Ukhuwah Sebagai Alat Introspeksi

share on:
ukhuwah

Istidlal.org – Cobalah Anda berdiri di depan sebuah cermin yang besar, lebar, dan bening. Lalu perhatikan penampilan anda di depan cermin. Pandanglah dengan teliti dari ujung rambut di kepala sampai ujung jari kaki Anda. Dengan bercermin, Anda dapat merapikan bagian rambut Anda yang berantakan, atau pakaian Anda yang belum rapi. Dengan bercermin, Anda bisa mengetahui jerawat yang bertengger di jidat dan pipi, atau bengkak yang berada di bagian wajah Anda.

Sesungguhnya setiap muslim memerlukan sebuah cermin dalam kehidupannya. Bukan hanya cermin kaca yang memantulkan penampakan lahiriah dirinya. Namun lebih dari itu, cermin hidup, aktif, dan senantiasa bergerak yang memantulkan penampilan akhlak dan amal perbuatannya sehari-hari. Cermin hidup tersebut adalah umat Islam. Cermin aktif dan bergerak tersebut adalah saudaranya seiman.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seorang muslim harus menjadi muslim bagi saudara lainnya. Sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ »

Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin adalah cermin bagi orang mukmin lainnya. Seorang mukmin adalah saudara bagi orang mukmin lainnya. Ia akan mencegah kerusakan dari mata pencaharian hidup saudaranya dan ia akan menjaganya dari belakangnya.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Abu Daud dalam As-Sunan)

Hadits di atas dinyatakan hasan oleh Imam As-Suyuthi, Abdurrauf Al-Munawi, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Ukhuwah Sebagai Alat Introspeksi Diri

Hadits tersebut menyebutkan minimal tiga manfaat penting yang bisa dipetik seorang mukmin dari pergaulan dan persaudaraannya dengan sesama mukmin.

Pertama, Seorang manusia seringkali tidak mengerti kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan dirinya sendiri. Dengan memandang cermin, maka ia mengerti banyak kekurangan dan kesalahannya. Begitulah peranan seorang mukmin bagi mukmin lainnya. Seorang mukmin bisa melihat dengan jelas aib-aib, kekurangan-kekurangan, dan kekeliruan-kekeliruan sesama mukmin.

Dengan penuh kasih sayang, ia akan mengutarakan aib, kekurangan, dan kekeliruan saudaranya. Bukan untuk merendahkan saudaranya, menjatuhkan harga dirinya, atau mengintimidasinya. Ia mengutarakan kekurangan saudaranya dengan bahasa yang sopan, lemah lembut, dan penuh kasang sayang. Tujuannya adalah semata-mata saudaranya tersebut mawas diri, berintrospeksi diri, dan memperbaiki dirinya.

Hal itu karena seorang mukmin menyukai kebaikan untuk saudaranya, sebagaimana ia menyukai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal itu karena seorang mukmin membenci keburukan untuk saudaranya, sebagaimana ia membenci keburukan untuk dirinya sendiri. Seorang mukmin ingin dirinya menjadi pribadi yang shalih di hadapan Allah dan baik di hadapan manusia. Ia tidak ingin menjadi pribadi yang buruk di hadapan Allah dan jahat di hadapan manusia.

Maka ia juga menginginkan saudaranya menjadi pribadi yang shalih, bertakwa, dan berakhlak mulia. Ia tidak rela apabila saudaranya berkubang dalam aib, kekurangan, dan dosa. Ia ingin saudaranya bangkit dan memperbaiki dirinya. Ia senang apabila saudaranya menyadari segala kekurangan dan kesalahannya, melalui perantaraan nasehat, saran, dan kritik yang ia sampaikan. Lalu, ia lebih senang lagi ketika saudaranya tersebut memperbaiki dirinya dengan meninggalkan segala kekurangan dan kesalahan tersebut; dan menggantinya dengan amal-amal kebaikan.

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Asy-Syafi’i (wafat tahun 505 H) berkata, “Cara kedua untuk mengetahui aib diri sendiri adalah hendaklah ia mencari seorang kawan akrab yang jujur, cermat, dan taat beragama. Lalu ia menjadikan kawannya tersebut sebagai pengawas terhadap segala perbuatan dan keadaannya. Jika kawannya tersebut mendapati pada diri saudaranya akhlak yang tercela, perbuatan yang buruk, dan aib yang nampak maupun aib yang tersembunyi, niscaya ia mengingatkan saudaranya tersebut. Inilah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang cerdas dan tokoh-tokoh besar dalam agama Islam ini.” (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumid Diin, vol V hlm. 227)

Apa yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali di atas adalah kebenaran semata. Banyak sekali riwayat dari generasi sahabat dan tabi’in tentang penggunaan ukhuwah sebagai sarana untuk bercermin alias berintrospeksi diri.

Imam Abu Bakar Al-Isma’ili dan Syamsuddin Adz-Dzahabi meriwayatkan bahwa Umar bin Khathab RA berkata:

رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي

“Semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”

Umar bin Khathab RA adalah sahabat yang dikenal luas tentang kedalaman iman dan keluasan ilmunya. Perjuangannya dalam membela Rasulullah SAW tidak diragukan lagi. Meskipun demikian, ia masih bertanya kepada Hudzaifah bin Yaman, “Engkau adalah orang yang mendapat kepercayaan Rasulullah SAW untuk menyimpan informasi-informasi rahasia tentang orang-orang munafik. Apakah engkau melihat pada diriku ada tanda-tanda kemunafikan?”

Demikianlah seorang mukmin mengkhawatirkan aib dan dosa pada dirinya. Ia memerlukan saudara seiman yang jujur, teliti, lagi penyayang, untuk menyadarkan dirinya terhadap aib-aib dan dosa-dosanya.

Kepedulian Ekonomi

Kedua, kepedulian terhadap mata pencaharian hidup saudaranya. Nabi SAW mengungkapkan kepedulian seorang muslim terhadap kondisi ekonomi saudaranya dengan sabdanya:

يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَه

Lafal dhai’at memiliki makna mata pencaharian hidup seperti pertukangan, perdagangan, pertanian, dan lainnya. Demikian penjelasan Imam Ibnu Atsir Al-Jazari dan Abdurrauf Al-Munawi.

Adapun pengertian dari sabda Nabi SAW tersebut adalah ketika seorang muslim melihat sumber ekonomi dan mata pencaharian hidup saudaranya sesama muslim dalam kondisi buruk, hampir gagal, dan nyaris bangkrut; maka muslim tersebut segera membantunya agar usaha saudaranya tersebut kembali berjalan lancar, sukses, dan mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Inilah inti pesan dari sabda Rasulullah SAW tersebut. Adapun cara membantu kesulitan usaha saudaranya tentu beragam, sesuai keahlian muslim tersebut dan sesuai kondisi kesulitan saudaranya tersebut. Bisa saja dengan memberikan pinjaman modal tanpa bunga, atau membantu memanage keuangannya, atau memasok bahan baku untuknya, atau ikut memasarkan produknya, atau bahkan ikut menyumbangkan tenaganya. (Al-Munawi, Faidhul Qadir, vol VI hlm. 252 dan Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, vol XIII hlm. 260)

Bela Fisik dan Psikisnya

Ketiga, perlindungan dari arah belakang. Seorang mukmin akan membela dan melindungi saudaranya dari segala bentuk gangguan fisik maupun psikis. Seorang mukmin senantiasa berlaku tulus kepada saudaranya. Jika saudaranya diolok-olok, digunjing, dan difitnah; maka ia akan membela nama baik saudaranya. Demikian pula saat saudaranya dianiaya secara fisik, maka ia akan pasang badan untuk membela dan menyelamatkannya. Sungguh indah

Nabi SAW mengungkapkan hal itu dengan sabda beliau:

وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ

Imam Syamsul Haq Al-Azhim Abadi menyatakan, “Maknanya adalah menjaganya, melindunginya, dan membelanya sesuai batas kemampuannya.” (Al-Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, vol XIII hlm. 261)

Imam Abdurrauf Al-Munawi mengatakan, “Maknanya adalah menjaganya, melindunginya, dan membelanya sesuai batas kemampuannya, membelanya dari orang yang menggunjingnya, atau membelanya dari orang yang hendak menimpakan bahaya kepadanya, dan bergaul dengannya dengan cara yang baik, sesuai dengan kemampuan, dengan penuh kasih sayang dan nasehat.” (Al-Munawi, Faidhul Qadir, vol VI hlm. 252)

Renungan

Inilah sebagian di antara manfaat ukhuwah Islamiyah. Maka tugas setiap muslim, baik sebagai individu muslim, ormas Islam, maupun kelompok Islam, untuk berintrospeksi diri. Sudahkah manfaat-manfaat ukhuwah di atas dirasakan dalam kehidupan sehari-hari mereka? Jika sudah, maka kita harus bersyukur kepada Allah, sembari terus menjaga dan meningkatkannya. Adapun jika belum, maka hal itu pertanda bahwa kita belum mengaplikasikan ukhuwah Islamiyah yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari kita. Walluahu a’lam []

Penulis : Fadlullah

 

REFERENSI

Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumid Diin, Jeddah: Darul Minhaj, cet. I, 1432 H.

Muhammad Syamsul Haq Al-Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Madinah: Maktabah Salafiyah, cet. 1, 1389 H.

Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ As-Shaghir, Beirut: Darul Ma’rifah, cet. II, 1391 H.

 

share on: