Umat dalam Cengkeraman, Apa yang Harus Kita Lakukan?

share on:
Umat dalam Cengkeraman Apa yang Harus Kita Lakukan-istidlal.org

Umat dalam Cengkeraman, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Suka tidak suka, mau tidak mau, Allah menakdirkan kita untuk hidup di fase ini. Fase di mana umat Islam dizalimi di setiap tempat, syariat Allah dimusuhi, diin kita diperangi, negeri kita diagresi. Sedangkan umat kita masih terpecah-pecah oleh sekat-sekat Nasionalisme, sehingga musuh dengan gampang menjadikan umat ini santapan. Mereka tidak pandang bulu, semua mereka sikat, kaum muslimin diperangi, ajarannya dirusak dan negerinya mereka rampas kekayaan alamnya. Dan lebih parahnya, itu semua mereka lakukan melalui tangan  para pemimpin yang berkuasa di negeri Islam.

Namun kondisi itu seharusnya tidak kita membuat patah arang dan merasa hina. Karena di sisi lain Allah juga telah menjadikan para pejuang agama ini sebagai orang-orang yang mulia. Orang yang menolak kehinaan dan kelemahan meskipun mereka mendapati berbagai ujian di jalan Allah.

Ajaran Islam membuat jiwa-jiwa yang bengkok menjadi lurus dan membuat seorang muslim menanggalkan keterikatan terhadap dunia yang memberatkan langkah kaki mereka di jalan Allah. Karena mereka selalu yakin akan janji Allah.

Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. “ (QS. AN-Nur: 55)

Beginilah Islam, meskipun kondisi pahit yang dialami umat, Islam menjaga umatnya agar tidak frustasi, agar kita yakin bahwa mereka yang sedang menyakiti umat ini, suatu saat pasti akan hancur dan musnah, dan kita masih memegang janji pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat.

Baca: Kekeliruan Prinsip Hidup Masyarakat Musyrik Makkah

Namun saat ini kita masih merasakan sakit dan perih, dan kita berharap musibah umat ini dapat hilang di tangan kita dan kita bisa memasuki Al-Quds dengan tenang dan terbebas dari kotoran kekufuran. Pertanyaannya, Bagaimana cara mendapatkan kemenangan itu? Apa caranya?

 

Menganalisa Pangkal Permasalahan Umat Ini

Seseorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Apakah karena sedikitnya jumlah kita ketika itu?”

Nabi menjawab, “Bahkan jumlah kalian banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih di lautan. Dan Allah akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan Allah akan lemparkan ke dalam hati kalian penyakit wahn.

Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah apa itu wahn?”

Beliau menjawab, “Cintai dunia dan takut mati.”

Ketika kewajiban kita adalah membuat marah orang kafir dengan mencegah kekufuran dan kebatilan, dan menegakkan din Allah di bumi, mengangkat kabut kelam yang menimpa umat yang berupa kezaliman terhadap para wanita, anak-anak, dan orang tua, maka kita harus membetulkan arah kompas umat ini, agar umat bergerak ke arah yang benar.

Jika melihat realita perjuangan, ada banyak klasifikasi manusia dalam perjuangan. Ada orang yang alim, paham jalan perjuangan dan punya kemampuan untuk melakukan perubahan, akan tetapi dia eggan melakukan itu karena takut dunianya hilang, dia takut memperjuangkan Islam karena takut jabatannya terkorbankan.

Baca: Sanksi Akibat Menyelisihi Akad Kesepakatan dalam Jamaah Minal Muslimin

Sedangkan di sisi lain ada yang tahu jalan perjuangan, akan tetapi dia tidak bisa beramal karena tidak memiliki kemampuan, atau hanya cukup merasakan perih dan sakit melihat kondisi umat, namun mereka semua terbelenggu di penjara tidak bisa bersuara apalagi beramal.

Ada pula yang tidak megerti kewajibannya untuk memperjuangkan Islam dan hanya mencukupkan diri dengan sholat, zakat, zikir dan wirid.

Ada pula yang tahu jalan perjuangan, akan tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka memiliki potensi untuk melakukannya.

Dan kondisi ini diperparah dengan adanya mereka yang tahu jalan perjuangan, menapakinya, berjihad melawan godaan dunia dan hawa nafsu, namun belum usai perjuangan mereka sudah berbalik arah, mereka frustasi ketika kemenangan tak kunjung datang, dan jalan kemenangan ternyata masih panjang.

Allah ‘azza wajalla berfirman:

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS At-Taubah: 120)

 

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bertubi-tubi hantaman yang diterima oleh generasi umat ini, hal itu terjadi karena kita telah meninggalkan kewajiban untuk berjuang membela agama ini, terpecah belahnya umat dan sedikitnya orang-orang yang kompeten memikul tanggung jawab untuk membangkitkan umat dari tidurnya.

Oleh karena itu, tugas yang mendesak saat ini adalah mempersiapkan generasi yang siap berkorban dan membuat barisan umat islam yang kuat yang mampu membuat konsep dan melaksanakannya.

Hal ini tidak akan dapat terwujud kecuali dengan memperkuat barisan dakwah. Tapi bukan dakwah yang membuat umat tunduk dan patuh terhadap penguasa sekuler. Bukan pula dakwah aman yang menghindar dari risiko. Bukan dakwah yang takut terhadap penguasa zalim. Bukan dakwah yang hanya memindahkan seorang muslim menuju kesalehan personal saja.

Baca: Karakteristik Generasi Pemakmur Masjid

Dakwah yang kita butuhkan saat ini adalah dakwah yang membangkitkan umat dari ketertiduran. Dakwah yang menyadarkan kaum muslimin bahwa mereka memiliki peran dan kewajiban untuk bergerak. Dakwah yang mampu menyadarkan mereka bahwa mereka sedang dihegemoni oleh musuhnya.

Dakwah yang mampu mengeluarkan umat dari periode lemah menuju fase perlawanan. Dari fase perlawanan. Menuju fase kemenangan dan menegakkan syariat Allah di muka bumi, yang dengannya kewibawaan umat terangkat. Dakwah yang mampu menghadirkan kesalehan kolektif di tengah umat Islam.

 

Manhaj Seperti Apa yang Harus kita Gunakan untuk Mendidik Umat?

Allah ‘azza wajalla berfirman:

قَالُوا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

Mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.” (QS Thaha : 72)

Pada dasarnya manhaj yang kurang dari umat ini adalah manhaj yang bersemayam di hati tukang sihir Firaun saat mereka beriman. Ketika mereka menentang Firaun dengan berkata, “Silahkan putuskan apa yang hendak engkau putuskan (wahai Firaun).” Yaitu manhaj yang menganggap kecil semua ujian yang dihadapi di jalan Allah.

Karena padasarnya tidak ada cara ajaib yang semudah membalik telapak tangan, tidak ada cara instan untuk merubah kepedihan dan luka umat ini, tidak ada cara cepat untuk menghentikan semua musibah yang menimpa umat ini. Sedangkan bantuan terhadap kaum muslimin yang terzalimi berupa mengumpulkan donasi hanyalah seperti obat pereda nyeri saja, tidak mengurai masalah sampai ke akar dan juga tidak mengobati hati mereka yang tertindas secara permanen.

Baca: Sifat Shidiq sebagai Bekal Aktifis

Al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa berbagai kepedihan dan musibah ini, sebenarnya bukanlah prioritas paling utama, namun dia adalah sebuah keniscayaan. Prioritas utama kita adalah menyampaikan risalah agama ini. Allah menegur kita yang telah menurunkan prioritas kita dari memperjuangkan agama pada terbatas hanya menyalurkan donasi.

Allah ‘azza wajalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 38)

Tugas kita adalah berjuang di jalan Allah, sedangkan luka-luka yang menimpa kita, juga menimpa musuh kita, kepedihan yang menimpa kita juga dirasakan oleh musuh kita. Akan tetapi luka dan kepedihan yang kita rasakan dijanjikan balasan kenikmatan dan bayarannya adalah jannah, salah satu dari dua kebaikan, hidup mulia atau mati syahid, sedangkan mereka akan mendapat azab dari Allah atau Allah azab mereka melalui tangan-tangan kita.

Allah ‘azza wajalla berfirman:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 140)

Inilah sifat barisan kaum muslimin, Pada barisan seperti seperti inilah risalah ini diemban agar mampu mengeluarkan manusia dari kesempitan dunia dan kezaliman menuju keluasan dan keadilan Islam. Allah ‘azza wajalla berfirman:

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146)

Mereka adalah orang-orang yang wajib mendapat pertolongan Allah. Allah ‘azza wajalla berfirman :

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan wajib bagi Kami (Allah) menolong orang-orang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)

Yang demikian itu karena mereka tidak terlalu sibuk tentang apa yang menimpa mereka, yang penting bagi mereka adalah mereka berada di jalan Allah, baik hidup atau mati.

Khutbah Jumat: Iman Sebagai Identitas Seorang Muslim

Islam tidak ingin kita meratapi nasib kita, kezaliman yang kita hadapi. Akan tetapi yang diinginkan adalah munculnya pada diri umat Islam semangat untuk berubah, semangat untuk berkontribusi memenangkan Islam dan semangat untuk berjihad di jalan Allah, menjual dunia untuk akhirat.

Begitu banyak kalimat-kalimat agung yang menggambarkan sikap ridho untuk hidup dalam perjuangan Islam. Kalimat-kalimat ini terpancar dari firman Allah:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ () قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ

Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (51) Katakanlah: ‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan.” (QS. At-Taubah: 51 -52)

Seperti perkataan tukang sihir Firaun yang mengatakan, “Silahkan putuskan apa yang engkau ingin putuskan.

Atau perkataan Ibnu Taimiyah, “Apa pun yang dilakukan musuhku terhadapku, ketahuilah bahwa jannahku ada di hatiku...”

Dan banyak sekali perkataan-perkataan agung yang serupa dengan ungkapan di atas yang lahir dari semangat berkorban di jalan Allah.

Oleh karena itu, jangan sampai luka dan upaya musuh membuat rasa takut memenuhi seluruh pikiran kita. Makar dan upaya musuh adalah realitas yang cukup disikapi sewajarnya saja, jangan malah membuat kita terjebak ke dalam jurang ketakutan sehingga takut dan enggan untuk berbuat.

Jika kita telah berhati-hati dan musuh tetap mampu menimpakan musibah kepada kita, maka ini waktunya untuk sabar atas ujian dan menganggap kecil setiap luka dan kepedihan yang mereka timpakan kepada kita. Karena ujung dari makar mereka adalah takdir Allah kepada kita. Dan kita akan mendapat satu dari dua kebaikan. [Ibnu Rodja/istidlal.org]

share on: