Tentang Istidlal.org

Tentang Istidlal.org—Di antara fitrah yang Allah ciptakan bagi manusia adalah mencintai kebenaran dan mencarinya. Apabila jiwa tetap berada di atas fitrahnya maka ia hanya akan menuntut kebenaran. Ibnu Taimiyah berkata:

“Sesungguhnya kebenaran itu dicintai fitrah yang baik, dan itu lebih dicintai, lebih dimuliakan, lebih lezat bagi fitrah dibandingkan kebatilan yang tidak ada hakikatnya. Sungguh, fitrah tidak mencintai kebatilan.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah: XVI/338).

Kebenaran itu pada dasarnya adalah sesuatu yang jelas, meski ada kalanya tampak samar bagi sebagian orang karena adanya berbagai syubhat (kerancuan). Karena itu, hakikatnya harus dipertegas, yaitu Islam, yang diamalkan sesuai dengan iradah (kehendak) syar’iyyah Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, umat Islam harus mengikuti kebenaran dan tidak berpaling darinya.

“Kebenaran itu dari Rabb-mu maka jangalah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147).

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153).

Istidlal meyakini bahwa kebenaran itu ada, akan senantiasa hadir, dan pengusungnya akan selalu eksis hingga hari kiamat. Mereka bisa dikenali karena kebenaran bersifat objektif dan bisa dilihat dari manhaj (metode) dalam istidlal (berdalil).

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tampil memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka hingga datang keputusan Allah (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.” (H.R. Muslim nomor 1920).

Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan merupakan bagian dari sunatullah hingga hari kiamat. Ini pula yang menjadi salah satu alas an diutusnya Rasul ke dunia. Kami meyakini bahwa kebatilan itu pasti kalah oleh kebenaran Islam. Oleh karena itu, website istidlal.org ini hadir untuk memperkuat barisan pengusung panji kebenaran dengan hujah dan bayan (penjelasan) yang nyata.

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama.” (Al-Fath: 28).

 “Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.” (Al-Isra’: 81).

Islam hadir sebagai suatu ajaran yang sempurna, yang meliputi aspek keyakinan (akidah), realisasi penghambaan kepada Allah (ibadah), dan jalan hidup (manhaj al-hayah). Karenanya, kami berkeyakinan bahwa sekulerisme merupakan sebuah kejahatan dan kesombongan, yaitu ketika manusia mengakui ketuhanan Allah, tetapi tidak mengakui hak-Nya untuk mengatur kehidupan manusia.

“Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya.” (Al-A’raf: 54).

Kebenaran itu harus dijelaskan kepada seluruh umat manusia dan tidak disembunyikan. Oleh sebab itu, website istidlal.org bertujuan untuk meluruskan pandangan yang salah terhadap Islam, sekaligus bertujuan untuk menolak syubhat (kerancuan) yang timbul karena pencampuradukan kebenaran dengan kebatilan.

“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 142).

Website istidlal.org secara objektif mengajak kepada umat Islam kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai parameter dalam menimbang dan mengukur segala persoalan karena itulah kunci keselamatan dunia dan akhirat.

Aku tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya; (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (HR. Al-Hakim, shahih li ghairih).

Terakhir, website istidlal.org mengajak umat Islam untuk bersama-sama berusaha menegakkan agama-Nya (Islam) dalam berbagai sendi kehidupan serta bersatu di atas prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah.

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah Ad-Din dan janganlah kamu berpecah-belah di dalam-Nya.” (Asy-Syura: 13)

“Maka hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Gigit (pegang erat) sunnah tersebut dengan gigi geraham.(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad, shahih).

Ibnu Mas’ud berkata, “Al-Jama’ah itu adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, walaupun Anda mengikutinya sendiri.” (Atsar yang diriwayatkan oleh Al-Lalika’i di dalam Syarh I’tiqad Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah: 160).

Kemenangan kebenaran atas kebatilan yang bersifat material bisa jadi tertunda di dunia ini. Namun, kemenangan yang bersifat maknawi adalah lebih penting. Yang pasti, kemenangan itu bersama kesabaran dan hanya diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa.

“Maka bersabarlah, sungguh, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa.” (Hud: 49).