Waspadai Bantuan Dana dari Kaum Munafik!

share on:
Waspadai Bantuan Dana dari Kaum Munafik-istidlal.org

Waspadai Bantuan Dana dari Kaum Munafik! — Tak dimungkiri, support Kaum Anshar kepada Rasulullah dan muhajirin pasca hijrah dari Makkah memang sangat membantu. Basic need kaum muhajirin berupa pangan, sandang dan papan disupport sepenuhnya oleh kaum Anshar. Para muhajirin disatukan dengan keluarga Anshar. Mereka makan dan tinggal bersama, sampai mampu mandiri. Keamanan Muhajirin juga dilindungi karena selain jauh dari wilayah musuh utama yaitu musyrikin Makkah, kaum Anshar juga memiliki kuasa di Madinah. Dengan ini, kaum muhajirin bisa lega setelah sebelumnya ditindas sedemikian rupa selama di Makkah.

Kaum Anshar ikhlas bahkan dengan senang hati memberi bantuan tersebut karena hal itu sudah menjadi komitmen dan baiat mereka. Mereka juga tidak merasa berjasa bahkan mereka bersyukur telah ditakdirkan menjadi anshar (penolong) Rasul-Nya. Jika Allah mau, bisa saja Allah biarkan mereka tetap tuli dari dakwah Nabi, dan memilih kaum lain sebagai penolong Rasul-Nya. Harta mereka milik Allah, sudah sewajarnya saat Rasul dan hamba-hamba-Nya yang beriman membutuhkan, mereka memberikan bantuan.

Sayangnya, rasa ikhlas itu tidak dimiliki oleh seluruh muslimin Madinah. Orang-orang yang aslinya tidak suka dengan Islam tapi terpaksa jadi muslim demi keuntungan pribadi, tidak mampu merasakan keikhlasan ini. Para munafik itu masih menganggap bahwa Rasulullah dan Muhajirin tak lebih dari sekadar pengungsi; kaum terusir yang kebutuhan hariannya harus mereka tanggung saban hari. Muhajirin itu sekelompok pendatang yang jadi beban, tapi anehnya minta dijadikan pemimpin. Kaum munafik seakan berpikir, tanpa bantuan dana dari mereka, Rasulullah dan dakwahnya tidak akan bisa apa-apa.

Artikel terkait: Kebutuhan Umat Kepada Al-Quran Al-Karim

Tak heran jika statemen yang keluar dari dedengkot munafik adalah statemen yang penuh dengan keangkuhan dan rasa berjasa yang tinggi, sebagaimana dilansir oleh ayat 7 surat al-Munafiqun:

هُمُ ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنفِقُوا۟ عَلَىٰ مَنْ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ حَتَّىٰ يَنفَضُّوا۟ ۗ وَلِلَّهِ خَزَآئِنُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ

“Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): ‘Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)’. Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.” (QS. Al-Munafiqun:7)

Seakan mereka yakin bahwa jika dana yang mereka suntikkan dihentikan, muhajirin pasti bubar. Pikir mereka, bukankah orang muhajirin menggantungkan kebutuhannya pada bantuan orang Madinah?

يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَآ إِلَى ٱلْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ ٱلْأَعَزُّ مِنْهَا ٱلْأَذَلَّ ۚ وَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Mereka berkata: ‘Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya’. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. Al-Munafiqun 63:8)

Artikel terkait: Ulama itu Dimuliakan, bukan Dipersekusi dan Dikriminalisasi

Padahal kenyataanya, bantuan dana dari kaum munafik tidaklah sesignifikan kaum Anshar yang ikhlas. Sebagian Muhajirin pun dapat segera mandiri. Abu Bakar Ash- Shiddiq, Utsman Bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf dapat memulihkan ekonominya dalam waktu singkat, bahkan dengan capaian lebih pesat.

Pernyataan Ubay bin Salul di atas menunjukkan cara berifikir yang sangat materialistis. Parameter yang digunakan untuk mengukur eksistensi Rasulullah dan kaum Muhajirin adalah materi. Oleh karenanya, jika mereka membendung sumber materi, niscaya muhajirin pasti akan hancur. Muhajirin akan bubar dari sisi Rasulullah, dan Rasulullah pun akan dapat dengan mudah diusir dari Madinah.

Cara pandang materialistis semacam ini memang menjadi cara pandang umum manusia-manusia yang tak beriman pada yang ghaib. Mereka menghitung dan menyandarkan eksistensi dan keberhasilan pada materi. Apapun itu, hitungannya adalah materi yang diperbandingkan lurus dengan tingkat keberhasilan. Dakwah hanya akan berhasil jika disertai kucuran dana dan fasilitas. Kaum muslimin hanya dapat eksis jika ekonominya di atas rata-rata. Perang akan menang hanya jika senjatanya mutakhir dan kekuatannya berbanding atau lebih besar.

Artikel terkait: Materi Khutbah Jumat: Bersama Wali Allah Memerangi Al-Bathil

Semua memang butuh dana, namun dana bukanlah jaminan keberhasilan dalam segala hal. Eksistensi kaum muslimin bukan semata ditentukan oleh strata ekonomi, tapi ketaatan mereka kepada Ilahi. Ketaatan yang berasal dari iman itulah yang membuat harta menjadi berarti bahkan dengan sedikit harta pun mereka dapat menjaga eksistensi. Tanpa ketaatan mereka justru akan lalai, lemah, dan mudah kalah meski bergelimang kehidupan yang mewah.

Dakwah dan pendidikan juga bukan soal dana dan fasilitas. Keberhasilannya, sekali lagi ditentukan oleh kadar keikhlasan dan ketaatan kepada syariat. Dana dan fasiltas hanyalah sarana untuk meningkatkan kualitas, bukan bahan utama untuk mewujudkan kualitas. Dakwah dan pendidikan yang nihil keikhlasan dan jauh dari syariat tidak akan mampu menyentuh hati umat dan membentuk generasi yang shalih meski gedungnya mewah dan fasilitasnya serba mempermudah. Kajian mp3 seorang ustadz yang ikhlas, bisa jadi lebih mencerahkan daripada video ceramah beresolusi tinggi, tapi kosong dari keikhlasan karena hati menginginkan ketenaran.

Apalagi bicara perang. Dana, senjata, dan jumlah personal memang merupakan sarana penting, tapi bukan satu-satunya penentu kemenangan. Tentu kita tidak lupa dengan orasi Ibnu Rawahah:

وَاللَّهِ يَا قَوْمِ: إِنَّ الَّذِي تَكْرَهُونَ لَلَّذِي خَرَجْتُمْ لَهُ، تَطْلُبُونَ الشَّهَادَةَ وَمَا نُقَاتِلُ الْعَدُوَّ بِعِدَّةٍ، وَلا قُوَّةٍ، وَلا كَثْرَةٍ، مَا نُقَاتِلُهُمْ إِلا بِهَذَا الدِّينِ الَّذِي أَكْرَمَنَا اللَّهُ تَعَالَى بِهِ، فَانْطَلِقُوا فَإِنَّمَا هِيَ إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ، إِمَّا ظُهُورٌ وَإِمَّا شَهَادَةٌ

“Hai pasukan! Hal yang kalian hindari sebenarnya adalah yang kalian cari! Kalian mencari syahid! Dan kita tidak berperang dengan mengandalkan senjata, kekuatan maupun jumlah! Kita memerangi mereka dengan bekal dien ini, yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Majulah karena di depan hanya ada dua hal baik: menang atau mati syahid!”

Lagi-lagi ketaatan menjadi tolok ukur keberhasilan. Kenapa? karena dana, fasilitas, dan senjata tak lebih dari sekadar sebab kauni yang keberhasilannya ditentukan sebab syar’i dan kekuasaan Ilahi. Eksistensi Umat ini ada di tangan Allah, yang mampu mengubah hati objek dakwah juga Allah, jiwa generasi masa depan juga ada di tangan Allah. Dan kemenangan di medan pertempuran, penentunya adalah Allah, arRahman. Cara berpikir semacam ini sulit ‘diinstal‘ ke dalam sistem otak munafik dan manusia tak beriman. Tidak support hingga akhirnya hanya bisa “not responding”.

Artikel terkait: Kalimat Tauhid & Tauhidul Kalimah: Konten Dakwah yang Selalu Dimusuhi

Dari kasus dana suntikan kaum munafik ini, ada beberapa hikmah yang bisa kita dapatkan:

Pertama, hendaknya kita waspada terhadap bantuan dana dari kaum munafik, pihak-pihak yang tidak simpati kepada Islam, atau bahkan dana-dana dari musuh-musuh Islam. Dana-dana semacam itu biasanya adalah dana-dana yang berbuntut syarat yang merugikan Islam. Ada titipan-titipan kepentingan baik eksplisit maupun implisit yang disertakan. Jika pun tanpa syarat, dana-dana semacam itu bersifat adiktif, membuat ketergantungan, yang akhirnya akan digunakan untuk menyetir atau memberi tekanan.

Mereka, para munafikin dan musuh Islam, bukanlah dermawan yang memberi tanpa pamrih. Ada kalkulasi yang dibuat terkait dengan keuntungan materi yang bisa didapatkan dari dana yang dikucurkan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Kita harus berhati-hati. Harta bisa mengubah jiwa dan pemikiran. Jika materialisme telah menjangkit, otak akan berusaha membela diri, mencari cara, alas an, dan argumen agar dana-dana tersebut tetap masuk ke rekening meski harus mengorbankan beberapa prinsip agama yang penting. Tidak sedikit para ulama, dai, kyai, dan aktivis yang akhirnya justru mengkhianati agama dan umatnya, demi dana ini. Dia mengingkari kebenaran demi mengamankan pendapat dan pendapatan. Beberapa orang muslim yang dibiayai Amerika, akhirnya mendakwahkan liberalisme Islam yang menghancurkan Islam dari dalam.

Kedua, bantuan dana dari kaum munafik adalah dana tak ikhlas kosong dari barakah. Dana atau harta terbaik adalah harta yang banyak barokahnya. Keberkahan datang dari keikhlasan dan tujuan yang mulia. Keberkahan membawa maslahat meski jumlahnya tak banyak. Sementara harta, dana, sumbangan, donasi, atau apapun itu, yang tidak ikhlas, akan berkurang nilai berkahnya. Banyak jumlahnya tapi sedikit maslahatnya. Besar dan panjang angkanya dalam rupiah tapi berujung jadi masalah yang bikin susah.

Lebih baik menahan diri dan tidak mudah terpedaya angan-angan penuh ilusi di balik besarnya nominal bantuan dana dari kaum munafik. “Wah, dengan dana sebanyak ini, pasti akan ada banyak maslahat yang bisa diraih”. “Bukankah ini merupakan strategi memanfaatkan dana musuh untuk menyerang mereka?”

Artikel terkait: Sahabat, Generasi yang Menterjemahkan Al-Quran Menjadi Amal Nyata

Waspadalah, prediksi dalam kalimat-kalimat manis tersebut kenyataanya sering meleset bahkan berbalik arah jadi bumerang yang menyerang. Maslahat hanya datang dari sesuatu yang shalih, dari bahan yang shalih dan dari pemikiran yang shalih. Jika “memanfaatkan dana musuh untuk menyerang” sebenarnya hanyalah alasan untuk mendapatkan harta dunia, ini bisa jadi bencana.

Seekor ular bermusuhan dengan seekor kucing. Saat rumah kucing diganggu tikus-tikus, dengan culas si ular menitipkan secawan bisanya kepada kucing. Katanya, bisa itu bisa kucing gunakan untuk meracuni tikus. Kucing berpikir, akan kusimpan bisa ini, dan akan ku gunakan untuk membunuh tikus dan juga melawan ular. Saat ular dan kucing bertengkar, kucing mengoleskan bisa ular ke mulutnya dan malah mati sebelum bertarung.

Poinnya? Harta seringkali jadi senjata efektif bagi musuh Allah. Mereka lihai menggunakannya karena mereka tak punya senjata lain selain materi. Sementara orang beriman, senjata intinya adalah iman dan ketaatan. Mereka kuat karena iman. Saat mereka justru bergantung pada senjata musuh, mereka justru lemah dan akhirnya kalah. Wallahua’lam bishawab. (Mohamad Saitama/istidlal.org)

share on: