Tetap Totalitas Berislam, Jangan Takut Miskin!

share on:
Tetap Totalitas Berislam Jangan Takut Miskin-istidlal.org

Tetap Totalitas Berislam, Jangan Takut Miskin! — Salah satu konsekuensi menjadi seorang muslim yang hakiki adalah berlepas dari segala bentuk kesyirikan dan pelakunya, siap menerima syariat Allah Ta’ala dan tabah menghadapi berbagai tantangan dan risiko dalam hidup.

Begitu pula dalam kondisi yang terberat, ketika Allah memutuskan untuk tidak memperbolehkan orang-orang musyrik masuk ke Tanah Haram, sehingga kaum muslimin terputus hubungan yang menguntungkan kedua belah pihak dalam jual beli, maka mereka harus tunduk dan pasrah atas ketetapan ini.  Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberi kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. At-Taubah: 28)

Baca: Mungkinkah Terjadi Jahiliyah Pada Era Milenial?

Ayat ini diturunkan pada tahun sembilan Hijriah, karena itulah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam mengutus Ali radhiyallahu ‘anhu untuk menemani Abu Bakar radhilllahu di tahun itu untuk menyerukan pengumuman di kalangan orang-orang musyrik, bahwa sesudah tahun ini tidak boleh lagi ada orang musyrik berhaji dan tidak boleh lagi ada orang tawaf di Baitullah dengan telanjang.

Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin lagi suci agama dan dirinya agar mengusir orang-orang musyrik dari Masjidil Haram, karena mereka adalah orang-orang yang najis agama (akidah)nya. Dan sesudah turunnya ayat ini mereka tidak boleh lagi mendekati Masjidil Haram.

Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا يَدْخُلُ مَسْجِدَنَا بَعْدَ عَامِنَا هَذَا مُشْرِكٌ، إِلَّا أَهْلُ الْعَهْدِ وَخَدَمُهُمْ “

Dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Tidak boleh lagi memasuki masjid kita ini sesudah tahun ini seorang musyrik pun terkecuali kafir zimmi dan pelayan-pelayan (budak-budak) mereka.” (HR. Ahmad No. 14655; Ibnu Katsir berkata dengan sanad mauquf lebih shahih)

Baca: Masyarakat Jahiliyah, Ketika Wahyu Tidak Menata Sistem Kehidupan

Bahkan di penghujung hayatnya, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar kaum Yahudi diusir keluar dari jazirah Arab sehingga jazirah Arab bersih dari umat paling durhaka tersebut. Perintah tersebut berhasil terealisasi dengan sempurna di masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Dalam kondisi seperti ini, seolah Islam sangat takut terjatuh dalam kemiskinan dan kekurangan harta dunia, dikarenakan orang-orang musyrik tidak lagi berinteraksi dengan umat Islam di Tanah Haram; hubungan perekonomian akan terputus dan hilangnya hubungan impor atau ekspor yang sudah lama berjalan di jazirah Arab pada musim dingin atau musim panas.

Inilah ujian akidah yang sangat berat yang harus diterima kaum muslimin pada saat itu, Allah ingin membersihkan hati umat Islam dari rasa takut kecuali kepada Allah, bertawakkal kepada yang Maha Pemberi Rezeki dan Maha Kaya; keyakinan yang sangat kuat bahwa segala sebab dan akibat tidak lepas dari kehendak Rabb Semesta Alam.

Maka Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

Dan jika kalian khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepada kalian dari karunia-Nya.” (QS. At-Taubah: 28)

Baca: Syariat Islam Yes, Hukum Jahiliyah No

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam disebutkan, bahwa Ibnu Ishaq mengisahkan, orang-orang Muslim kala itu mengeluhkan, “Niscaya semua pemasaran akan terputus dari kita, perniagaan kita akan bangkrut, dan akan lenyaplah market pasar yang biasa kita kuasai dan menghasilkan keuntungan bagi kita.” Keluhan tersebut mengingat kaum musyrik Arab yang mengunjungi Makkah kala itu menjadi sumber penghasilan besar kaum Muslimin, terutama ahlu Makkah.

Allah meyakinkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka tidak perlu takut jatuh miskin karena Dialah sumber karunia dan rezeki, dengan kehendak-Nya lah seharusnya kaum Muslimin menyandarkan penghasilannya. Tidak perlu takut miskin. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui keadaan orang-orang Mukmin dan Maha Bijaksana dalam setiap kehendak maupun keputusan-Nya.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi No. 2344)

Baca: Jebakan Akidah dalam Perayaan Imlek

Al-Qurtubi mengatakan, ”Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.” (Lihat Al-Jami’ Li Ahkamil Quran, Imam Al-Qurthubi, 18/161)

Sungguh sangat sempurna syariat Allah Ta’ala. Tidak ada yang tercantum di dalamnya kecuali benar dan tepat sepanjang zaman. Menyimpang dari syariat-Nya adalah kesesatan yang sangat nyata dan kerugian yang besar. Allah perintahkan kaum muslimin untuk mencari kemuliaan dari sisi Rabbnya dan melarang mencari kemuliaan dari sisi orang-orang kafir. Karena sesungguhnya kemuliaan hanya milik Allah semata.

…أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعاً

“…Apakah mereka mencari kemulian di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemulian kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa’: 139)

Inilah ketetapan akidah. Dan Allah menghendaki setiap hati untuk tunduk kepada akidah. Jika Allah menghendaki, maka Allah dia pasti mengubah sarana-sarana rezeki  tersebut dengan sarana lainnya. Jika Dia menghendaki, Dia menutup satu pintu dan membuka lebar pintu-pintu yang lain.

Manhaj Al-Quran ini telah diberlakukan dalam masyarakat muslim yang baru tumbuh setelah penaklukan Mekah yang tingkat keimanannya belum terbentuk rapi.

Baca: Kronologi Penciptaan ‘tuhan’ dan Pewarisan Kekufuran

Sesungguhnya puncak target yang ingin dicapai oleh langkah umat ini yang merupakan misi yang diinginkan manhaj Al-Quran adalah puncak pemurnian diri kepada Allah Ta’ala dan mengabdikan diri untuk agama-Nya, juga puncak pemisahan total atas asas-asas akidah dengan setiap unsur-unsur kerabat dan kelezatan dunia.

Hal ini akan terwujud secara sempurna melalui apa yang disebarkan oleh manhaj Al-Quran dari penyadaran tentang garis pemisah antara manhaj Allah; yang menjadikan setiap manusia berhamba kepada Allah semata, dengan manhaj Jahiliyah yang menjadikan manusia sebagai pelayan-pelayan dan hamba bagi sebagian yang lain. Dua manhaj ini tidak akan bertemu dan hidup berdampingan selamanya.

Tanpa memahami tabiat agama ini dan hakikatnya serta tanpa memahami tabiat Jahiliyah dan hakikatnya, seseorang tidak mungkin mengapresiasi hukum-hukum Islam yang menetapkan kaidah-kaidah hubungan dan ikatan antara kekuatan tentara muslim dan kekuatan bala tentara lainnya. (Putra Hanafi/istidlal.org)

 

share on: