dengan (keberadaan) engkau dan pertolongan-Nya. Demi Alloh kami tidak akan memberikan kepada mereka (apapun) kecuali kecuali (sebilah) pedang hingga Alloh menetapkan keputusan di antara kami dengan mereka.” Rasulullah berkata, “Engkau berhak memutuskan demikian.” Maka Sa’ad bin Mu’adz mengambil lembaran perjanjian dan menghapus semua tulisan yang ada di dalamnya.[6]

Dengan nampaknya sifat ini (bermusyawarah) dalam siyasah Nabi, para sahabat bersegera memberikan saran yang lebih baik menurut mereka meskipun Nabi belum meminta mereka. Tetapi, Rasulullah tetap menerima dan melaksanakannya. Pada perang Badar Sa’ad bin Mu’adz mengusulkan untuk membangun benteng dan berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan kami membangun tempat perlindungan untukmu. Kami tambatkan unta-unta tunggangan di sampingmu. Kami akan menghadapi musuh, jika Alloh menguatkan dan menolong kita terhadap musuh maka itulah yang kita harapkan. Namun, jika terjadi hal yang tidak kita inginkan, engkau dapat naik dan pergi bergabung dengan orang-orang yang kita tinggalkan di belakang. Kecintaan mereka yang tidak turut berangkat bersamamu wahai Rasulullah, tidaklah kurang dibandingkan kecintaan kami kepadamu. Mereka tentu tak akan tinggal diam, jika mereka tahu, engkau berada dalam bahaya perang. Allah akan melindungimu melalui mereka yang akan memberikan nasihat yang tulus dan akan berjuang di sisimu.” Maka Rasulullah memuji dan mendoakan kebaikan kepada mereka, kemudian dibuatlah tempat perlindungan untuk Rasulullah dan beliau (berlindung) di dalamnya.[7]

Khobab bin al Mundzir juga memberi usul kepada Rasulullah, dia berkata, “Wahai Rasulullah apakah tempat kita berhenti sekarang ini perintah dari Alloh atau sekadar usulan dan taktik perang?” Beliau berkata bahwa ini hanya kebijakan beliau dalam taktik perang. Hubab berkata, “Wahai Rasulullah sungguh ini bukan tempat yang tepat untuk berhenti, marilah kitabterus maju hingga kita sampai ke sumur yang terdekat dengan posisi musuh dan berhenti di sana, kita tutup sumur-sumur di sekitarnya lalu kita membangun waduk dan mengisinya dengan air sehingga ketika kita memerangi musuh kita bisa minum air sementara mereka tidak bisa.” Maka Rasulullah berkata, “Sungguh kamu telah memberikan usulan yang tepat.”[8]

Baca juga: Posisi Syariat dalam Koridor Negara Bangsa

Pada perjanjian Hudaibiyah ketika Nabi ‘alaihis sholatu was salam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih (hewan qurban) dan menggundul rambutnya, tidak ada satu pun yang berdiri (melaksanakan perintah Rasulullah). Beliau kemudian masuk menemui Ummu Salamah radhiyallohu ‘anha dan menceritakan apa yang terjadi pada kaum muslimin. Lalu beliau (Ummu Salamah)  berkata, “Wahai Nabi Alloh apakah itu yang engkau inginkan? Keluarlah, janganlah engkau mengatakan sepatah kata pun kepada mereka hingga engkau sendiri yang lebih dahulu menyembelih dan menggundul rambut.” Maka Rasulullah pun keluar dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun hingga beliau melakukannya, meyembelih dan menggundul rambut. Ketika para sahabat melihat hal itu sontak mereka pun melakukan hal yang sama.[9]

Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah tidak hanya dalam perkara taktik perang saja akan tetapi beliau juga bermusyawarah dalam hal-hal selain itu. Sebagaimana beliau bermusyawarah dengan ‘Ali bin Abi Tholib dan Usamah bin Zaid dalam peristiwa haditsul ifki (berita dusta), beliau lantas memanggil keduanya untuk mengajak bermusyawarah perihal rencana menceraikan istri-istri beliau. Usamah berpendapat sebagaimana yang dia ketahui tentang kebaikan yang ada pada mereka, adapun ‘Ali dia berkata, “Alloh tidak akan menyusahkan engkau, sebab masih banyak wanita lain selainnya,tanyalah seorang budak wanitanya, dia akan membenarkan engkau.” Belaiu pun bertanya kepada budak wanita itu,”Apakah kamu melihat sesuatu yang membuatmu meragukannya (‘Aisyah)?” dia menjawab, “Aku tidak melihat sesuatu (aib) lebih besar padanya kecuali hanya ketika masih remaja beliau tertidur saat menjaga adonan roti untuk keluarganya sehingga ada hewan ternak yang datang dan memakannya.” Kemudian Rasulullah berdiri di atas mimbar seraya berkata, “Wahai kaum muslimin sekalian! Siapakah yang bisa memberikan pertanggungjawaban kepadaku terhadapa seseorang yang kudengar telah menyakiti keluargaku? Demi Alloh Aku tidak mengetahui apa yang pada keluargaku kecuali kebaikan semata.”[10]

Uraian di atas adalah potret Syuro yang dilakukan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam. Sebagai sebuah mekanisme pegambilan keputusan, Syuro yang menjadikan wahyu sebagai alat ukur merupakan cara terbaik yang dituntunkan Nabi kepada umatnya dalam menyelesaikan persoalan persoalan umat secara umum. Wallahu a’lamu bissowab [Editor/Ibnu Rodja]

Sumber: Albayan.co.uk

 

 

[1] Diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya (19231), Abdurrozaq dalam mushonnafnya (9720), dan Ibnu Hibban dalam sahihnya (4872), Ibnu Hajar dalam fathul bari (5/393) berkata, “Yang meriwayatkannya adalah orang-orang tsiqoh akan tetapi jalurnya munqathi’ (terputus)”.

[2] Imam Thabari meriwayatkannya dalam kitab tarikhnya (11/220), Ibnu Hisyam dalam as sirah an nabawiyah (3/ 162).

[3] Sebagaimana musyawarah beliau dalam kisah haditsatul ifki [], diriwayatkan Imam Bukhari dalam sahihnya nomor (4757), Muslim (1333), juga pada perang Hudaibiyah sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad (19231), Nasa’i (8528), disahihkan oleh Ibnu Hibban (4872).

[4] Imam Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq (7369), Imam Nasa’i (7600), Ahmad dengan yang serupa (2484) , Hakim (2603), Baihaqi dalam sunannya (13407) mengatakan, “Kami menulisnya secara bersambung dengan sanad yang hasan, dalam fathul bari (13/350) Ibnu Hajar berkata, “sanadnya sahih”.

[5] Imam Muslim (1763).

[6] Baihaqi, dalail an nubuwah (1341); Ibnu Hisyam, as sirah an nabawiyah (4/181).

[7] Baihaqi, dalail an nubuwah (920); Ibnu Hisyam, as sirah an nabawiyah (3/168).

[8] Baihaqi, dalail an nubuwah (3/35); Hakim dalam mustadrak (5854); Lihat : Ibnu Hibban, as sirah an nabawiyah wa akhbar al khulafa’ (1/166); Ibnu Hisyam, as sirah an nabawiyah (3/168).

[9] Bukhari dalam sahihnya (2731).

[10] Bukhari dalam sahihnya (7369).

share on: