Tak Lelah Berharap Kepada Allah, Meski Ujian Terus Menimpa Umat Islam

share on:
Berharap kepada Allah

Istidlal.org – Ujian adalah sunnatullah. Keniscayaan yang Allah tetapkan bagi hamba-hamba-Nya. Melewati ujian dengan tetap mendahulukan Allah dalam setiap keputusan adalah satu-satunya jalan untuk sukses darinya. Akan tetapi terkadang jiwa ini lemah. Keyakinan terhadap pertolongan Allah menipis seiring dengan bertubi-tubinya ujian yang menimpa umat. Mari sejenak kita merenungkan firman Allah SWT  dalam Al-Qur’an:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk Jannah, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orangorang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al-Baqarah: 214)

Keutamaan Berpengharapan kepada Allah

Kabar gembira dari Rabbul ‘Izzati, bahwa ketika cobaan memuncak beratnya, maka kelapangan pun semakin dekat datangnya. Ketika kesusahan semakin kuat menghimpit, pertolongan pun semakin dekat datangnya. Ketika kesulitan semakin menghimpit, kemudahan pun akan datang.

Kesulitan tidak akan mengalahkan kemudahan,

Ketahuilah, pertolongan itu (datang) bersama kesabaran

Rabbul ‘Izzati menanamkan harapan ke dalam hati kaum muslimin dalam situasi genting dan kritis yang telah mereka hadapi. Rabbul ‘Alamin mengiringkan antara keadaan yang sangat sulit dengan pertolongan dan kelapangan. Malam akan semakin gelap apabila fajar telah dekat.

Demikianlah, Allah menggambarkan keadaan kaum muslimin saat itu yang tengah dilanda kesempitan, penyakit, kemiskinan, dan peperangan. Sampai-sampai keadaan yang sangat menjepit itu menyebabkan Rasulullah

SAW bertanya-tanya, “Kapan pertolongan Allah itu akan datang?” Maka Allah memberikan kabar gembira kepada mereka, “Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا

Sehingga apabila para rasul itu tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, maka datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami…” (Yusuf: 110)

Situasi sempit, ketakutan, pengusiran, kelaparan, pembunuhan, pelenyapan nyawa-nyawa orang-orang shaleh dan pengemban risalah sering membawa ke tepi jurang keputus-asaan. (Sehingga apabila para rasul itu tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka). para rasul itu tidak berputus asa, tetapi merekalah sebenarnya yang berputus asa. Sebab,

إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87).

Berperang melawan musuh-musuh Allah menuntut suatu pengharapan besar kepada Allah. Ia juga menuntut adanya kelapangan dada dalam menunaikan kewajiban, sehingga tidak membuat surut langkah.

Oleh karena itu, ketika Rasulullah melihat kaum kafir telah menekan kaum muslimin sedemikian kuat, melihat pohon dakwahnya hampir-hampir tidak berkembang, dan melihat musuh-musuh Allah beramai-ramai menyerbu Dinullah serta para shahabat tercintanya, beliau memberikan kabar gembira kepada mereka. Hal ini untuk menanamkan harapan dan memberikan rasa longgar dan lapang dalam dada mereka yang terjepit dan terhimpit oleh situasi dunia kala itu.

Ashhabus Sunan meriwayatkan kisah kepada kita bahwa pasukan Ahzab datang ke Madinah dengan kekuatan 10.000 orang di bawah komando Abu Sufyan. Mereka mendapat kobaran semangat dan suntikan api permusuhan dari Sallam bin Misykam dan Allam bin Abul Huyay bin Akhtab (yang menjadi biang fitnah). Mereka menggiring pasukan Ahzab yang terdiri dari kabilah Quraisy, kabilah Ghathafan, kabilah Aslam, dan kabilah Asyja’ untuk mengepung kota Madinah. Al-Qur’an melukiskan keadaan mereka sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat (yang telah dikaruniakan) kepadamu tatkala datang kepadamu tentara-tentara. Lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak ke tenggorokan, dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.

Di situlah orang-orang beriman diuji dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang sangat hebat.” (Al-Ahzab: 9-11)

Allah mengilhamkan kepada Rasul-Nya untuk menggali parit lewat saran Salman Al-Farisi. Mereka semua menggali parit sampai akhirnya sebagian sahabat terhalang oleh sebuah batu besar. Martil mereka sama sekali tidak bisa menghancurkannya. Cangkul mereka tidak bisa mendongkel bagian bawahnya. Mereka kemudian melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah. Beliau datang dan memukul batu itu sekali, sehingga berhamburanlah percikan api. Beliau bertakbir dan kaum muslimin ikut bertakbir bersamanya. Beliau lantas memukul batu tersebut untuk kedua kalinya, maka berhamburanlah percikan api. Beliau bertakbir yang kemudian disusul dengan pekikan takbir kaum muslimin di belakangnya. Kemudian beliau memukul yang ketiga kalinya, maka pecah berkepingkepinglah batu tersebut dan berhamburan seperti tumpukan pasir yang beterbangan.

Dalam situasi yang mencekam, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira. Saat itu hati orang beriman, termasuk sosok-sosok pilihan seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sahabat-sahabat lainnya sedang terguncang.

“…. pada percikan bunga api yang pertama, tampak bersinar dalam pandangan mataku istana Bashra dari Syam, dan Jibril memberitahukan padaku bahwa umatku akan mengalahkannya. Dan tampak bersinar dalam pandangan mataku pada percikan bunga api yang kedua, istana Hirah dari Iraq dan Jibril memberitahukan padaku bahwa umatku akan mengalahkannya. Dan tampak bersinar dalam pandangan mataku pada pukulan yang ketiga, istana Shana’a dari Yaman dan Jibril memberitahukan padaku bahwa umatku akan mengalahkannya.”

Kisah di atas memberikan kita pelajaran bahwa kezaliman yang tak henti-hentinya menimpa umat ini jangan sampai membuat kita kehilangan harapan kepada Allah. Justru pengharapan kepada Allah adalah cara terbaik untuk menikmati kondisi-kondisi seperti ini. Yang demikian itu agar jiwa ini tidak melemah dan putus asa dari rahmat Allah. [Ibnu Rodja]

share on: