Unsur Kepercayaan dalam Perayaan Tahun baru Imlek

share on:
Unsur Kepercayaan dalam Perayaan Tahun baru Imlek-istidlal.org

Banyak masyarakat muslim terlibat dalam euforia simbol tahun baru imlek, ia lupa terhadap unsur kepercayaan yang melekat di belakangnya. Padahal unsur-unsur kepercayaan tersebut sangat bertolak belakang dengan prinsip akidah Islam. Mulai dari tradisi angpau, menempelkan bait sajak, tari barongsai, bahkan dalam lampu lampion.

 

UNSUR KEPERCAYAAN DALAM TRADISI PEMBERIAN ANGPAU SAAT IMLEK

Asal Usul Tradisi Pemberian Angpau Saat Imlek

Selama periode tahun baru Imlek, bagi orang yang sudah berkeluarga atau orang yang lebih tua, wajib hukumnya memberikan angpau kepada anak-anak atau kepada orang yang belum menikah. Angpau disebut juga dengan yasui qian, yang mempunyai arti ‘uang yang dapat memberangus hantu’.

Menurut legenda, selain monster Nian, hidup pula sesosok hantu yang bernama Sui, yang keluar pada malam tahun baru, untuk menakut-nakuti anak-anak pada saat mereka tertidur.

Dikatakan bahwa anak-anak yang disentuh oleh hantu Sui ini terlalu takut untuk berteriak, sehingga akan mengalami demam tinggi dan menjadi tidak stabil secara mental. Untuk menjaga agar anak-anak tetap aman terhindar dari ancaman hantu Sui, para orang tua harus menyalakan lilin dan tetap berjaga sepanjang malam.

Pada suatu malam tahun baru di sebuah rumah keluarga pejabat, sang orang tua memberikan delapan (8) keping uang logam sebagai mainan, agar si anak tetap terjaga, dan terhindar dari ancaman dilukai oleh hantu tersebut.

Sang anak membungkus keping uang logam tersebut dengan kertas berwarna merah, kemudian membukanya, lalu membungkusnya kembali, dan membukanya kembali, begitu seterusnya sampai si anak lelah bermain dan jatuh tertidur.

Kemudian sang orang tua akan menempatkan bungkusan berisi 8 keping uang logam tersebut di bawah bantal si anak. Ketika hantu Sui mencoba menyentuh dahi sang anak, kedelapan keping uang logam tersebut akan memancarkan cahaya yang kuat dan menakut-nakuti hantu tersebut hingga pergi.

Kedelapan keping uang logam tersebut menjadi sosok delapan (8) peri pelindung. Sejak saat itulah, memberi angpau menjadi cara untuk menjaga agar anak-anak tetap aman dan membawa keberuntungan. (www.tionghoa.info)

 

Unsur Kepercayaan dalam Tradisi Angpau

Berdasar uraian asal-usul sejarah pemberian Angpau dalam perayaan Imlek di atas, kita bisa memahami bahwa pemberian Angpau tersebut memiliki unsur akidah (kepercayaan-keagamaan) dan filosofi khusus.

Pemberian Angpau dalam perayaan Tahun Baru Imlek mengandung unsur-unsur kepercayaan/keagamaan yang bertentangan dengan syariat Islam. Penjelasan ringkasnya adalah sebagai berikut ini.

  1. Kepercayaan bahwa hantu Sui dapat mendatangkan marabahaya bagi manusia, khususnya anak-anak. Menurut kepercayaan-keagamaan bangsa Tiongkok tersebut, anak-anak yang disentuh oleh hantu Sui ini akan mengalami demam tinggi dan menjadi tidak stabil secara mental.

Meyakini bahwa makhluk halus (bangsa jin yang jahat) dengan sendirinya, tanpa izin dan kekuasaan Allah SWT, dapat mendatangkan manfaat atau menyebabkan marabahaya kepada umat manusia adalah sebuah keyakinan syirik. Islam mengajarkan tiada manfaat dan tiada marabahaya yang ditimbulkan oleh makhluk, kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT semata.

  1. Kepercayaan dan teknik yang keliru dalam mengusir bahaya yang ditimbulkan oleh hantu Sui (baca: jin yang jahat).

Asal usul pemberian Angpau dalam perayaan Tahun Baru Imlek mengajarkan kepada manusia tata cara yang salah dalam menolak bahaya (andai ada) yang ditimbulkan oleh hantu Sui (baca: jin jahat). Tata cara penolakan bahaya hantu tersebut mengandung unsur-unsur kesia-siaan, bahkan unsur kesyirikan.

Unsur kesia-siaan adalah kegiatan menyalakan lilin, membungkus delapan keeping uang logam dalam kertas dan meletakkannya di bawah bantal, serta begadang sepanjang malam.

Adapun unsur kesyirikan adalah meyakini bahwa benda mati seperti delapan keeping uang logam dapat menolak marabahaya yang ditimbulkan oleh hantu Sui (baca: jin jahat).

 

UNSUR KEPERCAYAAN DALAM TRADISI PENEMPELAN BAIT SAJAK

Asal Usul Tradisi Penempelan Bait Sajak Musim Semi

Menurut sumber-sumber Tiongkok, tercatat bahwa asal mula bait sajak musim semi sudah ada sejak 1000 tahun yang lalu, yaitu ketika orang menggantungkan taofu, jimat yang ditulis pada kayu persik di pintu.

Menurut legenda Tiongkok, dalam dunia hantu terdapatlah sebatang pohon persik yang sangat besar membentang sepanjang lebih dari 1500 kilometer di atas gunung.

Menghadap timur laut pohon tersebut, terdapat dua pengawal bernama Shentu dan Yulei, yang berjaga di pintu masuk dunia hantu. Mereka akan menangkap hantu-hantu yang melukai manusia, kemudian dijadikan sebagai santapan kepada harimau.

Itulah sebabnya kedua pengawal ini sangat ditakuti oleh para hantu. Dipercaya bahwa dengan menggantungkan sepotong kayu persik di pintu dengan nama kedua pengawal terpahat di atasnya, dapat mengusir pergi para hantu.

Pada zaman dinasti Song (960-1279 M) orang mulai menuliskan dua (2) kalimat yang berlawanan pada kayu persik, sebagai ganti nama kedua pengawal tersebut.

Lambat laun, kayu persik mulai digantikan dengan sehelai kertas berwarna merah, yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan. Sejak saat itu, menempelkan bait sajak musim semi menjadi tradisi dalam menyambut tahun yang baru dan sebagai ungkapan akan harapan yang baik. (www.tionghoa.info)

 

Penempelan Bait Musim Semi Mengandung Unsur Keagamaan-Kepercayaan

Berdasar uraian asal-usul sejarah penempelan bait musim semi dalam perayaan Tahun Baru Imlek di atas, kita bisa memahami bahwa penempelen bait sajak tersebut memiliki unsur akidah (kepercayaan-keagamaan) dan filosofi khusus.

Penempelan bait sajak dalam perayaan Tahun Baru Imlek mengandung unsur-unsur kepercayaan/keagamaan yang bertentangan dengan syariat Islam. Penjelasan ringkasnya adalah sebagai berikut ini.

  1. Kepercayaan bahwa hantu-hantu itu dapat melukai manusia secara fisik dan mendatangkan marabahaya bagi manusia. Hantu-hantu tersebut pada hakekatnya adalah jin-jin jahat (setan).

Namun terdapat distorsi bahaya jin jahat dalam keyakinan bangsa Tionghoa tersebut. Dalam ajaran Islam, tujuan hidup bangsa jin jahat dan bahaya utama mereka adalah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah yang lurus, mengajak umat manusia kepada kekufuran dan kemaksiatan, sehingga manusia yang tersesat dapat menjadi kawan-kawan jin jahat di neraka kelak.

Meyakini bahwa makhluk halus (bangsa jin yang jahat) dengan sendirinya, tanpa izin dan kekuasaan Allah SWT, dapat mendatangkan manfaat atau menyebabkan marabahaya kepada umat manusia adalah sebuah keyakinan syirik. Islam mengajarkan tiada manfaat dan tiada marabahaya yang ditimbulkan oleh makhluk, kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT semata.

  1. Kepercayaan dan teknik yang keliru dalam mengusir bahaya yang ditimbulkan oleh para hantu (baca: jin yang jahat).

Asal usul penempelan bait sajak musim semi dalam perayaan Tahun Baru Imlek mengajarkan kepada manusia tata cara yang salah dalam menolak bahaya (andai ada) yang ditimbulkan oleh para hantu (baca: jin jahat). Tata cara penolakan bahaya hantu tersebut mengandung unsur-unsur kesia-siaan, bahkan unsur kesyirikan.

Unsur kesia-siaan adalah menggantungkan sepotong kayu persik di pintu dengan nama kedua pengawal terpahat di atasnya, lalu berkembang dengan menuliskan dua (2) kalimat yang berlawanan pada kayu persik sebagai ganti nama kedua pengawal tersebut, dan akhirnya berkembang menjadi penempelan sehelai kertas berwarna merah.

Adapun unsur kesyirikan adalah meyakini bahwa benda mati seperti kayu persik, tulisan nama kedua pengawal, dan sehelai kertas merah dapat menolak marabahaya yang ditimbulkan oleh hantu Sui (baca: jin jahat).

UNSUR KEPERCAYAAN DALAM FESTIVAL LAMPION DAN TARI BARONGSAI

Asal Usul Festival Lampion dan Tari Barongsai

Festival Lampion dirayakan pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar (kalender berdasar revolusi bulan terhadap bumi). Festival Lampion selalu jatuh di antara tanggal 5 Februari sampai 7 Maret. Pada tahun 2019 ini, Festival Lampion jatuh pada tanggal 19 Februari.

Menurut tradisi Tionghoa, Festival Lampion merupakan hari terakhir dari rangkaian Festival Musim Semi atau Festival Tahun Baru Imlek. Festival Lampion menandai datangnya kembali musim semi dan melambangkan berkumpulnya kembali reuni keluarga. Setelah Festival Lampion, semua pantangan selama tahun baru sudah tidak berlaku lagi, dan semua dekorasi tahun baru mulai diturunkan.

Menurut sumber Tionghoa, Festival Lampion sudah dilakukan sejak 2000 tahun lalu. Asal mula dari Festival Lampion adalah pada permulaan Dinasti Han Timur (25-220 SM), Kaisar Hanmingdi adalah pendukung ajaran Budha. Ia mendengar kabar bahwa sebagian rahib (pendeta Budha) menyalakan lentera di dalam kuil untuk menunjukkan rasa hormat kepada Sang Budha Gautama pada hari ke-15 bulan pertama. Oleh sebab itu Kaisar Hanmingdi memerintahkan agar seluruh kuil, rumah dan istana kerajaan menyalakan lentera di malam tersebut.

Tradisi dalam agama Budha ini lambat laun menjadi sebuah festival besar di kalangan masyarakat Tionghoa.

Perayaan Festival Lampion di Indonesia disebut dengan Cap Go Meh. Perayaan biasanya dilakukan oleh umat Budha di kelenteng-kelenteng atau Vihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya sambil menggotong ramai-ramai Kio atau usungan yang di dalamnya diletakkan arca para Dewa.

Bahkan di beberapa kota di tanah air seperti di daerah Jakarta dan Manado, terdapat atraksi “Lokthung” atau “Tangshin” dimana ada seseorang yang menjadi medium perantara, yang konon setelah dibacakan mantra tertentu dipercaya telah dirasuki oleh roh Dewa untuk memberikan berkat bagi umatnya.

Selain menyalakan dan menyaksikan Lampion, lalu menulis dan menebak teka teki dalam Lampion, tarian Barongsai merupakan salah satu atraksi paling populer dalam Festival Lampion.

Tari Barongsai merupakan tarian rakyat tradisional yang paling popular di Tiongkok. Tari Barongsai diketahui telah ada sejak zaman Tiga Kerajaan Sam Kok (220-280 M). Orang-orang Tiongkok zaman dahulu memandang singa sebagai lambang keberanian dan kekuatan. Singa dianggap dapat mengusir roh jahat dan melindungi manusia serta makhluk hidup lainnya.

Oleh sebab itu, tarian Barongsai dipertontonkan pada peristiwa penting, terutama pada Festival Lampion, untuk menangkal roh jahat dan mendoakan keberuntungan serta keamanan. (www.tionghoa.info)

 

Unsur Kepercayaan dalam Festival Lampion dan Tari Barongsai

Berdasar uraian asal-usul sejarah Festival Lampion dan tari Barongsai dalam perayaan Tahun Baru Imlek di atas, kita bisa memahami bahwa Festival Lampion dan tari Barongsai memiliki unsur akidah (kepercayaan-keagamaan) dan filosofi khusus.

Festival Lampion dan tari Barongsai dalam perayaan Tahun Baru Imlek mengandung unsur-unsur kepercayaan/keagamaan yang bertentangan dengan syariat Islam. Penjelasan ringkasnya adalah sebagai berikut ini.

  1. Penyalaan dan pemasangan lentera pada hari ke-15 bulan pertama berasal dari ritual pengagungan Sang Budha Gautama oleh para pendeta Budha di Tiongkok. Ritual sembahyang agama Budha ini telah dilakukan oleh para pendeta Budha sejak 2000 tahun yang lalu.
  2. Kaisar Hanmingdi, yang menganut dan mendukung sepenuhnya agama Budha, memerintahkan agar ritual sembahyang Budha tersebut diperluas pelaksanaannya, tidak saja oleh para pendeta Budha di Vihara, namun juga oleh seluruh rakyat dan pejabat di rumah-rumah dan istana kerajaan.
  3. Perayaan Festival Lampion biasanya dilakukan dengan arak-arakan umat Budha dengan mengusung Kio yang di dalamnya diletakkan arca para Dewa.

Menurut syariat Islam, penyembahan dan pengagungan terhadap Sang Budha Gautama maupun para dewa adalah kesyirikan. Maka umat Islam haram untuk turut menghadirinya, menontonnya, apalagi bergembira dan terlibat di dalamnya. Sebab, hal itu berarti ia terlibat dalam kesyirikan dan sembahyang agama Budha.

Allah SWT berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.  Tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’am [6]: 162-163)

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah [1]: 5)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun!” (QS. An-Nisa’ [4]: 36)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni jika ia dipersekutukan dengan selain-Nya dan Allah akan mengampuni dosa-dosa yang lain (lebih rendah) dari hal itu, bagi siapa yang Allah kehendaki. Barangsiapa menyekutukan Allah dengan selain-Nya niscaya ia telah mengada-adakan kebohongan yang besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48)

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Katakanlah (wahai Muhammad), “Wahai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah sesembahan yang kalian sembah dan kalian bukan penyembah Allah yang aku sembah. Aku tidak akan pernah menjadi penyembah sesembahan kalian dan kalian pun tidak pernah pula menjadi penyembah Allah yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun [109]: 1-6)

  1. Keyakinan bahwa singa dapat mengusir roh jahat dan melindungi manusia serta makhluk hidup lainnya. Tari Barongsai disimbolkan dengan singa dan bertujuan menangkal roh jahat dan mendoakan keberuntungan serta keamanan.

Menurut syariat Islam, keyakinan seperti ini adalah keyakinan syirik. Singa tidak mungkin dapat menolak bahaya, apalagi mengusir roh jahat.  Islam mengajarkan bahwa Allah SWT semata yang memiliki kekuasaan mutlak untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Islam memiliki tata cara sendiri dalam menolak bahaya jin jahat.

Semoga dengan adanya peringatan ini, umat Islam menjadi lebih awas, waspada, dan berhati-hati dalam menjaga kemurnian akidah dan ibadahnya. Semoga umat Islam dapat menjauhi, menghindari dan tidak melibatkan dirinya dalam kegiatan apapun yang berkaitan dengan perayaan tahun baru imlek, pemberian angpau, penempelan bait sajak musim semi, festival lampion, tari barongsai dan tradisi-tradisi non-muslim Tionghoa lainnya. Wallahu a’lam. [Fadhlullah/istidlal.org]

share on: