Ulama itu Dimuliakan, bukan Dipersekusi dan Dikriminalisasi

share on:
Ulama itu Dimuliakan, bukan Dipersekusi dan Dikriminalisasi-istidlal.org

Akhir-akhir ini masyarakat dunia diperlihatkan berbagai berita dan peristiwa nyata tentang serangan persekusi terhadap ulama, ustadz, dan aktivis ormas Islam. Mulai dari penganiayaan, kriminalisasi, teror, hingga kekerasan fisik, seakan akan ulama itu tidak ada harga diri dan kehormatannya.

Memang upaya kriminalisasi ini bukan hal baru dalam sejarah perjuangan umat Islam. Sejak awal zaman kenabian, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sempat bertanya kepada Waraqah bin Naufal tentang ujian yang akan dia hadapi ketika membawa kebenaran Islam. Saat itu beliau diberi jawaban yang sangat gamblang: Tidak ada seorang pun yang datang membawa kebenaran seperti yang kamu bawa, melainkan pasti dimusuhi. (HR. Al-Bukhari).

Terbukti. Selama 23 tahun Rasul mendakwahkan kebenaran Islam, sering sekali Beliau difitnah, diejek, dizalimi, diboikot, bahkan mau dibunuh, baik oleh orang kafir maupun munafik. Dari perjalanan sirah beliau bisa diketahui, pembenci kebenaran selalu memiliki ciri khas yang sama, yaitu: mencoba menghalang-halangi pertumbuhan kebenaran dengan berbagai cara yang bisa dilakukan. Terlebih, jika mereka memegang kekuasaan, cara-cara keji akan dilakukan untuk menghentikan dakwah.

Imam Syafi’i pernah dituduh sebagai pendukung Syiah oleh pendengkinya, Mutharrif bin Mâzin. Bahkan Mutharrif memprovokasi Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk menangkap Imam Syafi’i dan orang-orang alawiyin. Diutuslah Hammad al-Barbari untuk menangkap Imam Syafi’i dan orang-orang alawiyin. Ia dirantai dengan besi bersama orang alawiyin dari Yaman hingga Raqqah, kediaman Harun Ar-Rasyid. (Siyaru A’lâm al-Nubalâ, 8/273). Bayangkan, betapa sengsaranya dirantai dengan besi dari Yaman hingga Baghdad.

Baca juga: Materi Khutbah Jumat: Waspada Bencana, Renungi Sabda Utusan-Nya

Imam Ahli Hadits, Ahmad bin Hanbal juga pernah mengalami nasib yang lebih menyakitkan. Ia dicambuk, dipenjara selama 30 bulan oleh al-Makmun gara-gara tidak mengakui akidah sesat berupa keyakinan bahwa al-Quran adalah makhluk, sebagaimana yang diyakini oleh sekte Mu’tazilah (Al-Kâmil fi at-Târîkh, 3/180).

Tindakan ini adalah penghinaan yang nyata kepada ulama dan Islam, karena Ulama di dalam Islam memiliki derajat yang tinggi dan mulia. Di dalam kitab Ihya’ Ulumud-din karya Al-Imam Al-Ghazali (1/5), disebutkan bahwa:

أَقْرَبُ النَّاسِ مِنْ دَرَجَةِ النُّبُوَّةِ أَهْلُ الْعِلْمِ وَالْجِهَادِ: أَمَّا أَهْلُ الْعِلْمِ فَدَلُّوْا النَّاسَ عَلَى مَا جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ، وَأَمَّا أَهْلُ الْجِهَادِ فَجَاهَدُوا بِأَسْيَافِهِمْ عَلَى مَا جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ

“Manusia yang paling dekat martabatnya dengan martabat para nabi adalah ahlul ilmi (ulama) dan ahlul jihad (mujahidin). Karena ulama adalah orang yang menunjukkan manusia kepada ajaran yang dibawa para rasul, sedangkan mujahid adalah orang yang berjuang dengan pedangnya untuk membela apa yang diajarkan oleh para Rasul.”

Menghormati dan menghargai ulama menjadi suatu keharusan. Ulama telah berjuang dan meluangkan waktunya untuk menyampaikan Islam, memberikan pemahamannya yang dalam mengenai Islam kepada umat, pendapatnya diminta untuk memecahkan setiap permasalahan umat dan lain sebagainya.

Ulama adalah pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan. Keberadaan ulama merupakan nikmat, sebaliknya wafatnya ulama adalah musibah bagi manusia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. رواه البخاري

Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu ini dari hamba-Nya secara langsung. Akan tetapi Allah akan mencabut ilmu ini dengan wafatnya para ulama. Dan jika para ulama tidak tersisa lagi, maka manusia akan memilih pemimpin-pemimpin yang bodoh. Pemimpin itu pun ditanya maka ia akan berfatwa tanpa dasar ilmu. Para pemimpin itu pun tersesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari)

Baca juga: Antara Syuro dan Sistem Politik Islam

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata (Syarh Riyadhish Shalihin, 3/438): “Tatkala hal tersebut terjadi, Islam hakiki yang terbangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah tidak akan didapatkan, karena para ahlinya telah diwafatkan.”

Allah ‘azza wajalla berfirman tentang kedudukan para ulama di sisi-Nya:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ

Allah bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah, melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS. Ali Imran: 18)

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata:

“Di dalam ayat ini terdapat dalil tentang keutamaan ilmu, kemuliaan para ulama, dan keutamaan mereka. Karena kalau ada seorang yang lebih utama dari para ulama, tentu Allah akan menyertakan mereka dengan nama Nya dan nama para malaikat, sebagaimana Allah menyertakan nama para ulama.” (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 4/41)

Di zaman salaf shalih, kedudukan ulama sangat diistimewakan hingga  keberadaannya benar-benar dijaga tidak saja oleh umat itu sendiri tapi juga oleh Pemerintah. Tidak ada diskriminasi, teror dan  penyiksaan terhadap ulama. Karena umat dan pemimpinnya menyadari bahwa haram hukumnya berdiam diri saat ulama terzalimi.

Baca juga: Kebutuhan Umat Kepada Al-Quran Al-Karim

Mereka menjaga ulama secara fisik sambil terus mensosialisasikan pentingnya keberadaan ulama di tengah umat sebagai wasilah datangnya kebaikan dan melarang segala jenis penghinaan, ujaran kebencian juga permusuhan kepada ulama. Karena Rasulullah bersabda, Allah berfirman dalam hadits Qudsi:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ … رواه البخاري

Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman : ‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya’…” (HR. Al-Bukhari)

Dan wali-wali Allah adalah ulama dan orang-orang yang beriman. Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Jika para ulama bukan wali Allah, niscaya Allah tidak memiliki wali sama sekali.” (al-Faqih wal Mutafaqih, 1/36)

Menghormati ulama termasuk pengagungan kepada Allah ‘azza wajalla, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu memuliakan orang tua yang muslim, orang yang hafal Al-Quran tanpa berlebih-lebihan atau berlonggar-longgar di dalamnya dan memuliakan penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud: 4843)

Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan termasuk umatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan mengetahui hak-hak orang alim.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak: 1/122)

Imam Thawus rahimahullah mengatakan:

مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يُوَقِّرَ الْعَالِمَ

Termasuk sunnah adalah menghormati seorang ‘Aliim.” (Jami’ bayanil ilmi wa fadhlihi, Ibnu Abdil Barri: 1/129)

Bila mengghibah sesama muslim seperti memakan daging busuk yang mengandung kuman penyakit, maka mengghibah ulama adalah memakan daging beracun. Racun itu adalah penjagaan Allah kepada para kekasih-Nya. Dan ancaman musibah seperti memakan racun bagi yang melanggar penjagaan itu. Racun yang berujung pada kebinasaan.

Baca juga: Memahami Makna Khilafah, Imamah dan Imaroh

Al-Hafidz Ibnu Asakir dalam “Tabyin Kadzib Al-Muftari” hlm. 29 berkata:

واعْلَمْ يَا أخِي، أَنَّ لُحُومَ العُلَماءِ مَسْمُومَةٌ، وَعَادةُ اللهِ في هَتْكِ أسْتَارِ مُنْتَقِصِيهِمْ مَعْلُومَةٌ، لأنَّ الوَقِيعَةَ فِيهِمْ بِمَا هُمْ مِنْهُ بَرَاءٌ أمْرُهُ عَظِيم ٌ، والتَّناوُلُ لأعْراضِهِم بالزُّورِ والافْتِراءِ مَرْتَعٌ وَخيمٌ، والاختِلاقُ عَلَى من اخْتارهُ اللهُ مِنْهُم لِنَعْشِ العِلْمِ خُلُقٌ ذَمِيمٌ.

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya daging para ulama itu beracun (menggunjingnya adalah dosa besar), dan kebiasaan Allah dalam menyingkap kedok para pencela mereka (ulama) telah diketahui bersama. Karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka, merupakan petaka besar, dan melecehkan kehormatan mereka dengan dusta dan mengada-ada merupakan kebiasaan buruk, dan menentang mereka yang telah Allah pilih untuk menebarkan ilmu, merupakan perangai tercela.”

Karena itu, waspadalah! Jangan sampai merendahkan, menghina dan mengghibah para ulama, apalagi sampai mengriminalisasi atau melakukan kekerasan secara fisik kepada mereka. Pelajaran dari orang-orang dahulu, mereka binasa lantaran terlalu lancang terhadap orang-orang yang memegang warisan Nabi shallahu ‘alaihi wasallam tersebut.

Na’udzubillah min dzalik, Semoga Allah menjadikan kita hamba yang selalu menjaga, memuliakan, membela dan mencintai ulama, satu barisan dengan ulama dalam perjuangan membela Agama Allah Ta’ala, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana hadits Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam: “Seseorang itu beserta orang yang dicintainya”. (HR. Al-Bukhari). Amiiin. (Hanafi/istidlal.org)

share on: